BADUNG, Balipolitika.com- Selamat datang di Bali, di mana toleransi bersemi sejak ratusan tahun lalu. Sejarah Kelurahan Tuban di Kuta, Badung, sangat unik. Kelurahan ini menjadi titik pertemuan budaya yang menarik. Lokasinya sangat strategis, bersebelahan dengan Bandara Internasional Ngurah Rai.
Kisah ini dimulai pada tahun 1669 di pelabuhan Tuban. Komunitas pedagang Bugis tiba di pelabuhan saat berdagang. Mereka meninggalkan kampung halaman karena perang melawan VOC. Perjalanan mereka membawa rombongan ini ke Bali.
Raja Badung saat itu melihat kedatangan mereka. Raja Badung memberikan perlindungan dan tempat tinggal. Raja Badung menghargai kemampuan dagang mereka. Ia juga mengagumi keberanian yang mereka tunjukkan. Orang Bugis diizinkan menetap dan membentuk komunitas.
Inilah awal mula komunitas Muslim di Tuban. Hubungan harmonis terjalin sejak saat itu. Toleransi antarumat beragama sudah ada ratusan tahun. Kelurahan Tuban menjadi simbol kebersamaan abadi.
Tradisi Unik Siat Api
Kelurahan Tuban terkenal karena tradisi yang unik. Tradisi itu disebut Siat Api (perang api). Ini adalah perang yang menggunakan sabut kelapa yang dibakar. Tradisi ini dilakukan saat upacara keagamaan Hindu. Khususnya saat piodalan (perayaan) di Pura Dalem Kahyangan.
Meskipun modernisasi pesat terjadi. Mata pencaharian utama penduduk masih tradisional. Banyak penduduk setempat berprofesi sebagai nelayan. Sebagian lain masih aktif sebagai petani. Area sekitar Desa Adat Kelan menjadi pusat aktivitas ini.
Kelurahan Tuban merupakan bagian dari Kecamatan Kuta. Kawasan ini telah menjadi area penting pariwisata Bali. Letaknya yang bersebelahan dengan bandara membuatnya vital. Wisatawan pertama kali menginjakkan kaki di dekat Tuban.
Sejarah Kelurahan Tuban adalah cerminan Bali seutuhnya. Ia berhasil memadukan sejarah kuno dengan modernisasi pesat. Ia menjaga tradisi sakral Hindu dan toleransi umat beragama. Kelurahan Tuban adalah destinasi yang menawarkan kisah mendalam. (BP/CHA).













