BRUSSELS, Balipolitika.com- Debut resmi akhirnya diukir Lucas Da Cunha bersama Timnas Prancis. Gelandang Como itu turun sejak menit awal. Laga UEFA Nations League kontra Belgia digelar di Stadion King Baudouin.
Pertandingan berlangsung Selasa (29/9/2026) dini hari WIB.
Les Bleus mengamankan tiga poin penuh lewat kemenangan tipis 1-0. Momen bersejarah tercipta manis. Michael Olise mencetak gol pembeda pada menit ke-88.
Sebelumnya, Da Cunha ditarik keluar menit ke-90. Gelandang AS Roma Manu Kone masuk sebagai pengganti reguler sesuai aturan pergantian IFAB.
Zinedine Zidane menaruh kepercayaan penuh kepada sang debutan.
“Sangat senang, apalagi ini tidak mudah karena pemanggilan pertamanya,” tutur Zidane.
Ia menempatkan pilar berdarah Portugal itu sebagai filter pertama pertahanan. Tugas berat diemban tenang. Da Cunha memakai nomor punggung 21 di lapangan.
Pemain 25 tahun itu membukukan statistik impresif.
Tercatat 97 sentuhan bola berhasil ia torehkan sepanjang laga. Akurasi umpannya menyentuh angka 93 persen. Bola mengalir sangat rapi.
Selain itu, enam pemulihan bola sukses ia menangkan di lini tengah. Satu tembakan kerasnya bahkan sempat membentur tiang gawang. Nyaris pecah telur.
Singkatnya, lompatan karier sang pemain terbilang luar biasa kilat. Tiga musim silam dirinya masih berjibaku di kasta kedua Serie B.
Kini ia mengecap panggung bergengsi Liga Champions Eropa.
“Kami memberikan beberapa peluang, tetapi kami pantas menang,” ujar Da Cunha.
Ia lega gol semata wayang lahir sebelum dirinya meninggalkan lapangan. Da Cunha juga membocorkan instruksi khusus sang juru taktik.
Pemain bebas berkreasi.
“Pelatih mengatakan kepada saya untuk bermain lepas seperti di klub,” imbuh Da Cunha.
Keyakinan sang arsitek membakar morilnya di atas rumput hijau. Dirinya merasa sangat nyaman mengawal kedalaman area tengah tim nasional.
“Bekerja tanpa menyerah membuat peluang cepat atau lambat akan datang,” pungkasnya mantap.
Dengan demikian, keputusan berani memanggil sang gelandang terbukti tepat sasaran. Sentuhan tangan dingin Cesc Fabregas di level klub menjadi modal penting.
Fabregas merombak posisi aslinya dari pemain sayap menjadi jangkar penyeimbang.
Skema mezzala hingga deep-lying playmaker dilahap habis tanpa cela. Hasilnya nyata. Da Cunha kini memegang ban kapten Como.
Padahal, Nice sempat melepasnya dengan mahar murah 700 ribu euro saja. Nilai transfer miring berbuah emas.
Sebaliknya, tawaran menggiurkan Napoli dan Atalanta ia tolak mentah-mentah pada bursa transfer. Da Cunha memilih setia menandatangani ikatan kontrak panjang hingga 2031.
Loyalitas tanpa batas. Tetapi, pembuktian di panggung internasional menjadi ujian mental paling sahih. Tekanan suporter tuan rumah di Brussels berhasil diredam secara disiplin.
Alur serangan lawan mandek. Lagipula, Zidane memang butuh figur segar penyeimbang transisi tim. Absennya sejumlah nama pilar membuka jalan lebar bagi pemain pelapis unjuk gigi.
Da Cunha menjawabnya lugas. Selanjutnya, agenda padat kompetisi Eropa sudah menanti kepulangan sang jenderal lapangan tengah. Konsistensi permainan wajib dijaga demi mengunci tempat utama di skuad Les Bleus.
Persaingan lini tengah sangat ketat. Pada akhirnya, debut di tanah Belgia menjadi tonggak penting perjalanan karier Da Cunha. Kerja keras dari kasta bawah Liga Italia kini terbayar lunas. Bintang baru telah lahir. (BP/CHA).










