/1/
Banjir belum juga surut. Rapikah mengangkat koper-kopernya ke tempat yang lebih tinggi. Berjaga-jaga jika air kiriman dari hulu datang dan sungai meluap. Koper-koper itu harta karun yang tak boleh basah apalagi hanyut dibawa air. Satu koper berisi baju, tak terlalu Rapikah pikirkan. Koper lainnya berisi buku-buku, ada novel, puisi, cerpen, dan yang paling istimewa buku hariannya. Semua sampul buku harian itu dari koran bekas. Pada pojok kanan bawah setiap buku itu ada potongan huruf dari koran dan majalah. Pi, panggilan kecil Rapikah, dan angka yang berbeda-beda, dari satu hingga delapan. Angka-angka itu menandakan urutan buku harian Rapikah. Ia sudah mulai menulis segala yang terjadi di buku harian sejak kelas lima SD.
Seperti sekarang, ia baru saja menulis di buku hariannya. Rapikah sudah tiga hari kembali ke kota kelahirannya; ia diterima honorer di sekolah inklusi. Besok hari pertamanya bekerja –meski terancam gagal karena hujan terus turun. Ibunya sudah mewanti-wanti agar mereka mengungsi ke tempat kerabat di tempat yang lebih tinggi. Namun, semua tahu, tak akan ada bedanya jika air dari hulu, hujan yang terus menerus bertemu dengan pasang air laut. Daerah muara dan sekitarnya akan dipenuhi air. Sungai-sungai yang sudah dangkal itu tak akan sanggup menampung debit air.
Di lubuk hatinya, Rapikah sedikit bersyukur. Ia sesungguhnya belum siap mengajar, terlebih di sekolah inklusi. Ia terpaksa kuliah guru karena kemauan ibunya –juga terpaksa pulang ke kota kelahirannya. Sebenarnya ada tawaran bekerja di bank, tapi ibunya memaksa Rapikah untuk pulang.
“Tak perlu gaji besar, kerja di sini saja yang penting kumpul sama ayah, ibu dan adik-adikmu,” kata ibunya dari sambungan telepon.
Dan jadilah Rapikah sekarang di sini, merenungi hujan dan hidupnya. Berbulan-bulan yang lalu, setelah wisuda, ia berhasil menunda kepulangan dengan harapan menemukan pekerjaan setidaknya sebagai guru di sekolah swasta dengan gaji besar. Tapi, tak ada lowongan selain di bank.
“Kamu itu kuliah guru, ya jadi guru. Bukan malah mau kerja di bank.”
Rapikah hanya bisa menghela napas mengingat itu. Ia masih berharap banjir datang, dan pekerjaannya akan tertunda, setidaknya untuk sesaat.
/2/
Hari ini tercatat delapan belas siswa yang masuk. Ada satu orang yang tak masuk sejak seminggu. Banjir besar melumpuhkan kota. Rapikah mengawali hari pertamanya bekerja bukan dengan mengajar, tapi membersihkan sekolah dari lumpur dan sampah.
Rapikah sudah mulai melupakan keengganannya mengajar. Ia lebih was-was jika ada anak yang tak masuk dan rumahnya masih terdampak banjir, atau jika ada anak yang sakit. Ia tak bisa menutup mata pada kondisi anak-anak. Mereka istimewa, berkebutuhan khusus dan harus menghadapi banjir besar yang terakhir terjadi tiga puluh tahun silam.
Kebanyakan dari anak-anak itu tidak berekspresi, tidak bersuara, wajah mereka datar.
Seorang dari mereka bertanya dalam bahasa isyarat, “Kalau hujan deras datang dan kami lagi tidur, apa kami akan tenggelam, Bu?”
Rapikah membalas dalam bahasa isyarat, “Hujan itu air yang jatuh dari langit, berkah dari Allah SWT. Tetap semangat dan terus berdoa, kalau banjir datang lagi, Allah pasti melindungi kita.”
