PERKOKOH: Bali Sharing Session 2026 “Bali-Australia Memperkuat Masa Depan Persahabatan Internasional Melalui Semangat Bali” berlangsung di, Bali International Hospital, Sanur, Kamis, 30 Juli 2026. (Sumber: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Dalam upaya memperkokoh hubungan persahabatan internasional dengan Australia, Dewan Pimpinan Wilayah Nawa Cita Pariwisata Indonesia (DPW NCPI) Bali menggelar dialog publik, Great Sharing Session 2026 dengan tema “Bali-Australia Memperkuat Masa Depan Persahabatan Internasional Melalui Semangat Bali” yang berlangsung di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Bali International Hospital, Sanur, pada Kamis, 30 Juli 2026.
Dalam Great Sharing Session 2026 tersebut, turut hadir sebagai pembicara mantan Gubernur Jenderal Australia David Hurley yang juga Chief of the Australian Defence Forces Period (2011-2014 ),l Governor of New South Wales Period (2014-2019), Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Udayana (Unud) Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putra, S.H., M.Hum., yang juga Penasehat NCPI Bali, Ketua ASITA Bali Period (2004–2006) Bagus Sudibya yang juga Penasehat NCPI Bali, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai Bugie Kurniawan, A.Md.Im., S.IP., M.Si, Moderator Ni Nyoman Deni Ariyaningsih, S.S., M.Par.
Dalam kesempatannya, Ketua NCPI Bali, Agus Maha Usadha menjelaskan, hubungan antara Indonesia dan Australia, Bali memainkan peran strategis baik sebagai tujuan kelas dunia maupun sebagai jembatan persahabatan antara kedua negara.
Hubungan bilateral yang erat dan saling menguntungkan ini tercermin dari tingginya minat warga Australia terhadap Bali sebagai tujuan wisata—dan bahkan sebagai “rumah kedua” bagi banyak orang.
“Hubungan yang langgeng ini harus terus dibina dan diperkuat melalui kerja sama yang bermakna dan menguntungkan kedua negara. Meskipun kedatangan pengunjung Australia terkadang mengalami fluktuasi akibat kondisi ekonomi global dan keadaan luar biasa lainnya, perubahan sementara tersebut tidak mengurangi ikatan antarmasyarakat yang kuat atau potensi kolaborasi yang signifikan dalam bidang pariwisata, kelestarian lingkungan dan pengembangan budaya,” ujarnya.
Agus Maha Usadha menambahkan, Great Sharing Session ini bertujuan untuk menyediakan platform strategis untuk dialog dan pertukaran ide guna memperkuat persahabatan Indonesia-Australia melalui diplomasi budaya, berbagi pengetahuan, dan keterlibatan antarmasyarakat.
Selain itu, kegiatan ini juga mendorong kolaborasi antara pemangku kepentingan Indonesia dan Australia dalam mempromosikan pariwisata berkelanjutan, pelestarian lingkungan, dan pengembangan budaya. Menjajaki peluang kerja sama strategis yang memperkuat peran Bali sebagai Jembatan Persahabatan Internasional dan memperkuat hubungan bilateral jangka panjang.
Sementara, dari paparan para pembicara terungkap pentingnya relationship dan kompetensi SDM (Sumber Daya Manusia), di Bali ini banyak hal yang harus dikerjasamakan, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan. Mengingat pertumbuhan pariwisata ataupun situasi global saat ini harus didasarkan pada kemampuan beradaptasi.
Pemaparan dari Prof. Wyasa Putra dan Bagus Sudibya juga menekankan tentang ‘how we improve our’ SDM, tidak hanya bicara pariwisata tapi juga bagaimana budaya itu punya korelasi terhadap ekonomi.
“Ini merupakan kesempatan bagi tenaga kerja di bidang kesehatan untuk meng-improve diri dengan adanya standar internasional yang berbeda. SDM perlu terus di-improve untuk dua sisi, ke dalam untuk menjaga budaya (termasuk pertanian yang menjadi akar konektivitas pariwisata, red). Dan ke luar untuk menjadi daya saing. Karena kalau tidak, hanya akan menjadi penonton,” paparnya.
Hal senada disampaikan Intan dari Mediterranean yang mengatakan dengan kolaborasi ini bagaimana bisa mempertahankan angka kedatangan turis Australia ke Bali. Yang membuat mereka datang dan tertarik ke Bali itu adalah budaya.
“Sehingga challenge kita adalah bagaimana tetap mengembangkan budaya Bali, serta melatih dan memberikan awareness kepada SDM kita bahwa budaya adalah fondasi yang tidak bisa ditinggalkan dan harus dilestarikan,” imbuhnya.
Dijelaskan, budaya inilah yang menjadi daya tarik mutlak bagi para turis, khususnya dari Australia. Memang pelestarian budaya pasti perlu dukungan ekonomi. Upacara keagamaan, upacara adat, dan kegiatan lainnya butuh dukungan faktor ekonomi, dan ekonomi ini didukung oleh pariwisata yang berkembang.
“Jadi ini adalah sebuah ekosistem: pariwisata berkembang, budaya dikembangkan, dan SDM dilatih sehingga menjadi ekosistem yang sustainable. Selain budaya, infrastruktur juga sedang dikembangkan,” ujarnya.
Keberadaan pariwisata yang berkembang akan mendukung ekonomi masyarakat Bali sehingga mereka tetap bisa berbudaya dengan ekonomi yang stabil.
Terkait tantangan ke depan, terberat untuk upgrade SDM berawal dari mindset diikuti dengan pelatihan, kurikulum, tenaga latih, para guru, dan ekosistem yang mendukung anak-anak untuk bisa lebih confident menunjukkan performanya di dunia hospitality. Selanjutnya adalah kemampuan berbahasa Inggris. (bp/gk)













