MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu pasti apakah memasak masih menjadi pilihan setiap keluarga. Di tengah situasi ekonomi negeri yang tidak menentu, pola hidup hemat amat diperlukan.
Namun, orang kita sekarang ingin hidup yang serba praktis; untuk kebutuhan makan tinggal membeli. Pilihan kuliner banyak di kota, dari makanan tradisional hingga modern, semua tersedia.
Sebenarnya, ini bukan soal punya uang atau tidak. Memasak, lebih dari itu. Ia berhubungan dengan rasa cinta-kasih seorang ibu terhadap keluarganya. Makan makanan yang dihasilkan dari aktivitas memasak, tentu berbeda rasanya jika membeli atau makan di luar rumah.
Mungkin saja, kini hampir jarang ibu yang memasak di kota. Apalagi bagi perempuan pekerja. Mereka tidak sempat lagi memasak karena kesibukan pekerjaan. Mungkin hanya ibu rumah tangga yang masih sempat memasak.
Saya melihat itu pada kehidupan para tetangga saya. Mereka para perantau dari Jawa, Nusa Tenggara, dan kota-kota di Bali yang mencari penghidupan di Denpasar. Untuk menghemat pengeluaran, rata-rata mereka memasak. Makan bersama menjadi momen yang khusyuk sekaligus membahagiakan. Tetapi semakin lama saya memperhatikan kehidupan mereka, saya merasa bahwa memasak bukan sekadar perkara menghemat uang.
Ada sesuatu yang lebih dalam di balik dapur-dapur kecil itu. Di kota, dapur mungkin tidak lagi sebesar dapur yang saya kenal ketika masih tinggal di kampung. Rumah-rumah semakin kecil. Banyak orang tinggal di kamar kos, rumah kontrakan, atau rumah petak dengan ruang yang terbatas. Dapur bahkan kadang hanya berupa sudut kecil di belakang rumah. Kompor diletakkan berdekatan dengan tempat mencuci piring. Tidak ada meja makan yang besar atau kursi yang cukup untuk seluruh anggota keluarga.
Tetapi dari tempat yang sempit itu, makanan tetap bisa lahir. Saya sering membayangkan seorang ibu yang pagi-pagi sudah berada di depan kompor. Sambil memasak, mungkin ia memikirkan anaknya yang sebentar lagi berangkat sekolah. Ia mungkin belum selesai membereskan rumah, sementara waktu terus berjalan. Di kota, semuanya terasa terburu-buru.
Suara kendaraan sudah terdengar sejak pagi. Orang-orang berangkat bekerja. Anak-anak pergi sekolah. Pedagang membuka warung, kantor mulai ramai, dan jalan raya dipenuhi kendaraan.
Di tengah semua itu, ada seorang ibu yang berdiri di dapur. Ia memasak. Tidak ada yang bertepuk tangan, memberi penghargaan, dan tidak ada berita yang melaporkan pekerjaannya. Tetapi makanan yang keluar dari dapur itu menjadi bagian penting dari kehidupan sebuah keluarga.
Barangkali pekerjaan seperti ini terlalu biasa sehingga kita sering tidak melihat nilainya. Antropologi mengajarkan bahwa hal-hal yang tampak biasa dalam kehidupan sehari-hari justru sering menyimpan makna kebudayaan yang besar. Makanan, misalnya, bukan hanya sesuatu yang dimasukkan ke dalam tubuh agar kita kenyang. Di balik sepiring nasi ada hubungan sosial, kebiasaan, ingatan, identitas, bahkan kasih sayang.
Karena itu, memasak sebenarnya adalah sebuah praktik kebudayaan. Seorang ibu yang memasak tidak hanya sedang mengolah beras, sayur, ikan, telur, cabai, bawang, dan berbagai bumbu. Ia sedang mengolah sesuatu yang lebih abstrak, yakni, rasa rumah.
Mungkin karena itu makanan di rumah sering terasa berbeda. Bukan karena masakan ibu selalu lebih enak daripada makanan restoran. Belum tentu. Di kota, kita bisa menemukan makanan yang dimasak oleh koki profesional dengan teknik yang jauh lebih baik. Kita bisa membeli makanan apa saja hanya dengan beberapa sentuhan di layar telepon genggam.
Tetapi ada rasa tertentu yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Rasa itu adalah rasa pulang. Saya teringat kehidupan para perantau di sekitar tempat tinggal saya di Denpasar. Mereka datang dari berbagai tempat. Ada yang dari Jawa, Nusa Tenggara, dan daerah-daerah lain di Bali. Mereka datang dengan tujuan yang hampir sama, yakni mencari kehidupan yang lebih baik.
Kota menerima mereka dengan cara yang khas. Kota menawarkan pekerjaan, tetapi sekaligus meminta biaya hidup. Ada uang kos yang harus dibayar, listrik, air, transportasi, pulsa, kebutuhan sekolah anak, dan tentu saja makanan.
Makan tiga kali sehari mungkin terdengar sederhana. Tetapi jika dihitung selama sebulan, makanan bisa menjadi salah satu pengeluaran terbesar sebuah keluarga.