Anak-anak itu memberi isyarat kalau mereka mengerti dan akan berdoa memohon perlindungan Allah.
Rapikah mencatat semuanya ke dalam buku harian.
/3/
Waktu berjalan, hari berganti minggu, minggu menuju bulan, bulan mengambil alih waktu pelan-pelan. Rapikah mulai menerima semua. Benar kata ibunya, gaji sedikit yang penting kumpul. Sekarang bukan hanya tak berpisah jauh dari keluarganya, ia juga menemukan keluarga baru, para siswanya.
Ketika masuk bulan November, Rapikah membeli beberapa poster huruf latin, angka, gambar flora-fauna, dan huruf hijaiah. Anak-anak itu antusias, girang bukan main. Ada banyak gambar yang terus mereka perhatikan lekat-lekat. Rapikah, disibukkan dengan beragam pertanyaan. Gajah itu apa, harimau itu jahat atau tidak, mengapa mawar dan melati semuanya indah, bagaimana suara burung kutilang, apakah burung kutilang dan burung-burung lainnya itu bersiul?
Semua poster yang ditempel Rapikah di dinding sekolah dilahap para siswanya, sebentar saja mereka sudah memahami apa yang diajarkan.
“Bu, kalau yang ini gambar apa?” tanya seorang anak, menunjuk poster huruf Hijaiah.
“Itu huruf Hijaiah, kita menggunakannya saat mengaji.”
“Apa itu mengaji, Bu?” Anak yang lain bertanya.
Hati Rapikah tersentak. Ia baru menyadari sesuatu. “Mengaji itu kita membaca Al-Qur’an.”
Anak-anak yang lain mendekat. Pi dengan perlahan menjelaskan tentang Al-Qur’an dan mengaji.
“Ajari saya mengaji, Bu,” pinta anak pertama yang bertanya.
“Saya juga mau, Bu.”
“Bu, saya juga.”
“Saya.”
“Saya.”
Seperti hari-hari sebelumnya, Rapikah menuangkan semua kisah itu ke dalam buku harian.
/4/
“Mengaji? Tidak ada yang mau dan bisa mengajari anak-anak mengaji. Selama ini, sekolah juga sudah cukup kesulitan mencari pendamping dan guru untuk anak-anak. Kita memang kekurangan tenaga pendidik. Kami bersyukur sewaktu kamu mendaftar, dan tanpa berpikir panjang, melihat background pendidikan kamu dari kampus ternama di kota pelajar saja sudah cukup. Tenaga lebih dibutuhkan di kota ini, sekolah inklusi masih sangat sedikit. Sekolah umum pun tidak semua mampu melaksanakan pendidikan inklusif.”
Rapikah termenung sejenak mendengar penjelasan Kepala Sekolah Fauziah.
“Anak-anak butuh pendidikan agama, Bu. Bolehkah saya mengajari mereka mengaji?”
“Boleh saja. Tapi ….” Kata-kata Bu Fauziah menggantung.
“Ada apa, Bu?” Rapikah mengernyit, mengira ada birokrasi rumit yang harus ia penuhi.
“Tidak apa-apa, hanya saja, jangan semua anak kamu ajari mengaji,”
“Loh, kenapa Bu? Saya siap mengajari semua anak, tidak hanya teman tuli. Anak-anak disabilitas yang lain saya juga siap mengajari mereka tanpa terkecuali. Semua anak harus mendapat kesempatan yang sama, Bu.”
Bu Fauziah tertawa kecil melihat semangat berapi-api itu.
Rapikah semakin bingung, mengapa malah ia ditertawakan. Apa niatnya mengajar ini salah dan mengganggu stabilitas yang selama ini berlangsung?
Melihat gelagat itu, Bu Fauziah segera meluruskan, “Tidak ada masalah, Bu. Hanya saja, Bu Rapikah tidak bisa mengajari semua anak mengaji, sebab ada satu anak yang Katolik, satu anak lagi beragama Hindu.”
