SAYA menyukai antropologi jauh sebelum saya benar-benar menjadi mahasiswa Antropologi. Ketika masih SMA di Negara, Jembrana, Bali, saya belum benar-benar memahami apa itu antropologi. Meskipun saat kelas III saya mengambil jurusan IPS dimana kami juga mendapat mata pelajaran antropologi.
Saya hanya merasa tertarik pada manusia, pada kebiasaan orang-orang, pada perbedaan cara hidup, pada cerita-cerita yang membuat seseorang menjadi dirinya sendiri. Saya suka mengamati orang dan mendengarkan percakapan orang dewasa. Saya tertarik pada pertanyaan sederhana, semisal, mengapa orang melakukan sesuatu dengan cara tertentu? Mengapa sebuah keluarga mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan keluarga lain? Mengapa orang begitu teguh mempertahankan sesuatu yang bagi orang lain mungkin tampak biasa saja?
Suatu hari, saya bertemu dengan seorang mahasiswa Antropologi Universitas Udayana. Namanya I Ngurah Suryawan. Waktu itu ia sudah semester lanjut. Sebagai anggota aktif UKM Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana, ia dikenal suka menulis. Bersama Anton Muhajir, Luh De Suriyani, dan beberapa kawan lainnya, Bli Ngurah datang ke SMAN 1 Negara, sekolah tempat saya belajar, untuk memberikan pelatihan jurnalistik.
Saya mengikuti pelatihan itu dengan senang sekaligus takjub. Bagi saya yang masih siswa SMA, mahasiswa adalah makhluk yang agak lain. Mereka tampak cerdas, suka berdiskusi, berani mengemukakan pendapat, dan, kalau memakai istilah anak SMA waktu itu, kelihatan progresif-revolusioner. Mereka seperti orang-orang yang sudah menemukan pintu menuju dunia yang lebih luas.
Saya bercakap-cakap dengan Ngurah Suryawan seperti adik dengan kakak yang lama berpisah. Ia bercerita tentang kehidupan kampus, menulis, organisasi, dan tentu saja antropologi. Saya tidak mengingat seluruh percakapan kami. Tetapi saya ingat perasaan setelahnya, yakni, saya ingin kuliah. Saya ingin menjadi seperti mereka. Dan saya ingin belajar antropologi.
Tahun itu pula saya mendaftar melalui PMDK untuk masuk Antropologi Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana. Saya lolos, namun kelulusan itu tidak serta-merta membuat saya menjadi mahasiswa Antropologi.
Gayung tidak bersambut. Keluarga angkat saya tidak setuju saya mengambil Antropologi. Pertimbangannya sederhana, tetapi masuk akal bagi merek; setelah tamat nanti saya mau bekerja sebagai apa?
Antropologi masih terdengar asing. Ekonomi lebih mudah dibayangkan. Pendidikan guru jelas pekerjaannya. Pariwisata juga dianggap punya masa depan karena Bali hidup dari pariwisata. Tetapi antropologi? Apa pekerjaannya?
Saya menuruti keinginan mereka. Saya mengambil Diploma Satu Bahasa Inggris di Lab Bahasa Universitas Udayana. Setelah itu saya juga sempat menjadi mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Tetapi hati saya tetap tertinggal di antropologi. Pada 2004, ketika masih berstatus sebagai mahasiswa Sastra Inggris, saya diam-diam mendaftar SPMB. Tanpa sepengetahuan keluarga, saya mencoba sekali lagi masuk Antropologi Budaya. Saya lolos. Kali ini saya tidak terlalu memikirkan apakah antropologi akan membawa saya ke pekerjaan tertentu. Saya memilihnya karena saya ingin belajar.
Saya kemudian menjadi mahasiswa Antropologi Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana. Saya menjalani kuliah pada 2004-2009. Lima tahun itu, kalau saya mengenangnya sekarang, adalah salah satu masa paling menyenangkan dalam hidup saya.
Saya belajar tentang manusia dari berbagai sudut. Saya mengenal kebudayaan bukan sekadar tari, upacara, pakaian adat, atau benda-benda yang sering dipajang sebagai identitas Bali. Kebudayaan ternyata jauh lebih rumit. Ia hidup dalam cara manusia berpikir, berbicara, makan, bekerja, mencintai, bertengkar, beragama, membangun keluarga, membentuk kelompok, dan menentukan siapa yang dianggap “kita” dan siapa yang dianggap “mereka”.
