SANG UMBU LANDU PARANGGI
Padang padang anganan hanya memberi lamunan.
Waktu bergantung di ujung jari
Kemana arah hendak kau tunjuk; cari untuk dilewati.
Berkelana arungi badai kehidupan
Yang suatu waktu kau temukan diri
Berdiri memandang luas cakrawala.
Jadi jadilah petualang penunggang angin
Melaspas lepas pas waktu lengang
Berdentang anganan membangun bangun harapan
Memainkan nyanyian tarian berhasrat kayangan.
Rang penunggu karang
Rangtua pengasah tajam mata pena anak tualang
Bermantra mantra perjalanan tenang keharibaan
Di tanah Sang Hyang mata terpejam
Bernisan nisan gambar doa kebanggaan.
DIALOG SUNYI
Dalam setiap pertemuan
ada berapa percakapan
sudah dinyanyikan
Sementara
pengulangan demi pengulangan
hanya menjadi dengung
malam mencekam.
Dalam bahasa apa lagi kita bicara
keheningan yang luas
sudah memberi ruang
tapi setiap tarikan nafas
sudah terjebak
pada setiap tatapan tajam
Yang tidak bisa ditundukkan.
Dalam percakapan hening
ada bagian irama takdir
menjadi nasib lahir
dilewati tanpa khawatir.
INI TENTANG IMAN DAN CINTA
Memilihmu adalah cinta
Air dari hulu memilih jatuh
Ia membuat jalannya sendiri
Sampai menemukan suaranya berakhir.
Apapun gema cinta itu
begitu jatuh di kulitmu
biar ia meresap:
milikmu atau bukan
cinta merakit takdir
menuju cakrawala.
Ada kenyataan cinta
serupa simpul yang bekerja di balik kerongkongan.
mata-mata hanya memandang
lalu menelan nikmatnya saja
tanpa mencari
seperti kau menerima hujan
lalu membaginya pada tanah kering.
Senyum adalah pintu melepas dan menerima cahaya yang manis menerobos
di mana pahitnya meleleh menjadi uap
persis jamu warisan purba
menghadirkan kekuatan dari dasar mimpi.
kau - aku seperti sunyi
kepada senyap
seperti kelam
pada malam
diam
diam
dan diam
Kerlip cahaya
kunang-kunang
laksana pusat tata surya.
hanya desah
selirih angin
malu-malu
meluapkan
rasa.
hitam putih
rasaku padamu
ketika merah
kuning
hijau semesta
membirukan hasratmu
rintik melenakan
symponi yang menghanyutkan
meluap elegi
begitu waktu
begitu saja
tanpa berbalik
masa depan kenangan
menyatu
bersama
serpih daun
membumi.
SEMACAM KATARSIS
dalam kerasnya panggung
hidup itu harus memainkan seluruh peran
menjadi pagi siang senja yang tak pernah takut
pada cuaca gelap mencekam.
di atas panggung peran harus dikunyah
mendengar diri sendiri
mendengarkan rasa perih
pedih bicara
penuh amarah
gila
tertawa
seperti tak terjadi apa apa
menjadi badut
tepuk tangan
ssssss
sssss
sss
se
pi.
KAYU DAN POHON YANG DIBAKAR WARNA
Kayu dan pohon
yang kau bakar oleh warna
menjadi wajah sepi
yang menepi menerima nasib.
Tak pernah kau sebut sebagai
persamaan takdir
Tapi nasib perjalanan
membawa lupa telah lelap
bersama gelap.
Seperti bagaimana
kau menyebut
nama ibu setelah
Kau membakar
dengan bibir
and ibu diam diam
melihat cermin masa lalu
menghapus dengan wajahmu
saat dalam gendongan.
Betapa fitrah
Ia mengambil air
yang menggenang
dalam kenangan
membasuhnya agar tak ada
sisa air matanya tampak
dan biasa saja mengering
ke dalam batin.
Bagaimana kamu bernostalgia
dengan kata kata indah
seakan kau menjaga
hingga kau tampak terlihat
cantik dengan kesempurnaan
yang kau inginkan.
Seperti tak ada
wajah yang terlihat berminyak
di bawah langit
mengenakan tabir surya
sedemikian rupa.
Berkali kali manusia
menerima matahari
tapi punggung tak ingin
terbebani
sengitnya
sengatan.
Untuk menutup
bongkahan congkak
kepongahan
mulut manis
fasih
bersihkan diri
mengutip kata kata suci
dari puisi
serat terlontar
yang kau sebut kitab suci.
Dan kau merdeka
membungkus diri
Kayu dan pohon
yang kau bakar oleh warna
menjadi wajah sepi.
Jangan memandang
wajah matahari
agar tak perih matamu
merayakan kepergian
lalu menepi
menerima perih
nasib. sendiri.
Biodata
Kardanis Mudawi Jaya. Lahir di Karangasem, Bali, 1974. Buku puisinya berjudul Kalimah (2013) dan Belajar Mengaji Pada Ibu (2025). Selain menulis puisi, ia juga menekuni teater.
985













