Alethia
Ibu
Kau mengada-ada.
Kau berjalan—
padahal sedang kabur.
Tubuhmu rapi.
Jiwamu terbuka.
Kau melihat yang tak boleh,
lalu bahasa kehilangan arah,
tersendat,
memukul udara.
Kapan kau berhenti bergerak
dan percaya dunia
tidak hanya diciptakan untukmu?
Dengar.
cah gemblung.
Penyesalan yang dilahirkan.
Kembali sini.
Duduk.
Ulangi.
(Aku tidak menjawab.
tak menoleh.
tak berhenti.
Menolak mati.)
Aku menyelusupkan jemariku
ke sela bulu boneka beruang.
Menggoncang-goncangkannya.
Beberapa helai berguguran ke lantai.
Seharusnya dunia ini seperti boneka itu—
bisa kuguncang kapan saja.
Warna hitam dari awan
menggelapkan kaca jendela.
Kutadahkan tangan.
Menaungi wajah sendiri.
Aku tak ingin melihat hujan.
Tidak lagi.
Tidak saat aku sendiri
berperang
agar tak tenggelam.
(Diam.
Kosong.)
Kosong itu bukan sekadar hampa.
Dalam diam yang mengosongkan
kutahu waktu
mengalir dari jeda ke jeda.
Alirannya berhamburan—
seperti darah segar
dari nadi yang terpotong.
Lelaki yang Mirip Kau
Di sudut rumah makan,
kukira itu kau—
aku duduk di sebrang meja.
Masih mengira itu kau,
Sementara lelaki yang mirip kau
sibuk dengan gadis di sampingnya,
bicara seolah hanya gadis itu yang penting.
Aku mengaduk kopi,
menyulut sebatang rokok,
Masih mengamati dari jauh.
Sesekali, aku menangkap tatapan pria itu ke arahku—
tapi ia berpaling.
Gadis itu
masih menyedot perhatiannya.
baju,
tatapan mata,
lekuk bibir,
postur tubuh—
mirip sekali denganmu.
Aku ambil handphone.
“aku rindu.”
Tapi niatku urung.
Aku tahu
kau tak akan membalas.
Seperti biasanya.
Tiga batang rokok…
aku merasa kau di dekatku,
dan gadis itu adalah aku.
Seperti kita dulu.
Tiba-tiba,
lelaki yang mirip kau berdiri.
Pamit.
Pergi ke musholla di samping rumah makan.
Aku menunggu.
juga gadis itu.
10 menit.
Lelaki itu belum kembali.
Gadis itu gelisah.
aku juga.
Gadis itu kemudian beranjak ke motor.
aku ingin ikut.
Tak lama, lelaki itu muncul lagi.
Gadis itu terlihat ceria—
bodohnya, aku juga.
Lalu lelaki itu kenakan jaket dan sarung tangan.
aku berharap—
sebelum pergi, dia menoleh sekali saja.
Sekedar sadar bahwa aku pun menunggui.
“one last look…
please…
please…
please…”
Motor melaju perlahan.
Dia pergi.
Tanpa menoleh.
Menghilang.
Sama seperti kau.
Aku tertunduk.
kenyataan menyedotku kembali.
Sepi.
Begitu sepi.
Di rumah makan yang penuh sesak,
orang-orang hilir mudik—
tak ada yang menghiraukanku
Mimpi Betina
aku betina,
setengah telanjang,
mengoyak malam, meraba jalan pulang.
di balik kutang, kisahmu
kusimpan bersama
jutaan perasaan yang terbuang.
kelak, dipelukan angin,
kuturuni lembah-lembah curam,
menutup senja paruh baya.
namamu akan kupahat pada dinding berjurang,
lalu masa silam ‘kan jadi gurauan
di antara warna-warna
dan lebah-lebah yang riang memadu cinta.
aku betina,
yang hanya mengerti hidup dan makan.
namun musim semi telah kubeli
di dalam mimpi!
maka aku takkan pernah mati
di sini…
di dalam mimpi
Selembar Nyawa di Atas Kereta Malam
Kereta malam melaju,
melewati kota-kota kecil
yang hanya tampak sebagai titik cahaya.
Di kursi seberang, duduk seorang pria.
Wajahnya pucat,
seperti lupa caranya tetap hidup.
Tangannya menggenggam
selembar foto yang mulai pudar warnanya.
Gadis berambut merah tersenyum kaku,
seperti menghindari kamera.
Apakah ia dalam perjalanan menuju gadis itu—
atau justru sedang melarikan diri darinya.
Laju kereta menderu.
Penjaja rokok bergoyang-goyang
menjaga keseimbangan
sambil mengangkat asongan.
Pria itu bergeming.
Hanya memandangi foto yang nyaris robek,
seolah di sanalah seluruh hidupnya tersimpan—
atau hilang.
Aku memandanginya
seperti memandangi pertanyaan
yang tak tahu ditujukan pada siapa.
“Jika dia mati malam ini,
judul apa yang akan ditulis
di surat kabar esok hari?”
Mungkin hanya:
Seorang pria ditemukan tak bernyawa
di gerbong kereta malam.
Tak ada luka.
Tak ada identitas,
hanya selembar foto tak bernama.
Diduga bunuh diri.
Titik.
Habis.
Tak ada yang tahu dia siapa.
Tak ada yang mengajaknya bicara.
mungkin kereta ini
tak sedang menuju kota mana pun—
kami hanya duduk,
sambil perlahan menghilang.
Cek Kosong
Sebuah cek kosong.
Puntung rokok.
Kupikir
tak semua harus dibayar—
seutas tali beha,
dan peristiwa
yang semestinya tidak terjadi.
“Tolong sebutkan namamu.”
“Fifi.”
“Itu bukan namamu.”
“Sari.”
“Jangan asal.”
“Sakit perut.”
Cek kosong terdiam.
Puntung rokok yang masih menyala
membakarnya perlahan.
Hujan.
Pohon jati minta diri.
Fifi,
Sari,
Sukma—
harus bekerja lagi.
Kali ini,
cinta
tidak masuk
dalam tagihan.
BIODATA
Renta Ivonne Dewi Arimbi Situmorang lahir di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, 21 September 1980. Dia belajar melukis secara otodidak menggunakan media kertas, batu, kayu, dan kanvas. Kini dia menetap Zaltbommel, Belanda. IG: @ivonnearimbi.