Saya belajar bahwa manusia tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu berada dalam jaringan hubungan. Saya membaca antropologi dengan perasaan seperti menemukan bahasa untuk menjelaskan banyak hal yang sebelumnya hanya saya rasakan secara samar. Saya mengenal nama-nama besar seperti Margaret Mead, Gregory Bateson, Bronislaw Malinowski, Clifford Geertz, dan banyak pemikir lainnya.
Saya belajar bahwa untuk memahami manusia, kita tidak cukup melihat perilakunya dari luar. Kita harus mencoba memahami dunia yang membuat perilaku itu masuk akal bagi orang yang menjalaninya.
Mungkin karena itulah antropologi kemudian menjadi sesuatu yang sangat personal bagi saya. Antropologi bukan sekadar ilmu yang pernah saya pelajari. Ia menjadi cara memandang. Bahkan ketika kemudian saya tidak menyelesaikan kuliah, saya tidak merasa benar-benar meninggalkan antropologi.
Badai datang pada 2009. Saya mengalami gangguan yang kemudian didiagnosis sebagai skizofrenia. Kuliah saya sebenarnya sudah hampir rampung. Saya telah mengikuti KKN dan tinggal menyelesaikan beberapa persoalan akademik sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
Tetapi ketika kondisi saya memburuk, semua rencana itu berhenti. Cuti kuliah tidak diurus. Saya kemudian dirawat di RSJ Provinsi Bali di Bangli. Setelahnya, saya kembali ke kampung halaman di Negara Sejak saat itu, hidup saya mengambil jalan yang sama sekali berbeda. Saya tidak menjadi sarjana antropologi.
Tidak ada toga, wisuda, dan ijazah yang menyatakan bahwa saya telah menyelesaikan ilmu itu. Tetapi ada sesuatu yang tetap tinggal, yakni, antropologi. Saya sering berpikir bahwa ilmu tidak selalu berakhir ketika seseorang tidak mendapatkan gelar.
Ada ilmu yang masuk ke kepala melalui buku, dosen, diskusi, dan ada pula yang masuk melalui pengalaman hidup. Dan mungkin yang paling penting adalah ilmu yang kemudian mengubah cara kita memandang dunia. Antropologi bagi saya termasuk yang terakhir. Darinya saya lebih dekat mengenal manusia.
Saya belajar bahwa manusia tidak bisa begitu saja dipisahkan menjadi baik dan buruk, asli dan pendatang, modern dan tradisional, pintar dan bodoh. Di balik setiap perilaku selalu ada konteks. Di balik setiap pilihan ada pengalaman. Di balik setiap konflik ada sejarah yang panjang. Karena itu pula, semakin lama saya justru semakin galau melihat bagaimana antropologi hadir dalam kehidupan Bali hari ini.
Saya bertanya kepada diri sendiri: setelah begitu banyak antropolog melakukan penelitian tentang Bali, setelah begitu banyak buku dan skripsi ditulis, setelah antropologi diajarkan bertahun-tahun di perguruan tinggi, seberapa jauh pengetahuan itu ikut membantu masyarakat Bali memahami persoalan mereka sendiri?
Saya tidak sedang mengatakan bahwa antropologi tidak berkontribusi. Tentu banyak kontribusi telah diberikan. Antropolog telah meneliti desa, adat, agama, kasta, ritual, pariwisata, perubahan sosial, migrasi, ekonomi, lingkungan, dan berbagai persoalan lainnya. Banyak penelitian menjadi referensi penting bagi akademisi, pemerintah, maupun masyarakat.
Tetapi saya kadang merasa ada jarak yang terlalu jauh antara pengetahuan antropologi dengan persoalan yang sedang berdenyut di jalan-jalan Bali.
Bali hari ini berubah sangat cepat. Penduduk datang dari berbagai daerah. Kota-kota tumbuh. Pariwisata berkembang sekaligus menghadirkan persoalan baru. Ruang hidup berubah menjadi ruang ekonomi. Desa mengalami perubahan demografis. Bahasa-bahasa baru terdengar di warung kopi. Anak-anak muda Bali berhadapan dengan dunia digital yang tidak mengenal batas desa.