Rapikah tersentak, menyandarkan tubuhnya ke kursi. Bu Fauziah tersenyum kecil. Muka Rapikah memerah menahan malu. Ia terlalu bersemangat dan terburu-buru.
“Bu Rapikah bisa mulai kapan saja, tapi ingat pesan saya yang tadi,” ucap Bu Fauziah dengan senyum meneduhkan.
Guru muda itu mengangguk, dan segera ke meja kerjanya. Mengambil buku harian … dan mulai menulis.
/5/
Rapikah berdiri di dekat papan tulis dengan spidol hitam di tangan. Tujuh belas anak duduk membentuk huruf U. Mereka menunggu kelas dimulai seperti biasa. Hanya saja, Pi sedang dilanda kebimbangan.
Tadi malam, kawan lamanya mengirim pesan.
Ada lowongan di bank tempat kawannya itu bekerja.
“Gimana ini, Bu? Lowongan itu langsung karyawan tetap?” tanya Rapikah pada ibunya.
“Terserah kamu saja, yang penting nyaman,” jawab sang Ibu.
Rapikah berharap ibunya akan memaksanya lagi untuk terus jadi guru. Tapi, kali ini entah dapat pencerahan dari mana sang ibu justru memberi kebebasan.
“Gajinya berapa?” Ibunya bertanya. Pertanyaan itu membuat Rapikah semakin bingung.
Seolah mengerti isi hati anaknya, sang Ibu malah tertawa terbahak-bahak.
“Kamu itu ya, kalau milih harus yakin. Jangan bimbang karena yang satu terlihat lebih baik,” nasihat sang Ibu.
Rapikah sebenarnya tahu maksud kalimat itu. Tapi, ia justru semakin bimbang. Gaji yang ditawarkan bank lumayan besar. Sampai pagi tiba dan berada di kelas, di depan murid-muridnya, ia belum juga bisa memastikan. Panggilan wawancara masih jam sepuluh. Rapikah masih sempat pergi ke sana selesai mengajar. Berbagai rencana berputar di kepalanya. Ia mungkin akan membagi waktu antara bekerja di bank dan mengajar.
Semua terasa hening, tanpa suara, hanya gerakan isyarat. Mereka bertanya, ada apa dengan Bu Rapikah yang diam saja seperti patung.
“Hari ini kita jadi belajar mengaji, Bu?” Seorang anak bertanya dalam bahasa isyarat.
Pertanyaan itu.
Mengaji.
Kata itu mengingatkan Rapikah ada tujuannya saat meminta izin pada Bu Fauziah.
Ia ingin anak-anak ini bisa mengaji.
Detik berikutnya, perempuan itu telah memutuskan. Ia memandang wajah-wajah kecil di hadapannya. Telepon genggam di dalam tasnya bergetar. Itu kawannya yang mengingatkan panggilan wawancara. Ia mematikan panggilan itu.
Tangan Rapikah bergerak perlahan, bibir yang berkomat-kamit nyaris tak bersuara, dan napas yang terasa lebih pelan dari sebelumnya.
“Hari ini kita akan mulai belajar mengaji ya,” seru Rapikah pada anak-anak.
Rapikah menulis beberapa huruf Hijaiah di papan tulis: Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim.
Ia kemudian mengangkat tangan, memberi isyarat yang sudah disepakati bersama.
Jempol tegak lurus ke atas.
Telunjuk lurus ke atas.
Telunjuk dan jari tengah lurus ke atas.
Telunjuk, jari tengah dan jari manis lurus ke atas
Kelima jari membentuk posisi seperti huruf C, tetapi posisi jempol tidak terbuka, melainkan ditekuk dan merapat ke bagian telapak tangan.
Anak-anak mengikuti gerakan itu, sebagian masih terbata-bata, sisanya sudah melakukannya dengan mantap.
