PADA hari kedua sesi pertama acara bertajuk Bertemu di Cikini yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan bersama Komunitas Jagat Sastra Milenia dan Dewan Kesenian Jakarta, kita dipertemukan dengan sebuah karya yang membawa kita kembali kepada pengalaman manusia di tengah sejarah: Hujan Kepagian, kumpulan cerpen karya Nugroho Notosusanto.
Diskusi yang berlangsung di lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, itu menjadi semakin istimewa dengan kehadiran Pudjiastuti Hasjim, istri Nugroho Notosusanto. Kehadirannya memberi dimensi personal dalam perbincangan tentang seorang pengarang yang menulis perang dari pengalaman hidupnya sendiri.
Ada banyak cara membaca sejarah. Kita dapat melihatnya melalui tanggal, nama tokoh, peperangan, kemenangan, dan kekalahan. Sastra memilih jalan yang lain. Ia mendekatkan kita kepada manusia yang berada di balik peristiwa: kepada ketakutan, kerinduan, luka, juga keputusan-keputusan kecil yang sering luput dari catatan sejarah. Di situlah Hujan Kepagian menemukan kekuatannya.
Nugroho Notosusanto menulis keenam cerpen dalam kumpulan ini berdasarkan pengalaman empirisnya ketika terjun sebagai prajurit muda. Pengalaman menyaksikan kematian dari jarak dekat dalam waktu yang singkat meninggalkan jejak psikologis yang kuat dalam karya-karyanya.
Hamzah Muhammad melihat Hujan Kepagian sebagai kesaksian empiris yang lahir dari batas tipis antara kehidupan dan kematian. Sastra, dalam pandangannya, menjadi medium untuk merekam kondisi mental pengarang setelah bersentuhan langsung dengan pengalaman perang. Yang menarik, pengalaman itu kemudian bergerak lebih jauh: menuju pembongkaran atas mitos kepahlawanan. Narasi sejarah formal kerap menempatkan manusia dalam dua kotak yang berlawanan: pahlawan dan musuh. Dalam perang, kita mengenal “kami” dan “mereka”, Indonesia dan Belanda, pihak yang benar dan pihak yang harus dilawan. Sastra meretakkan batas-batas tersebut.
Prajurit yang selama ini hadir sebagai simbol keberanian dikembalikan kepada wujudnya sebagai manusia. Ia bisa takut, lapar, sakit, rindu, jatuh cinta, kehilangan kendali, bahkan melakukan sesuatu yang sulit disebut heroik. Kepahlawanan dalam Hujan Kepagian pun tidak tampil dalam garis hitam dan putih.
Di tengah perang, manusia diuji dalam keadaan yang paling ekstrem. Ketika seseorang harus memilih antara menyelamatkan diri sendiri atau orang lain, antara perintah dan suara hati, antara kewajiban kepada negara dan rasa kemanusiaan, makna kepahlawanan menjadi jauh lebih rumit.
Cindy Wijaya memperluas pembacaan tersebut melalui bahasa naratif dalam Hujan Kepagian. Menurut Cindy, kumpulan cerpen ini dapat dibaca sebagai bentuk dekonstruksi terhadap konsep heroisme tradisional. Peristiwa sejarah yang biasanya hadir melalui bahasa besar tentang kepahlawanan dan pengorbanan negara digeser menjadi pengalaman personal yang intim. Sejarah yang agung berubah menjadi memori manusia.
“Indonesia melawan Belanda” tidak lagi semata-mata menjadi pertentangan antara dua kelompok besar. Dalam salah satu cerita, seorang prajurit Indonesia dan tentara Belanda yang berada di dua sisi peperangan justru dipertemukan oleh ketakutan yang sama dan dorongan manusiawi untuk menyelamatkan seorang bayi di tengah pertempuran.
Pada titik itu, batas antara “kami” dan “mereka” menjadi kabur. Musuh tidak lagi sebagai musuh, tetapi sebagai manusia yang memiliki rasa takut, naluri untuk bertahan hidup, dan kemampuan untuk berbelas kasih.