Di tengah perubahan itu, identitas menjadi semakin penting. Tetapi identitas yang terlalu keras juga bisa berbahaya. Kita melihat primordialitas muncul dalam berbagai bentuk. Kesukuan menjadi alasan untuk menarik garis antara “orang kita” dan “orang lain”. Penduduk lokal kadang merasa ruang hidupnya direbut oleh pendatang. Pendatang pun bisa merasa dicurigai, ditolak, atau diperlakukan sebagai orang luar meskipun telah tinggal bertahun-tahun di Bali.
Di sisi lain, tidak semua kegelisahan penduduk lokal dapat begitu saja disebut sebagai xenofobia. Ada persoalan struktural di dalamnya. Ada harga tanah yang semakin mahal, perubahan kepemilikan ruang, persaingan pekerjaan, kepadatan penduduk, persoalan lingkungan, perubahan budaya. Dan, ada kecemasan bahwa masyarakat lokal menjadi penonton di tanah sendiri.
Sebaliknya, pendatang bukan kelompok yang seragam. Mereka datang dengan latar belakang, kebutuhan, kelas sosial, pendidikan, dan tujuan hidup yang berbeda. Sebagian datang sebagai pekerja, pedagang, profesional, atau orang yang hanya ingin mencari kehidupan yang lebih baik.
Maka pertanyaannya menjadi lebih rumit daripada sekadar; siapa yang salah? Di sinilah saya merasa antropologi seharusnya kembali mengambil tempat. Antropologi seharusnya membantu kita membongkar persoalan sebelum kita terburu-buru memberikan penilaian.
Ketika orang Bali berkata, “Pendatang mengambil pekerjaan kami”, antropologi dapat bertanya; pekerjaan seperti apa? Siapa yang menguasai modal? Bagaimana sistem rekrutmen bekerja? Mengapa perusahaan memilih pekerja tertentu? Apakah masalahnya semata-mata etnisitas, atau ada persoalan pendidikan, upah, keterampilan, dan struktur ekonomi?
Ketika pendatang mengatakan, “Orang Bali tidak menerima kami”, antropologi juga harus bertanya; siapa orang Bali yang dimaksud? Di mana mereka tinggal? Dalam situasi sosial seperti apa penolakan itu terjadi? Apakah benar penolakan bersifat budaya, atau ada pengalaman konflik sebelumnya?
Begitu pula ketika masyarakat berbicara tentang “asli” dan “pendatang”. Siapa sebenarnya yang disebut asli? Sejak kapan seseorang menjadi asli? Apakah identitas hanya ditentukan oleh garis keturunan? Bagaimana dengan orang yang lahir di Bali tetapi orang tuanya berasal dari luar Bali? Bagaimana dengan orang yang datang puluhan tahun lalu dan sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat? Bagaimana dengan anak-anak mereka yang lahir dan tumbuh di sini?
Antropologi seharusnya membantu kita melihat bahwa identitas bukan benda mati. Ia dinegosiasikan, berubah, dibentuk oleh sejarah, kekuasaan, ekonomi, perkawinan, migrasi, agama, pendidikan, dan pengalaman sehari-hari.
Saya sering membayangkan seandainya pengetahuan semacam ini lebih banyak masuk ke ruang publik. Bukan hanya menjadi artikel jurnal yang dibaca sesama akademisi. Bukan hanya menjadi skripsi yang selesai setelah ujian lalu disimpan di perpustakaan.
Saya ingin antropologi lebih sering turun ke warung kopi, ke banjar, ke sekolah, ke media, ke ruang kebijakan, ke media sosial, dan ke percakapan sehari-hari. Antropologi harus berani berbicara kepada masyarakat dengan bahasa yang dipahami masyarakat.
Bukan untuk menggurui. Justru untuk membantu masyarakat memahami dirinya sendiri. Saya mengatakan ini bukan sebagai seorang antropolog. Saya bahkan tidak berhak menyebut diri saya antropolog karena saya tidak menyelesaikan pendidikan tersebut. Saya hanyalah seseorang yang pernah belajar antropologi.
Namun mungkin justru karena tidak menjadi antropolog itulah saya bisa melihatnya dari jarak tertentu. Saya melihat antropologi sebagai ilmu yang sangat saya sayangi, tetapi sekaligus ilmu yang membuat saya gelisah. Saya menyayanginya karena ia mengajari saya untuk tidak buru-buru membenci manusia.
