JAKARTA, Balipolitika.com- Wasit asal Korea Selatan, Ko Hyung-jin, mengusir gelandang Thom Haye. Pengadil bertindak tegas usai mengecek layar monitor VAR pada menit ke-37.
Dasar sanksi merujuk Law 12 IFAB terkait pelanggaran serius. Keputusan itu memicu perdebatan panas. Banyak pihak langsung menuding sang gelandang Persib Bandung sebagai biang kerok kegagalan poin penuh.
Ruang ganti sempat memanas. Sebaliknya, analisis berbeda disuarakan pengamat sepak bola nasional, Ibam Hariri. Ia menilai sang pemain tidak layak disalahkan sepihak atas insiden kartu merah.
“Secara fungsi Haye bukan pemain perebut bola,” tegas Ibam.
Ada kekeliruan skema bermain. Pelatih John Herdman justru mendorong posisi Haye terlalu jauh ke depan.
Ia dipaksa mendampingi Ole Romeny. Taktik tersebut cuma efektif sepuluh menit. Selebihnya, koordinasi antarlini terlihat buyar berantakan. Celah terbuka lebar di lapangan tengah. Lawan leluasa menguasai medan.
“Ada yang salah dengan sistem,” imbuh Ibam menyoroti kelemahan taktik tersebut.
Akibatnya fatal bagi pertahanan. Haye terpaksa berhadapan satu lawan satu menghentikan pergerakan lincah Arif Aiman. Duel timpang pun tersaji.
Aiman unggul kecepatan lari. Dengan demikian, Haye keteteran meredam akselerasi motor serangan tim Harimau Malaya. Pelanggaran ceroboh akhirnya tak terhindarkan saat lawan melakukan serangan balik kilat.
Pelanggaran berujung petaka kartu.
“Haye dipaksa langsung berhadapan Arif Aiman,” beber Ibam melalui pesan suara. Ia menyebut situasi tersebut sangat berisiko bagi lini belakang Garuda.
Arif Aiman pemain sarat jam terbang. Herdman mestinya mengantisipasi ancaman itu sejak menit awal. Proteksi khusus jelas dibutuhkan. Tetapi, staf pelatih timnas tampaknya abai membaca peta kekuatan rival serumpun. Garis pertahanan terlalu terbuka saat transisi negatif terjadi. Konsentrasi pemain akhirnya pecah berantakan.
Fokus Haye lenyap seketika.
“Momen teledor cepat atau lambat pasti terjadi,” pungkas Ibam menganalisis jalannya pertandingan. Tekanan bertubi-tubi lawan memaksa sang gelandang melakukan tekel berisiko tinggi.
Situasi di lapangan terlalu berbahaya. Singkatnya, pengurangan jumlah pemain membikin tim Garuda parkir bus total di paruh kedua. Tuan rumah terkurung tanpa daya membalas gempuran skuad Harimau Malaya.
Dewi fortuna masih memayungi gawang Indonesia. Lagipula, hasil imbang kacamata memperlihatkan kelemahan pemahaman pelatih terhadap karakter lawan regional. Herdman terbukti masih meraba kultur sepak bola Asia Tenggara.
Adaptasi juru taktik belum matang. Selanjutnya, skuad Garuda wajib membenahi struktur taktik jelang partai pamungkas Grup A. Kemenangan mutlak dibutuhkan demi tiket fase gugur.
Evaluasi total harus jalan. Pada akhirnya, kartu merah di SUGBK menjadi tamparan keras bagi racikan taktik juru taktik berpaspor Inggris. Kesalahan membaca peta lawan terbukti berakibat fatal bagi ambisi juara. Pembenahan taktik mutlak dirampungkan segera. (BP/CHA).













