ADA anak-anak yang sejak kecil sudah membawa sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya, harapan orang tua. Harapan itu sering kali datang dengan cara yang sangat halus. Tidak selalu berupa perintah. Kadang hanya sebuah kalimat sederhana di meja makan, seperti “Kamu harus lebih rajin belajar.” Atau, “Bapak dan Ibu ingin kamu punya masa depan yang baik.” Bisa juga lebih spesifik: “Kalau sudah besar, kamu jadi dokter, ya.” “Kamu harus kuliah di universitas bagus.” “Jangan seperti Bapak dan Ibu yang dulu.”
Tidak ada yang terdengar salah dari kalimat-kalimat itu. Bahkan semuanya terdengar seperti bentuk kasih sayang. Tetapi bagi anak, harapan orang tua tidak selalu sesederhana itu. Harapan dapat berubah menjadi kewajiban. Kewajiban dapat berubah menjadi beban. Dan beban yang dibawa terlalu lama dapat membuat seorang anak takut berjalan ke mana-mana.
Saya melihat anak yang terlalu banyak dibebani harapan orang tuanya cenderung menjadi kurang berani dalam mengarungi kehidupan. Ia terlalu banyak memikirkan apakah langkahnya akan mengecewakan orang lain. Ia tidak lagi bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi lebih sering bertanya, “Apa yang diharapkan dari saya?”
Padahal harapan itu sendiri sesuatu yang bias. Bahkan kadang sepele. Bagi orang tua, menjadi juara kelas mungkin hanya sebuah keinginan. Bagi anak, menjadi juara kelas bisa terasa seperti sebuah misi yang harus berhasil dijalankan. Ketika ia gagal, yang terasa bukan sekadar kekalahan dalam sebuah perlombaan. Ada perasaan bahwa dirinya telah mengecewakan orang tua.
Di sinilah masalahnya. Kita sering lupa bahwa anak bukan tempat untuk menaruh kembali mimpi-mimpi kita yang belum selesai. Orang tua tentu boleh memiliki harapan. Bahkan mungkin sulit bagi orang tua untuk sama sekali tidak memiliki harapan kepada anak. Orang tua ingin anaknya hidup lebih baik, lebih aman, lebih berhasil daripada dirinya. Itu manusiawi.
Tetapi ada batas yang sering tidak kita sadar, yakni, kapan harapan berubah menjadi tuntutan? Dan kapan tuntutan berubah menjadi kehidupan yang dijalani anak demi memenuhi keinginan orang lain? Saya teringat Kahlil Gibran dalam “On Children”, bagian dari The Prophet. Gibran menulis bahwa anak bukanlah milik orang tuanya. Orang tua adalah busur, sedangkan anak adalah anak panah yang akan melesat ke kehidupan mereka sendiri.
Metafora itu sederhana, tetapi sangat dalam. Busur memiliki tugas untuk menyediakan tenaga, arah awal, kestabilan, dan tempat bagi anak panah untuk dilepaskan. Tetapi busur tidak dapat hidup menggantikan anak panah. Ia tidak dapat menentukan seluruh perjalanan anak panah setelah dilepaskan.
Orang tua pun demikian. Tugas orang tua bukan menentukan seluruh kehidupan anak. Tugasnya menyediakan tempat yang aman untuk tumbuh, memberikan pendidikan, memperkenalkan dunia, mengajarkan nilai, menunjukkan kemungkinan, dan membekali anak agar suatu hari mampu berjalan dengan kakinya sendiri.
Setelah itu, ada saat ketika tangan harus dilepaskan. Mungkin justru di situlah cinta orang tua diuji. Melepaskan anak bukan berarti berhenti mencintainya. Sebaliknya, melepaskan adalah salah satu bentuk cinta yang paling sulit. Sebab di dalamnya terdapat kesediaan untuk menerima bahwa anak kita bukan perpanjangan diri kita.