Ia mengajari saya bahwa manusia selalu punya alasan, mengajari saya mendengarkan sebelum menyimpulkan. Dan, mengajari saya melihat kebudayaan bukan sebagai benda museum, melainkan sebagai sesuatu yang terus dibuat manusia setiap hari.
Dan pengalaman hidup saya sendiri kemudian membuat pelajaran itu semakin berarti. Saya pernah merasakan bagaimana seseorang bisa dilihat bukan sebagai manusia utuh, melainkan melalui label yang melekat padanya.
Mungkin karena itu saya semakin percaya bahwa cara pandang antropologi penting, yakni, melihat manusia lebih dulu sebelum melihat kategorinya. Orang Bali, orang Jawa, orang Sasak, orang NTT. Pendatang. Lokal. Orang miskin. Orang kaya.
Semua kategori itu mungkin berguna untuk analisis. Tetapi manusia selalu lebih besar daripada kategori yang kita tempelkan kepadanya. Antropologi mengajarkan saya untuk curiga terhadap kategori yang terlalu mudah.
Dan Bali hari ini membutuhkan cara berpikir semacam itu. Bali membutuhkan cara pandang yang mampu melihat perubahan tanpa panik, tetapi juga tanpa menutup mata terhadap ketidakadilan. Kita tidak mungkin menghentikan migrasi. Kita tidak mungkin mengembalikan Bali ke masa lalu. Kita tidak mungkin membuat kebudayaan tetap sama selamanya.
Tetapi kita bisa bertanya; Bali seperti apa yang ingin kita bangun? Siapa yang mendapatkan ruang? Siapa yang kehilangan ruang? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang tersisih? Bagaimana orang lokal dan pendatang dapat hidup bersama tanpa yang satu merasa terancam dan yang lain merasa selalu dicurigai?
Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan banyak ilmu. Ekonomi diperlukan. Sosiologi diperlukan. Ilmu politik diperlukan. Hukum diperlukan. Sejarah diperlukan. Dan antropologi, saya kira, juga sangat diperlukan.
Sebab pada akhirnya yang sedang kita bicarakan adalah manusia. Manusia yang hidup bersama manusia lain. Saya tidak pernah mendapatkan gelar sarjana antropologi. Nama saya tidak pernah dipanggil dalam upacara wisuda sebagai sarjana ilmu antropologi. Tetapi selama lima tahun belajar di sana, saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih sulit diukur daripada selembar ijazah; cara memandang manusia.
Itulah sebabnya saya tidak pernah menganggap lima tahun itu sia-sia. Saya memang tidak tamat antropologi. Tetapi antropologi belum tamat di dalam diri saya. Ia terus muncul ketika saya menulis, ketika saya menjadi wartawan, ketika saya memperhatikan perubahan Bali, ketika saya berbicara tentang migrasi, kebudayaan, agama, stigma, masyarakat, kesepian, media sosial, atau kesehatan mental.
Mungkin pada akhirnya, seseorang tidak selalu harus menjadi apa yang ia pelajari. Kadang-kadang, ia hanya perlu membiarkan apa yang dipelajarinya mengubah cara ia melihat dunia.
Dan bagi saya, antropologi telah melakukan itu. Antropologi sangat kusayangi. Bukan karena ia pernah menjadi jurusan kuliah saya. Bukan pula karena saya pernah begitu dekat dengan gelar sarjana yang akhirnya tidak pernah saya dapatkan.
Saya menyayanginya karena antropologi mengajari saya satu hal yang hingga hari ini masih terus saya pelajari; sebelum memahami dunia, belajarlah memahami manusia.
Dan mungkin, sebelum kita sibuk mempertahankan siapa yang paling Bali, paling asli, paling benar, atau paling berhak atas sebuah tempat, kita perlu kembali bertanya sesuatu yang lebih sederhana; bagaimana manusia bisa hidup bersama manusia lain? Pertanyaan itu tampaknya sederhana. Tetapi justru di sanalah antropologi menjadi sangat penting. ***
*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis, penyair, dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Ia pernah kuliah Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana pada 2004–2009, meski tidak sampai tamat. Sejak 2001 ia menulis puisi dan kemudian aktif sebagai jurnalis. Karya-karyanya berupa puisi, esai, dan artikel tersebar di berbagai media.