Maka dapur kembali menjadi penting. Mereka membeli beras dalam jumlah tertentu. Membeli minyak goreng, telur, sayuran, ikan, tempe, tahu, bumbu. Barang-barang itu mungkin terlihat kecil jika dibeli satu per satu. Tetapi ketika semuanya dikumpulkan, kita akan melihat bagaimana sebuah keluarga sebenarnya sedang mengatur strategi untuk bertahan hidup.
Di sinilah memasak mempunyai dimensi ekonomi. Memasak sendiri sering kali lebih murah daripada membeli makanan setiap hari. Tetapi keuntungan memasak tidak berhenti pada penghematan. Ada sesuatu yang tidak tercatat dalam buku pengeluaran keluarga.
Makan bersama. Saya melihat bagaimana sebuah keluarga yang sejak pagi menjalani kesibukan masing-masing bisa kembali bertemu di depan makanan yang sama. Anak yang baru pulang sekolah, ayah yang pulang bekerja, ibu yang sejak pagi mengurus rumah, semuanya duduk dan makan. Barangkali percakapan mereka sederhana. Tentang sekolah, pekerjaan, tetangga, harga barang, tentang siapa yang belum membayar listrik, dan tentang rencana besok.
Namun, justru percakapan semacam itulah yang membuat sebuah keluarga tetap menjadi keluarga. Kita sering mengira keluarga dibentuk oleh hubungan darah. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, keluarga juga dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Makan bersama adalah salah satunya.
Karena itu, saya kira dapur dan meja makan mempunyai hubungan yang sangat penting. Dapur menghasilkan makanan, dan meja makan mempertemukan manusia. Di kota, keduanya menghadapi tantangan.
Kesibukan membuat waktu makan bersama semakin sulit. Orang bekerja dengan jam yang berbeda. Anak sekolah sampai sore. Ada yang bekerja malam, ada yang pulang larut. Bahkan ketika berada di rumah, seseorang bisa saja sibuk dengan telepon genggamnya.
Kita berada dalam satu rumah, tetapi belum tentu berada dalam satu kehidupan. Mungkin di sinilah pertanyaan tentang memasak menjadi menarik. Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita semakin sering membeli makanan?
Tentu saja tidak ada yang salah dengan membeli makanan. Kota memang menyediakan pilihan yang membuat hidup lebih mudah. Orang yang bekerja seharian tentu membutuhkan kepraktisan. Perempuan yang bekerja juga tidak seharusnya dibebani anggapan bahwa mereka harus selalu memasak.
Saya kira kita perlu berhati-hati di sini. Memasak tidak boleh menjadi ukuran untuk menilai apakah seorang perempuan adalah ibu yang baik atau buruk.
Perempuan bekerja mempunyai hak atas waktunya sendiri. Beban pekerjaan rumah tangga juga semestinya tidak selalu diletakkan di pundak perempuan. Jika seorang ibu tidak memasak karena bekerja, itu bukan berarti ia tidak mencintai keluarganya.
Cinta tidak selalu berbentuk makanan. Ada ibu yang menunjukkan kasih sayang dengan memasak, ada yang menunjukkannya dengan bekerja, ada yang mengantar anak sekolah, ada yang mendengarkan cerita anaknya. Ada pula yang mungkin tidak pandai memasak, tetapi selalu hadir ketika keluarganya membutuhkan.
Karena itu, memasak hanyalah salah satu bahasa kasih sayang. Tetapi bahasa itu, menurut saya, tetap penting untuk dibicarakan. Sebab kota perlahan-lahan membuat banyak hal menjadi transaksi.
Ketika lapar, kita membeli makanan. Ketika haus, kita membeli minuman. Ketika ingin berbincang, kita pergi ke kafe. Ketika ingin berkumpul, kita mencari restoran. Hampir semuanya tersedia dengan harga tertentu.
Kota memang luar biasa dalam menyediakan pilihan. Tetapi dalam kehidupan yang semakin praktis, kita perlu bertanya, bahwa, apakah semua yang menjadi mudah juga menjadi lebih bermakna? Saya tidak sedang mengajak orang kembali ke masa lalu. Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa dulu semuanya lebih baik.
Dulu pun ada persoalan. Tidak semua keluarga mampu makan dengan layak. Tidak semua ibu mempunyai waktu untuk memasak. Tidak semua rumah mempunyai dapur yang nyaman. Tetapi ada sesuatu yang mungkin perlahan berubah; cara kita menghabiskan waktu bersama.
Dapur adalah salah satu ruang yang memungkinkan manusia menghabiskan waktu tanpa merasa sedang melakukan sesuatu yang istimewa. Memotong bawang bersama anak, membersihkan ikan, mngupas kentang, menunggu air mendidih, mencicipi sayur, menambah garam, dan enyediakan nasi di meja.
Semua itu tampak remeh. Tetapi kehidupan keluarga sebenarnya tersusun dari hal-hal yang remeh semacam itu.
Saya membayangkan para ibu perantau di Denpasar yang memasak di dapur kecil rumah mereka. Mungkin mereka memasak makanan dari kampung halaman. Sambal yang pedas, sayur dengan bumbu tertentu. Masakan yang mungkin tidak dijual di warung dekat rumah.
