DI NEGERI Gemah Ripah Loh Jinawi, hiduplah rakyat yang lihai sekali berbisik. Bukan karena bisikan itu indah, tapi karena, “Ssst! Diam itu emas!” Begitulah mantra sakti yang selalu mereka dawamkan. Istana, dengan segala kemegahannya, tak pernah lelah menyebarkan titah agar rakyatnya membungkam diri. Mereka percaya, semakin sunyi negeri itu, kian kuatlah cengkeraman kekuasaan mereka.
Kepala Desa Heningjaya, dengan kumisnya yang melintir bak akar beringin tua, kerap kali menggelar pertemuan warga. Bukan untuk membahas masalah, tapi untuk mengingatkan: “Bapak-bapak, Ibu-ibu, ingat pesan Bapak Raja kita! Demi keculasan istana…eh, maksud saya, demi ketenteraman istana, mulut harus diberangus! Kebenaran itu hanyalah hiasan, jadi jangan terlalu banyak bicara yang tidak-tidak lho ya.” Matanya yang licik menyapu wajah-wajah lesu di hadapannya, memastikan setiap pesan itu terpaku dan menancap dalam benak mereka.
Seorang ibu di barisan depan, Bu Sari namanya, berbisik pada tetangganya, “Berarti kemarin waktu sumur desa kering, itu cuma hiasan juga ya, Bu?” Tetangganya buru-buru menyikut, “Hus! Jangan kencang-kencang, Bu! Nanti jadi kemalangan!” Bisikan itu menyebar seperti virus yang mewabah, dari satu telinga ke telinga lain, membentuk rantai ketakutan yang tak terlihat.
Maka berdiamlah mereka secara berjamaah. Saat tirani di Istana menari-nari genit dengan kebijakan-kebijakan anehnya, seperti pajak yang naik dua digit yang konon untuk bayar hutang istana, atau penetapan hari libur nasional untuk merayakan ulang tahun anjing piaraan raja, rakyat hanya menghela napas panjang dalam bungkamnya.
“Lihat itu, hak-hak kita diinjak-injak, keadilan pasti dicampakkan!” bisik Pak Guntur, seorang pensiunan guru SMA yang masih punya sedikit nyali. Tapi bisikannya terlalu lemah, kalah oleh suara sirene mobil mewah yang melintas di depannya, membawa para pejabat tinggi yang perutnya buncit dan senyumnya pongah.
“Sudahlah, Pak,” sahut Bu Dewi, istrinya, sambil buru-buru menarik tangannya. “Tutuplah mata, sumbat telinga, biar senyap menyepi. Bukankah damai itu saat tiada kegaduhan?” Bu Dewi, seperti kebanyakan warga lainnya, telah terbiasa membedakan antara damai yang sejati dengan damai semu yang diciptakan oleh ketiadaan suara. Hening.
Suatu hari, terdengar jerit pilu dari pasar. Pedagang kecil diusir paksa karena lahan mereka akan dibangun mal megah milik kerabat raja. Anak-anak kecil menangis ketakutan, barang dagangan berserakan di tanah. “Tuli kan telinga dari jerit yang sedih nan pilu,” gumam Pak RT Subakti sambil pura-pura sibuk scrolling HP-nya. “Butakan mata dari nestapa yang merajalela. Sebab kegaduhan hanyalah milik si pengganggu.” Ia berakting seolah-olah tak melihat penderitaan di depan matanya, wajahnya datar tanpa ekspresi, seperti manekin.
Seorang pemuda bernama Bima, yang masih idealis dan belum terkontaminasi budaya bisik-bisik, mencoba bertanya, “Pak RT, tapi kasihan para pedagang itu! Mereka mau makan apa?” Suaranya sedikit bergetar, melawan keheningan yang mencekam.
Pak RT melirik sinis. “Bima, Bima… Kamu ini masih muda sudah banyak omong. Dengarkan baik-baik, Nak: diam kita? Itu tanda bakti yang meneguhkan kesetiaan kepada istana. Jangan jadi pembangkang!” Ada nada bernuansa intimidasi dalam suaranya, sebuah peringatan yang jelas akan konsekuensi bagi siapa pun yang berani bersuara.
Bima terdiam, namun hatinya mendidih. Ia melihat sekeliling, semua orang menunduk, sibuk dengan urusan masing-masing. Seolah-olah masalah yang terjadi adalah ilusi, bayangan semu yang akan lenyap jika tak dipedulikan. Para pedagang yang diusir, kini duduk teronggok di pinggir jalan, memandangi puing-puing mata pencaharian mereka dengan tatapan kosong dan hampa.
Malam harinya, di balai desa yang remang-remang, Pak Kades Heningjaya kembali berpidato (tentu saja dengan volume suara yang lebih rendah dari biasanya, karena takut mengganggu “kedamaian”). Lampu minyak yang bergoyang menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding, menambah kesan misterius pada suasana. Bau apak kayu lapuk dan sesekali aroma tembakau menguar, bercampur dengan bisik-bisik warga yang mulai gelisah.