Lalu, Rapikah menunjuk huruf di papan tulis, dari Alif hingga Jim, sembari menunjuk ke bibirnya sendiri. Ia membuat suara yang tak pernah terdengar oleh anak-anak. Ucapan Pi memang hening, akan tetapi gerakan bibirnya sangat jelas.
Beberapa anak sudah mampu menirukan. Beberapa lagi masih kesulitan, tapi terus mencoba. Rayhan, seorang anak di barisan tengah. Bibirnya bergerak sangat kaku. Matanya menatap, seolah bertanya apakah dirinya sudah membaca dengan benar.
Rapikah tersenyum, mengangguk pelan. Ia mendekat pada Rayhan dan mengulangi lagi Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim … dengan gerakan tangan … dengan gerakan bibir, memberi contoh sekali lagi. Rayhan mengikutinya, kali ini lebih baik dari sebelumnya. Rapikah langsung mengangkat kedua jempolnya, dan raut wajah Rayhan terlihat sangat bahagia.
Begitu seterusnya, jika ada anak yang masih terbata-bata, Rapikah akan mengajari mereka pelan-pelan. Hari-hari berikutnya, antusias kelompok kecil itu tidak berkurang. Pintu ruangan sengaja dibiarkan terbuka lebar, para orang tua menyaksikan dari sana –beberapa dari jendela di samping ruangan. Mata mereka berkaca-kaca menyaksikan anak-anak mereka, di dalam ruangan kecil itu, belajar mengaji.
Hari-hari berikutnya, huruf-huruf lain terus dipelajari. Kha, Kho, Dal, Dzal, Ra …. Rapikah mencoba menggabungkan bahasa isyarat dengan ekspresi wajah, gabungan kedua hal itu seolah menciptakan sebuah tarian sunyi penuh makna. Ketika mulai belajar ke rangkaian surat pendek, anak-anak tidak serta merta berhasil. Kadang mereka lupa. Kadang tertukar. Kadang ada yang kelelahan, merasa frustasi, tiba-tiba menunduk, dari wajah anak-anak itu tergambar rasa takut dan malu karena dianggap tidak bisa. Rapikah dengan sabar membimbing mereka, mengulang setiap isyarat dan gerakan. Selalu tersenyum, tidak menghakimi dan mengajak anak-anak untuk saling menguatkan dan membantu satu sama lain.
Setiap selesai membaca satu surat, mereka semua saling mengangkat kedua jempol, lalu mengangkat kedua tangan dan menggoyangkan telapak tangan bersamaan. Tepuk tangan itu, meski tanpa suara, sangat berarti sebagai bentuk apresiasi.
Rayhan melihat gurunya menulis di buku tebal setelah mereka selesai.
Rapikah memberi muridnya itu sebuah buku, dan Rayhan mulai menulis seperti guru kesayangannya.
/6/
Rapikah, Bu Fauziah dan para guru yang lain tengah sibuk mempersiapkan acara Batamat (khatam) Al-Qur’an. Para orang tua juga turut membantu menghias ruangan, merangkai payung bunga, membuat kue-kue tradisional untuk suguhan para tamu. Di tengah ruangan telah tersedia ketan berbentuk gunungan, pada bagian lereng gunungan itu dikelilingi telur pindang. Di sekitar telur pindang terdapat hiasan bendera kertas dengan batang bambu yang ditancapkan. Sementara itu di puncak gunungan diletakkan semacam campuran kelapa parut dan gula merah. Orang lokal biasa menyebutnya: inti.
Tujuh belas anak duduk berbaris dalam satu saf. Di belakang masing-masing anak terdapat payung yang terbuat dari berbagai macam bunga, seperti kenanga, melati, mawar dan kacapiring. Payung bunga itu akan memayungi anak-anak hingga prosesi acara Batamat selesai.
