“Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari berlari
Hingga hilang pedih perih”
Chorus (AKU, Chairil Anwar)
Belum satu menit saya merekam video musikalisai puisi Binatang Jalang “Aku” dan sedang memasuki bagian chorus, tiba-tiba pintu Bengkel Idiotlogis digedor dengan begitu kerasnya “dor dor dor” tentu saja saya langsung menghentikan sesi rekaman video lewat Smartphone buluk yang saya beli beberapa tahun lalu. Spontan saya berdiri menuju pintu dengan tangan terkepal memendam amarah. Ingin sekali saya menonjok wajah orang yang tak tahu diri ini, menggendor pintu rumah orang dengan keras, tanpa salam dan membabi buta seperti orang gila yang kesurupan. Kemarahan yang saya rasakan sudah mencapai ubun-ubun kepala, sebelum akhirnya saya membuka pintu dan melongok keluar.
Di depan pintu, sudah berdiri seorang pemuda dengan wajah menegang dan rahang keras, rambutnya belah tengah bergelombang terlihat klimis seperti habis diminyak, rapih. Ia memakai kemeja putih dengan kancing kerah bagian atas dibuka, celana panjang berbahan katun hitam, serta mengenakan sepatu pantofel hitam mengkilat. Ia terlihat seperti seorang yang ingin pergi ke pesta dansa. Dia memandang saya. Lebih tepatnya menatap saya dengan tatapan nyala, nanar.
“Perasaan tertekan apa ini?” pikir saya, seperti terintimidasi dengan kehadiran seorang pemuda yang tak memiliki sopan santun itu. Namun demi melihat tatapan itu, akhirnya kemarahan saya berangsur surut, atau lebih tepatnya ciut saat melihat sosok tersebut dengan seksama. Ya sosok tersebut adalah Chairil Anwar, Penyair, Sastrawan kenamaan Indonesia, yang berani mengatai HB Jassin tak ngerti sajak. Tapi oleh Jassin ia tetap dimasukkan sebagai penyair angkatan 45. Dan salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam hidup saya.
Belum selesai keterkejutan dan keterpukauan saya melihat Chairil Anwar di depan kepala mata saya sendiri, Bung Chairil tiba-tiba saja sudah nyelonong masuk ke dalam Bengkel Idiotlogis. Tanpa dipersilakan masuk dan duduk, ia sudah duduk di bangku di ruang tamu yang tak layak disebut ruang tamu. Ia mengangkat kaki kanannya dan ditumpangkan ke atas kaki kirinya, benar-benar sangat congkak kelakuannya. Kemudian ia memberikan isyarat kepada saya dengan meletakkan dua jarinya ke mulut, tanda meminta rokok
Saya segera berlari ke dalam kamar, mengambil Dji Sam Soe sisa kenduri semalam. Saya bergegas melangkah keluar dan memberikan sebungkus Dji Sam Soe kepadanya, dia menerimanya lalu mencukil sedikit bungkus rokok, dan segera dipasangkan ke mulutnya. Lalu saya hidupkan korek api untuk menyulut rokok di mulutnya itu. Dia mengisap tiga kali, lalu bara rokok di ujung batang terbakar sempurna. Asap putih mengepul panjang dari mulutnya, sambil melepas napas kelegaan di dalam dirinya dan napas ketegangan di antara kami.
“Ini wajah bukan untuk ke pesta” katanya pongah. Saya hanya bisa memandanginya tanpa berkedip. Saya masih berdiri terpaku. Sebelum lirikan matanya memberikan tanda mempersilakan saya untuk duduk di dekatnya. Saya mengambil posisi tepat di hadapannya, tak ada penghalang di antara kami, kecuali meja kecil lapuk di depan kami. Kapan lagi saya bisa bertemu orang besar seperti bung Chairil ini. Bisa-bisanya beliau yang salah satu tokoh besar menyejarah, mampir ke bengkel Idiotlogis. Ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk berdiskusi, ngobrol santai dan tanya jawab soal apa saja. Menggali sumur dengan mata air jernih di dalamnya, pikir saya. Kemudian kami mengobrol ngalor-ngidul satu sama lain, mengalir begitu saja tanpa tedheng aling-aling. Suasana kian mencair.