Dengan memasak, mereka bukan hanya menghemat uang. Mereka juga membawa kampung halaman ke kota. Di dalam aroma masakan itu mungkin terdapat kenangan tentang rumah orang tua, tentang halaman, tentang tetangga, tentang masa kecil. Kota boleh mengubah alamat seseorang, tetapi makanan sering menjadi salah satu cara untuk mempertahankan ingatan tentang dari mana seseorang berasal.
Itulah sebabnya makanan mempunyai hubungan yang erat dengan identitas. Orang Jawa membawa selera Jawa. Orang Bali membawa rasa Bali. Orang Nusa Tenggara membawa makanan yang mengingatkan mereka pada daerah asal. Ketika semua bertemu di kota, makanan menjadi salah satu cara kebudayaan bergerak.
Denpasar, seperti kota-kota lainnya, bukan hanya tempat bertemunya manusia. Ia juga tempat bertemunya selera, kebiasaan, bahasa, ingatan, dan cara hidup. Di warung, pasar, rumah kontrakan, kos, dan dapur-dapur kecil, kebudayaan sebenarnya terus berlangsung.
Kita sering mencari kebudayaan di pura, museum, festival, atau upacara. Padahal kebudayaan juga berada di dapur. Ia ada dalam cara seseorang memotong cabai. Dalam cara seorang ibu memasak nasi, dalam cara sebuah keluarga membagi lauk, dalam kebiasaan menyisakan bagian tertentu untuk ayah. Dalam kebiasaan anak mengambil makanan terakhir setelah memastikan orang lain sudah makan.
Kebudayaan hidup dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering tidak kita sadari. Mungkin karena itu saya tidak ingin melihat memasak hanya sebagai pekerjaan rumah tangga.
Memasak adalah pekerjaan, tentu saja. Ia membutuhkan waktu, tenaga, pengetahuan, keterampilan, dan biaya. Tetapi memasak juga bisa menjadi tindakan sosial. Seorang ibu memasak untuk orang lain. Di situ ada orientasi kepada orang lain. Ada perhatian terhadap kebutuhan tubuh orang yang dicintainya.
Dalam dunia yang semakin individualistis, tindakan sederhana semacam itu terasa semakin penting. Kita hidup di kota dengan banyak orang, tetapi sering kali merasa sendirian. Kita bertemu begitu banyak manusia setiap hari, tetapi tidak semuanya menjadi bagian dari kehidupan kita.
Barangkali karena itu, makan bersama menjadi penting. Ia membuat kita berhenti sebentar. Meletakkan telepon, duduk, mengambil nasi, menyendok lauk. Dan, berbicara. Tidak perlu pembicaraan besar. Tidak perlu diskusi tentang politik atau filsafat. Percakapan sederhana pun cukup.
Sebab yang penting bukan selalu apa yang dibicarakan, melainkan bahwa kita hadir satu sama lain. Pada akhirnya, saya tidak tahu apakah memasak masih menjadi kebiasaan banyak ibu di kota. Saya tidak memiliki data untuk mengatakan bahwa jumlahnya semakin sedikit atau semakin banyak.
Saya hanya melihat dapur-dapur kecil di sekitar saya. Saya melihat para perantau yang tetap memasak meskipun hidup di kota. Saya melihat makanan sederhana yang disiapkan untuk keluarga. Saya melihat orang-orang duduk bersama setelah seharian bekerja.
Dari sana saya belajar bahwa memasak mungkin bukan sekadar soal makanan. Ia tentang cara manusia mempertahankan rumah ketika rumah itu berada jauh dari kampung halaman, tentang cara sebuah keluarga menghemat uang sekaligus menghemat jarak di antara mereka, tentang ibu yang mungkin tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintai keluarganya, tetapi setiap pagi menyalakan kompor.
Dan mungkin, di tengah kota yang menawarkan segala sesuatu untuk dibeli, dapur adalah salah satu ruang terakhir tempat manusia masih membuat sesuatu dengan tangannya sendiri untuk orang lain. Kita bisa membeli nasi, lauk, sambal. Bahkan kita bisa membeli pengalaman makan melalui berbagai aplikasi.
Tetapi ada satu hal yang tidak selalu bisa kita beli, yakni, perasaan bahwa seseorang telah menyiapkan makanan karena ia memikirkan kita. Mungkin itulah mengapa makanan buatan rumah terasa berbeda. Bukan karena bumbunya lebih lengkap atau harganya lebih mahal.
Melainkan karena di dalamnya ada waktu, tenaga, dan ingatan seseorang. Dan mungkin, ada cinta yang tidak pernah disebutkan dengan kata-kata. Di kota yang semakin cepat, seorang ibu yang masih memasak barangkali sedang melakukan sesuatu yang sederhana; memperlambat kehidupan keluarganya. Ia mengajak kita duduk, dan makan. Dan untuk beberapa saat, menjadi manusia yang tidak sedang mengejar apa-apa. Hanya bersama. ***
*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai.