Rapikah mulai membacakan surat al-Fatihah. Tanpa suara, tetap dengan isyarat dan gerakan bibir. Kemudian secara bergantian Rayhan dan anak-anak yang lain membaca mulai surat ad-Dhuha (QS:93) hingga surat an-Naas (QS:114). Setiap bagian akhir dari surat-surat itu mereka baca bersama-sama. Gerakan bibir dan tangan dari anak-anak itu, sejak begantian membaca surat dan seterusnya saat bersama-sama membuat harmonisasi gerakan, seolah semuanya –di bawah payung bunga, sedang memainkan tarian kontemporer. Mereka tampak seperti pangeran dan putri kerajaan di atas panggung megah.
“Ayo bagikan telur pindangnya,” ucap Bu Fauziah saat pembacaan sampai pada awal surat al-Fiil (QS:105).
Senyum mengembang di wajah anak-anak. Sedari tadi, telur pindang buatan Rapikah sudah mereka nanti. Rasanya tiada dua. Rapikah pernah membuatkan mereka satu kali. Semua ketagihan, dan Rapikah berjanji nanti di acara Batamat akan ada telur pindang lagi, lengkap dengan kue cucur dan cincin. Anak-anak juga suka kedua kue tradisional itu.
Tak lama, giliran wajah para guru dan orang tua yang diliputi rasa haru. Anak-anak selesai mengaji: 30 juz. Rapikah menutup prosesi itu dengan membaca surat al-Baqarah (QS: 2) dan doa khatam Alquran.
“Alhamdullilah.” Rapikah dan para teman tuli mengucapkannya dalam bahasa isyarat. Semua yang ada di sana juga tanpa sadar mengikuti isyarat itu.
Rapikah, Rayhan dan beberapa anak menulis kisah Batamat ke dalam buku harian mereka.
/7/
Rayhan menatap ke kejauhan. Sudah sejak tadi beberapa orang lalu-lalang memakai baju rapi, lengkap dengan peci dan sarung. Terkadang Rayhan mencium bau wangi semerbak.
“Kamu sedang lihat apa?” tanya Zulfikar dalam bahasa isyarat.
“Coba kamu lihat di jalan, banyak yang berbaju rapi, pakai sarung,” sahut Rayhan.
“Ini hari Jumat. Setiap Jumat begitu. Aku sudah biasa melihatnya. Mungkin mereka mau jalan-jalan,” jelas Zulfikar. Biasanya memang Zulfikar yang boleh bermain di luar karena menyelesaikan tugasnya lebih cepat. Baru kali ini Rayhan bisa selesai lebih dulu.
“Jalan-jalan?” Mata Rayhan berbinar. Ia suka sekali jalan-jalan.
“Kita minta Ibu Guru buat jalan-jalan, ya?” usul Zulfikar.
Rayhan mengangguk setuju.
Keduanya mendatangi Rapikah di dalam ruangan kelas. Anak-anak yang lain baru saja menyelesaikan tugasnya.
“Ibu, kami ingin jalan-jalan seperti orang-orang yang wangi itu,” pinta Rayhan.
“Wangi?”
“Iya, Bu. Mereka juga pakai sarung, penutup kepala dan baju yang rapi. Saya juga mau begitu, seperti waktu acara Batamat dulu.”
Mendengar penjelasan Rayhan barulah Rapikah mengerti. Rayhan dan Zulfikar melihat orang-orang sedang pergi ke masjid untuk salat Jumat.
“Mereka itu pergi untuk salat Jumat.”
“Apa itu, Bu?”
Rapikah menghela napas dalam-dalam. Ia memang belum mengajari anak-anak ini salat. Mungkin, sekaranglah waktu yang tepat. Mulailah Rapikah mengajarkan rukun salat.
Jumat berikutnya, Rapikah mengajak anak laki-laki ke masjid. Mereka duduk di teras.
Rapikah dengan sabar menyampaikan khotbah Jumat dari Khotib dengan bahasa isyarat.
Rayhan menulis dalam buku hariannya: hari ini pertama kali kami ikut salat Jumat, rasanya indah sekali ….