Cindy juga menyoroti bagaimana perang dalam kumpulan cerpen ini menghancurkan tubuh sekaligus merampas kehidupan personal manusia. Perempuan, misalnya, hadir sebagai pihak yang turut menanggung kekerasan dan kehilangan. Pengalaman kekerasan bahkan dapat membuat korban harus mencari bahasa untuk memahami penderitaannya sendiri. Ketika penderitaan dipaksa untuk dimaknai sebagai bagian dari “pengorbanan”, sastra membuka pertanyaan yang lebih mendasar: apakah setiap penderitaan memang harus diberi nama sebagai pengorbanan demi sebuah narasi besar?
Pertanyaan semacam inilah yang membuat Hujan Kepagian tetap menarik untuk dibaca dan dibahas. Sebab perang tidak pernah berhenti di medan pertempuran. Ia berlanjut di dalam tubuh, ingatan, hubungan antarmanusia, dan keputusan-keputusan personal.
Cindy kemudian menunjukkan tiga pergeseran penting dalam bahasa naratif kumpulan cerpen ini. Pertama, pergeseran dari oposisi “kami dan mereka” menuju hubungan personal “dia dan aku”. Kedua, pergeseran dari narasi kemenangan dan pengorbanan negara menuju pengalaman tubuh dan psikologi manusia. Ketiga, pergeseran dari sejarah kolektif menuju keputusan dan perasaan yang sangat personal: kerinduan kepada ibu, keluarga, rumah, serta kehidupan yang ditinggalkan.
Dua pembacaan tersebut bertemu pada satu titik yang mengajak kita melihat manusia berada di balik sejarah kepahlawanan. Hamzah membawa kita kepada pengalaman empiris seorang prajurit dan kondisi mental yang lahir dari kedekatan dengan kematian. Cindy menunjukkan bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi strategi naratif yang meruntuhkan batas-batas heroisme tradisional.
Di balik seorang pengarang yang menulis tentang perang dan kepahlawanan, ada kehidupan personal yang menyertai proses kreatifnya. Ada manusia yang hidup di luar teks, dengan ingatan, hubungan, dan pengalaman yang turut membentuk cara ia memandang dunia. Barangkali di situlah letak kekuatan sastra sejarah. Sejarah memberi kita peristiwa. Sastra memperlihatkan manusia yang mengalami peristiwa itu.
Melalui Hujan Kepagian, Nugroho Notosusanto seolah mengingatkan bahwa di balik setiap nama yang kemudian disebut sebagai pahlawan, pernah ada manusia biasa yang merasakan dinginnya hujan, takutnya kematian, rindunya rumah, dan beratnya memilih.
Dari ruang Bertemu di Cikini hari itu, sebuah karya lama kembali menemukan percakapan baru dengan pembacanya. Sejarah bergerak mundur ke masa perang, lalu sastra menariknya kembali ke dalam tubuh manusia.
Apa yang terjadi pada manusia ketika ia harus hidup di dalam perang dan tetap berusaha mempertahankan kemanusiaannya? Mungkin, pertanyaan itulah yang membuat Hujan Kepagian terus memiliki ruang untuk dibaca, dibicarakan, dan dipertemukan kembali dengan pembaca lintas generasi.
BIODATA
Khairani Piliang penulis buku kumpulan cerpen judul Suatu Pagi di Dermaga yang rilis tahun 2017, dan kumpulan puisi judul Seduh Sedih yang Bertasbih, rilis tahun 2025. Berkontribusi lebih dari 50 buku antologi bersama, cerpen maupun puisi. Karyanya tersebar di berbagai media cetak dan daring nasional. Terlibat dalam berbagai kegiatan literasi dan juri di sejumlah lomba penulisan. Pernah menorehkan prestasi sebagai pemenang lomba penulisan kreatif buku, menegaskan reputasinya sebagai penulis produktif dan berpengaruh.













