LISABON, Balipolitika.com- Sembilan puluh sembilan persen kekayaan Roberto Carlos lenyap tak berbekas pascapensiun. Legenda Real Madrid itu membongkar nestapa finansialnya ke publik. Pengakuan miris ini meluncur langsung di forum Portugal Football Summit, Lisabon.
Uang hasil keringat dua dekade kandas. Carlos mengaku ditipu orang lingkaran dekatnya sendiri. Sengketa perwakilan agen dan urusan internal keluarga jadi biang kerok utama.
“Masalah agen dan keluarga bikin saya kehilangan 99 persen hasil sepak bola,” ujar Carlos.
Harta hasil membela panji Inter Milan serta Madrid itu tersapu bersih. Pria pemilik 100 caps bersama Timnas Brasil ini blak-blakan. Dirinya teledor memegang kontrol aset.
Duitnya amblas tak bersisa.
“Saya buat kesalahan fatal dan meminta pemain muda jangan menirunya,” tegas Carlos.
Ia menceritakan momen ganjil saat tumpukan berkas perkara menyergapnya tiba-tiba. Kejadiannya berlangsung kilat tanpa ada kecurigaan sama sekali.
“Jumat tiba-tiba datang banyak dokumen yang tidak pernah saya ketahui,” beber Carlos.
Saat itulah seluruh riwayat finansialnya runtuh.
Dengan demikian, roda nasib sang jawara dunia berputar amat drastis ke titik nadir. Rumah tangganya pun bubar jalan. Pengadilan memutus perceraiannya pada 2025 usai mengarungi 15 tahun perkawinan.
Isu liar sontak merebak.
Beredar rumor Carlos sampai menumpang tidur di mes latihan Valdebebas milik Madrid. Gosip menggelinding liar di media sosial.
Tetapi, mantan bek kiri berkaki kidal maut itu langsung menepis kabar burung tersebut. Ia menyanggah keras lewat klarifikasi terbuka di akun media sosial X.
“Kabar saya tinggal di fasilitas latihan itu kabar bohong,” tegas Carlos.
Ia menegaskan dirinya tetap menghuni rumah milik pribadi. Kuasa hukumnya disiapkan menindak penyebar isu.
Lagipula, nominal aset masa jaya Carlos memang pernah menyentuh 133 juta pound. Angka fantastis itu setara lebih dari Rp2 triliun.
Kini saldonya tergerus habis. Karut-marut tanggungan nafkah 11 anak dari tujuh perempuan ikut menguras kantongnya.
Sebaliknya, Carlos sejatinya sudah mengantongi lisensi direktur olahraga demi bekal hari tua. Perencanaan matang itu nyatanya buyar berantakan oleh sengketa hukum.
“Saya sebenarnya sudah menyiapkan jenama komersial sejak masih aktif merumput,” imbuh Carlos.
Singkatnya, petualangan di kursi pelatih empat klub berbeda juga terhenti pada 2015 silam. Karier juru taktiknya macet di tengah jalan. Langkah kaki membawanya kembali pulang ke Spanyol.
Manajemen Los Blancos lantas merangkul sang legenda sebagai duta resmi klub. Posisinya aman.
Pundi uangnya kini bersumber dari representasi jenama dan kegiatan sosial El Real.
Selanjutnya, Carlos aktif membagikan pengalaman pahitnya kepada para bibit muda lapangan hijau. Ia tak ingin bakat belia terjerembap lubang serupa. Pengawasan kontrak dan arus rekening wajib dipantau ketat secara mandiri.
Mentalitas pemain harus dijaga dari rayuan agen nakal.
Pada akhirnya, reputasi pemilik empat gelar La Liga dan tiga trofi Liga Champions itu tetap abadi. Masa lalu kelam finansial dijadikan tameng peringatan keras bagi para pesepak bola modern. Kehancuran harta bisa datang begitu cepat. (BP/CHA).












