MADRID, Balipolitika.com- Real Madrid takluk dari rival sekota Atletico Madrid di Stadion Metropolitano. Kekalahan telak ini langsung memicu rentetan persoalan taktik serius.
Jose Mourinho menghadapi tekanan hebat. Dasar sanksi pengusiran merujuk Aturan Permainan IFAB Pasal 12 tentang Pelanggaran Serius. Bek muda Dean Huijsen diganjar kartu merah langsung.
Kekuatan tim tamu compang-camping. Tuan rumah leluasa mendikte tempo permainan di hadapan puluhan ribu pendukungnya sendiri. Mental bertanding Madrid ambruk seketika.
Hilang kendali lapangan tengah. Tetapi satu keputusan taktis Mourinho menuai sorotan tajam dari kalangan analis lapangan. Bernardo Silva baru diturunkan menginjak menit ke-82.
Padahal tim membutuhkan ketenangan ekstra. Sangat terlambat. Lini tengah Los Blancos sejatinya sudah kepayahan menguasai si kulit bundar sejak awal. Tekanan konstan lawan membuat sirkulasi bola mereka terputus di tengah jalan.
Dua gelandang jangkar gagal total mempertahankan penguasaan bola dalam durasi lama. Distribusi macet. Pemain kerap terisolasi di area sendiri saat Atletico menerapkan garis persinggungan tinggi. Tak ada jalan keluar.
Sebaliknya kubu lawan bermain sangat nyaman mengeksploitasi setiap celah kosong pertahanan Madrid. Ritme laga sepenuhnya milik tuan rumah. Transisi serang tim tamu berantakan. Tak berpola.
Singkatnya karakteristik unik Bernardo Silva sejatinya mampu menjadi penawar kebuntuan distribusi bola. Visi bermainnya sangat dibutuhkan. Gelandang serang itu piawai melepaskan diri dari kepungan ketat pemain bertahan lawan. Penguasaan bolanya lengket.
Silva sanggup mengatur tempo dan memberi ruang bernapas bagi lini serang. Ketenangannya terbukti. Namun waktu delapan menit jelas terlalu sempit untuk mengubah papan skor pertandingan. Dampaknya minim.
Pemain lawan sudah keburu percaya diri mengamankan keunggulan angka sampai peluit panjang. Laga tuntas. Selanjutnya kombinasi lini tengah tanpa sang kreator terbukti mengulang kesalahan serupa sebelumnya. Komposisi lama kembali buntu.
Tekanan bertubi-tubi membuat aliran bola El Real rapuh dan gampang dipatahkan. Blunder berulang kali terjadi. Mourinho dituntut segera merombak skema utama tim, beber staf analis di Madrid. Perubahan mendesak.
Kehadiran sosok pengatur irama permainan menjadi harga mati untuk menstabilkan performa skuad. Menyerang butuh stabilitas. Lagipula perburuan gelar liga domestik menuntut konsistensi perolehan poin pada setiap pekan. Jarak angka kian melebar.
Terpeleset lagi berakibat fatal. Kursi kepelatihan memanas. Mourinho tak boleh mengulangi kekeliruan menepikan pemain kunci di bangku cadangan, kata pengamat. Sikap keras kepala harus ditekan.
Evaluasi menyeluruh mutlak dilakukan di Valdebebas sebelum jadwal padat kembali mengadang tim. Waktu kian sempit. Dengan demikian keseimbangan antara daya serang dan kontrol penguasaan bola wajib dipulihkan. Ruang ganti Madrid butuh solusi nyata.
Mourinho wajib memberi menit bermain reguler kepada pilar kreatifnya di lapangan hijau. Kompromi taktik dibutuhkan.
Pada akhirnya kegagalan di partai derbi ibu kota menjadi sinyal bahaya bagi perjalanan musim Madrid. Ujian kepemimpinan sesungguhnya. (BP/CHA).