“Bagaimana Bung memandang hidup ini?” kata saya, memulai pertanyaan pertama
“Halus rapuh ini jalinan kenang. Hancur hilang belum dipegang. Terhentak. Kembali di itu-itu saja. Hidup kan banyakan jatuh ke tanah. Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia”
“Nyesek dan nyungsep gitu ya. Lalu dari keperihan-keperihan hidup yang dilalui Bung itu, bukannya Bung masih memiliki rumah untuk pulang? Untuk kembali gitu? Kenapa harus mampir dulu ke sini?”
“Rumahku dari unggun-timbun sajak. Kaca jernih dari luar segala Nampak. Kulari dari gedong lebar halaman. Aku tersesat tak dapat jalan. Kemah kudirikan ketika senja kala. Di pagi terbang entah ke mana. Rumahku dari unggun-timbul sajak. Di sini aku berbini dan beranak. Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang. Aku tidak lagi meraih petang. Biar berleleran kata manis madu. Jika menagih yang satu”
“Lalu hubungan dengan Tuhan? Baik Bung?”
“Kuseru saja dia. Sehingga datang juga. Kami pun bermuka-muka. Seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada. Segala daya memadamkannya. Ini ruang. Gelanggang kami berperang. Binasa-membinasa. Satu menista lain gila”
“Subhanallah, oke bung urusan ibadah memang urusan nafsi-nafsi, hanya kita dan Tuhan yang tahu. Lalu bagi Bung sendiri arti kemerdekaan itu apa si?”
“Kemerdekaan dan pertanggung jawab adalah harga manusia, harga penghidupan ini. Dan apa saja pun tidak akan membikin kita rela menekan diri sendiri lagi….”
“Pesan buat para pemuda atau harapan ke depannya untuk Indonesia apa Bung?”
“Tanganmu nanti tegang kaku. Jantungmu nanti berdebar berhenti. Tubuhmu nanti mengeras batu. Tapi kami sederas mengganti. Terus memahat ini tugu. Kawan-kawan. Dan kita bangkit dengan kesadaran. Mencuci menerangkan hingga belulang. Kawan, kawan. Kita mengayun pedang ke dunia terang!”
“Pesan dan harapan kepada Indonesia untuk dunia, apa Bung?”
“Hopplaa! Melompat lah! Nyalakan api murni, api persaudaraan bangsa-bangsa yang tidak akan kunjung padam. Hopplaa! Mari kawan-kawan seangkatan, kita pahat tugu pualam Indonesia sempurna. Dunia sempurna.”
“Ok, masalah kemerdekaan sudah. Oh ya Bung kan dekat dengan banyak perempuan. Bagaimana pandangan Bung perihal perempuan itu?”
“Begitulah perempuan! Hanya suatu garis kabur bisa dituliskan. Dengan pelarian kebuntuan senyuman”
“Rumit, lalu mengapa mereka juga mudah terharu bung?”
“Sebab perempuan susah mengatasi keterharuan penghidupan yang kan dibawakan padanya…..”
“Apakah itu pasti?
“Lagi siapa bisa mengatakan pasti”
“Lantas bagaimana Bung?”
“Lantas bagaimana? Pada daun gugur tanya sendiri. Dan sama lagu melembut jadi melodi. Ah! Jawab sendiri! – Aku terus gelandangan”
“Sebentar-sebentar, Bung mau jadi gelandangan?”
“Bukan maksudku mau berbagi nasib. Nasib adalah kesunyian masing-masing”
“Lalu bagaimana Bung mencintai seseorang?”
“Kupilih kau dari yang banyak, tapi sebentar kita sudah dalam sepi terjaring. Aku pernah ingin benar padamu. Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali.”
“Lalu?”
“Kita berpelukan ciuman tidak jemu. Rasa tak sanggup kau kulepaskan”
“Lalu bung jadian, lamaran, lalu menikah?”
“Jangan satukan hidupmu dengan hidupku. Aku memang tidak bisa lama bersama. Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama”
“Kok jadi sedih Bung?”
“Kita goyah lemah. Sekali tetak tentu rebah. Segala erang dan jeritan. Kita pendam dalam keseharian. Mari berdiri merentak. Diri-sekeliling kita bentak. Ini malam bulan akan menembus awan”
“Mantap Bung. Oh iya Bung terakhir, menurut Bung, menulis yang baik itu bagaimana?”
“Lebih baik tidak menulis daripada memperkosa kebenaran, kemajuan.”
Banyumas, 2022-2025
BIODATA
Juli Prasetya adalah seorang penulis asal Banyumas. Menulis puisi, cerpen, esai. Bergiat di Komunitas Jam Kosong dan sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung. FB : Juli Prasetya Alkamzy.