/8/
Layar di telepon genggam Rapikah menunjukkan ada panggilan video. Dari nomor tak dikenal. Sebenarnya Rapikah takut kalau telepon itu dari penipu atau semacamnya.
“Bismillah,” serunya yakin.
Di seberang sana, seorang anak perempuan menyapa Rapikah dalam bahasa isyarat.
“Hallo. Selamat pagi. Nama saya Azizah. Apa betul ini nomor Ibu Rapikah?”
“Hallo. Selamat pagi. Salam kenal Azizah. Iya nak, ini Ibu Rapikah. Ada yang bisa ibu bantu?”
“Saya ingin belajar mengaji, Bu.”
“Subhanallah.”
“Saya boleh belajar mengaji di tempat, Ibu?” tanya Azizah penuh harap.
“Boleh. Boleh sekali, nak,” jawab Rapikah antusias.
“Besok saya ke sana ya, Bu.”
“Boleh. Kamu tahu tempat ibu di mana, Bu?”
“Saya tahu, Bu.”
“Baik. Besok ibu tunggu ya. Sampai jumpa.”
“Terima kasih, Bu.”
Azizah datang setiap dua hari sekali. Ia belajar mengaji dengan sangat serius.
Hanya satu minggu, Azizah sudah bisa membaca surat al-Fatihah.
Setelah hari itu, Rapikah tidak pernah melihatnya lagi. Ia terus mencari Azizah, bertanya ke semua orang.
Dalam keputusasaan, Rapikah mendapat panggilan video dari nomor baru.
Rapikah melihat Azizah di seberang sana tersenyum manis sekali, dan kemudian berbicara dalam bahasa isyarat.
“Maaf ya, Bu. HP ibu panti rusak. Azizah tidak bisa ngasih kabar. Makasih ibu udah ajarin Azizah mengaji. Sekarang, Azizah ada di kuburan Ayah dan Bunda. Azizah sudah bisa kirim al-Fatihah untuk Ayah dan Bunda. Alhamdulillah ya, Bu.”
***
Hari ini seorang anak mengirim Al-Fatihah kepada kedua orang tuanya. Anak itu melakukannya dengan bahasa isyarat. Ternyata bukan aku yang mengajari mereka mengaji. Mereka yang mengajariku bahwa belajar adalah ibadah yang tak pernah selesai.
Rapikah menutup buku hariannya.
Banjarmasin, Juli 2026
TARIAN SUNYI bersumber dari kisah nyata yang ditemukan Budi Dayak Kurniawan.
BIODATA
JH. Tanujaya adalah nama pena dari Lorensius, penulis kelahiran Banjarmasin. Ia pernah belajar menulis secara khusus pada Anang YB dan almarhum Yusran Pare. Pada 2008, membidani pelaksanaan Pekan Olimpiade Komputer se-Kalimantan Selatan, dan terus mengawal pelaksanaan event tersebut hingga tahun 2018. Tahun 2011 bersama Kristianus Lukman dan Maulida Arianti mendirikan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Jelaga STMIK Indonesia Banjarmasin. Setelahnya turun aktif dalam Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Banjarmasin. Kini tergabung bersama Kindai Seni Kreatif Banjarbaru, Arkalitera dan Riam Sastra Murobbi Martapura. Esai, opini, dan puisinya pernah dimuat di Banjarmasin Post, mirifica.net, sesawi.net, katoliknews.com, arkalitera.id, dan kompas.id. Puisi, memoar, pantun, fiksi mini dan cerpennya termuat dalam belasan antologi termasuk pada Antologi Penyair ASKS 2024 dan 2025 serta pada Antologi Puisi Bahasa Bakumpai ASKS XXII Tahun 2025. Telah menerbitkan tiga kumpulan puisi tunggal: Gadis di Rembang Petang (2017), Doa Seorang Koruptor (2019), dan Konserto Sudut Pandang (2025). Dapat dihubungi melalui instagram @jhtanujaya.













