BADUNG, Balipolitika.com – Bali Interfood 2026 resmi dibuka di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali, Rabu (2/9/2026). Memasuki penyelenggaraan ke-7, pameran industri makanan dan minuman ini membawa peluang penguatan kolaborasi antara sektor F&B, hospitality dan pariwisata Bali.
Arah tersebut mengemuka dalam pembukaan Bali Interfood 2026 yang berlangsung 2-4 September 2026. Selain mempertemukan pelaku industri makanan dan minuman, pameran ini dinilai dapat dikembangkan lebih luas melalui keterlibatan sektor hospitality pada penyelenggaraan berikutnya.
Ketua Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Agung Partha Adnyana, melihat peluang tersebut dari besarnya ekosistem usaha penyediaan makanan dan minuman di Bali. Ia menyebut terdapat sekitar 245.000 unit usaha di sektor tersebut.
Menurutnya, apabila penyelenggaraan serupa dikembangkan pada tahun berikutnya dengan melibatkan dan berkolaborasi lebih erat dengan sektor hospitality, potensi keterlibatan unit usaha penyediaan makanan dan minuman di Bali akan semakin luas.
Besarnya ekosistem usaha kuliner tersebut tidak terlepas dari posisi Bali sebagai destinasi pariwisata dengan aktivitas hospitality yang kuat. Kebutuhan terhadap bahan baku, peralatan, teknologi dan berbagai solusi bisnis F&B pun terus mengikuti perkembangan sektor tersebut.
Di tingkat nasional, industri makanan dan minuman juga menunjukkan kinerja positif. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Irwan S. Widjaja, menyampaikan bahwa industri mamin tumbuh 6,51 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya inovasi dan penguatan daya saing industri.
Sementara itu, Ketua PHRI Bali, Cok Ace, menekankan pentingnya kolaborasi antara distributor dan pelaku industri. Keterhubungan antarpelaku dinilai dapat memperkuat daya saing sekaligus membantu industri merespons kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Posisi Bali sebagai salah satu pusat pertumbuhan hospitality dan kuliner juga menjadi alasan pentingnya pengembangan pameran industri F&B di Pulau Dewata. CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan perkembangan sektor pariwisata, hotel, restoran dan usaha kuliner turut menciptakan kebutuhan terhadap produk, bahan baku, peralatan, teknologi maupun solusi bisnis.
“Bali bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga merupakan salah satu pusat pertumbuhan bisnis hospitality dan kuliner di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Daud, Bali Interfood dihadirkan sebagai platform yang mempertemukan kebutuhan industri dengan pelaku usaha, mulai dari buyer, supplier, chef, purchasing, distributor, asosiasi hingga profesional hospitality.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Bali Interfood 2026 diikuti 110 peserta dari delapan negara, termasuk 35 UMKM. Penyelenggara menargetkan sekitar 15.000 pengunjung selama tiga hari pameran.
Bali Interfood 2026 berlangsung bersamaan dengan Bali Hotel & Tourism, Bali Coffee Expo, Bali Wine & Spirit, serta Bakery Indonesia Expo 2026. Sejumlah agenda juga disiapkan, mulai dari business matching, workshop, kompetisi dan edukasi.
Salah satu agenda utama adalah Gelato World Cup Indonesian Selection, disertai berbagai demo kuliner dan minuman oleh chef maupun barista. Area kompetisi IPBI serta Business Matching juga menjadi bagian dari rangkaian acara untuk mempertemukan pelaku Ho.Re.Ca.Ba dengan supplier dan exhibitor.
Penguatan sumber daya manusia turut dihadirkan melalui Krista Training Center by IKABOGA yang menyediakan program sertifikasi BNSP untuk sejumlah bidang profesi, di antaranya Chef de Partie, Demi Chef, Baker, Commis Pastry dan RCC.
Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Ekonomi dan Keuangan, Dr. I Wayan Ekadina, S.E., M.Si., turut menyampaikan dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan sektor ekonomi yang berkaitan erat dengan industri dan pariwisata.
Selama 2-4 September 2026, pengunjung dapat melihat perkembangan produk dan teknologi F&B, mengikuti berbagai program, serta membuka peluang kerja sama dan jaringan bisnis. Tiket masuk dibanderol Rp100.000 untuk seluruh periode pameran, dengan registrasi tersedia secara daring maupun langsung di lokasi.
Peluang memperluas keterlibatan sektor hospitality pada penyelenggaraan berikutnya menjadi salah satu arah yang muncul dalam pembukaan Bali Interfood 2026. Jika terealisasi, kolaborasi tersebut dapat memperluas jangkauan pertemuan bisnis antara industri F&B dan ekosistem usaha kuliner di Bali. (*)