Pak Kades, dengan kemeja batik parangnya yang lusuh dan peci miring, sesekali melirik ke arah jendela yang terbuka. Angin malam yang dingin menyelinap masuk, membawa serta suara jangkrik dan, entah mengapa, seperti bisikan-bisikan dari hutan di luar. Wajahnya yang biasanya penuh senyum ramah kini terlihat tegang, kerutan di dahinya semakin dalam. Ia mencoba memulai pidatonya lagi, suaranya sedikit bergetar. “Saudara-saudari sekalian… seperti yang sudah kita alami… akhir-akhir ini…” Ia terdiam, menelan ludah, seolah kata-kata selanjutnya terlalu berat untuk diucapkan.
Beberapa warga saling bertatap pandang, ada yang menghela napas pasrah, ada pula yang menunjukkan raut penasaran bercampur takut. Ibu-ibu memeluk erat anak-anak mereka, sementara para bapak-bapak mengepulkan asap rokok, mencoba menenangkan diri. Semua mata tertuju pada Pak Kades, menunggu kalimat yang tak kunjung terucap. Ketegangan di balai desa semakin pekat, seolah ada sesuatu yang tak kasat mata ikut hadir di antara mereka.
“Saudara-saudaraku sekalian,” katanya, “saya tahu ada sedikit riak-riak di masyarakat. Tapi ingat! Janganlah kau bangunkan naga yang tertidur pulas, jangan goyahkan bahtera kerajaan ini! Diam, adalah jalan pintas menuju stabilitas!” Ia berhenti sejenak, mengamati ekspresi wajah warganya yang datar. “Dan tentang kejahatan itu, ia hanya ilusi kelam… Bukan begitu, Bapak-bapak, Ibu-ibu?”
Para warga mengangguk serentak, beberapa bahkan nyaris tak sadar. Mereka telah begitu lama berbisik, begitu lama menutup mata dan telinga, hingga suara kebenaran terasa asing, bahkan menakutkan. Bagi mereka, ketiadaan suara adalah damai, dan ketiadaan perlawanan adalah stabilitas. Mereka telah berhasil meyakinkan diri bahwa semua nestapa yang menimpa hanyalah bayangan gelap yang akan hilang dengan sendirinya, asalkan mereka tetap diam.
Namun, diam bukanlah obat. Diam adalah racun yang perlahan menggerogoti. Sumur-sumur tak kunjung berair, pajak terus melambung, dan lahan-lahan rakyat tergusur demi proyek-proyek istana, yang konon katanya strategis. Kemiskinan merajalela, penyakit tak terobati, namun tak ada yang berani mengeluh. Bisikan-bisikan ketakutan kian parah, berubah menjadi berbagai gumaman putus asa.
Bima, yang tadinya terdiam, kini tak bisa lagi menahan diri. Ia melihat ibunya menahan lapar, adiknya demam tinggi tanpa obat. Diam tak lagi bisa ditoleransi. Tiba-tiba saja ia berdiri di tengah balai desa, ketika Pak Kades Heningjaya sedang berpidato tentang “kesejahteraan yang akan datang.”
“Cukup!!” seru Bima, suaranya sedikit serak namun tegas. Semua mata tertuju padanya. Pak Kades terkesiap, pidatonya terhenti. “Apakah kita akan terus diam, Pak Kades?” lanjut Bima, keberaniannya tumbuh melihat wajah-wajah terkejut di sekelilingnya. “Apakah kita akan terus percaya bahwa nestapa ini ilusi? Mata kita melihat, telinga kita mendengar, perut kita merasakan! Kapan kita akan berhenti berbisik dan mulai bersuara?”
Keheningan yang mencekam menyelimuti balai desa. Semua mata beralih dari Bima ke Pak Kades, menanti reaksi. Beliau, yang biasanya tenang dan berwibawa, kini tampak gelisah. Bisikan-bisikan mulai terdengar lagi, kali ini bukan bisikan ketakutan, melainkan bisikan keheranan berpadu sedikit asa.
Suara Bima bergaung, memecah kesunyian yang membeku. Akankah suara itu padam, ditelan oleh mantra “diam itu emas” yang meracuni, menjadikan Bima korban berikutnya yang dikubur hidup-hidup oleh ketakutan? Pertarungan yang tak terhindarkan ini bukan hanya antara dia dan benteng ketakutan, melainkan juga antara harapan dan keputusasaan. Apakah benteng kebekuan itu akan runtuh, atau justru suaranya yang akan lebur?
Dinoyo-Malang, 2025
BIODATA
Mochamad Chazienul Ulum, penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.