Ia manusia lain. Anak mempunyai pikiran sendiri, ketakutan sendiri, kesukaan sendiri, bakat sendiri, bahkan jalan hidup sendiri. Kita sering ingin anak menjadi seperti kita. Atau sebaliknya, menjadi seseorang yang sama sekali berbeda dari kita karena kita tidak ingin ia mengalami kegagalan yang pernah kita alami.
Orang tua yang dulu tidak sempat kuliah ingin anaknya kuliah setinggi mungkin. Orang tua yang dulu hidup kekurangan ingin anaknya memiliki pekerjaan yang mapan. Orang tua yang dulu gagal menjadi sesuatu ingin anaknya mencapai sesuatu itu. Keinginan tersebut dapat dimengerti. Tetapi anak tidak seharusnya menjadi tempat bagi orang tua untuk menyelesaikan masa lalunya.
Kalau seorang ayah dulu gagal menjadi dokter, anak tidak otomatis harus menjadi dokter. Kalau seorang ibu dulu tidak sempat menjadi seniman, anak tidak harus menjadi seniman. Kalau orang tua dulu tidak sempat kuliah di universitas ternama, anak tidak harus menanggung kewajiban untuk masuk ke sana. Anak bukan kesempatan kedua bagi orang tua. Anak adalah kesempatan pertama bagi dirinya sendiri. Karena itu saya kira kita perlu melihat kembali cara kita membesarkan anak-anak di Indonesia.
Antropolog Jepang Saya Sasaki Shiraishi, dalam Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik, memperlihatkan bagaimana keluarga tidak hanya dapat dipahami sebagai ruang domestik. Dalam konteks Indonesia, terutama Orde Baru, hubungan keluarga juga menjadi bagian dari konstruksi budaya dan politik. Shiraishi memperlihatkan bagaimana hubungan bapak, ibu, dan anak berkelindan dengan hubungan kekuasaan, termasuk bagaimana Soeharto ditempatkan sebagai semacam “Bapak” dalam hierarki sosial-politik.
Buku itu membuat saya berpikir bahwa hubungan anak dan orang tua tidak pernah sepenuhnya merupakan hubungan pribadi. Ada kebudayaan yang ikut bekerja di dalamnya. Ada nilai tentang kepatuhan, penghormatan kepada orang yang lebih tua, ada anggapan bahwa orang tua lebih tahu tentang kehidupan. Ada keyakinan bahwa anak yang baik adalah anak yang menurut. Ada pula anggapan bahwa keberhasilan anak merupakan keberhasilan keluarga.
Semua itu tidak selalu buruk. Masyarakat membutuhkan nilai, aturan, dan hubungan antargenerasi. Anak memang membutuhkan bimbingan. Tetapi ketika kepatuhan menjadi ukuran utama seorang anak, kita bisa lupa mengajarkan sesuatu yang tidak kalah penting, adalah, keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.
Barangkali inilah salah satu persoalan yang diwariskan dalam cara kita membesarkan anak. Anak diminta menjadi baik, tetapi tidak selalu diajari bagaimana menjadi bebas. Anak diminta berhasil, tetapi tidak selalu diajari bagaimana menghadapi kegagalan. Juga, anak diminta mempunyai cita-cita, tetapi tidak selalu diberi kesempatan untuk menemukan cita-citanya sendiri.
Anak diminta membanggakan orang tua, tetapi tidak selalu ditanya apakah ia bahagia menjalani kehidupan yang dipilihkan kepadanya. Kita kemudian heran ketika seorang anak tumbuh menjadi orang dewasa yang takut mengambil keputusan.
Ia takut salah jurusan. Takut salah pekerjaan, mengecewakan keluarga, takut dianggap gagal, dan takut berbeda. Bahkan mungkin takut mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia sebenarnya tidak menginginkan kehidupan yang sudah dirancang untuknya.
Padahal hidup memang penuh dengan kesalahan. Tidak menjadi juara kelas bukan sesuatu yang memalukan. Tidak memenangkan lomba bukan akhir dunia. Tidak masuk universitas yang diinginkan bukan berarti kehidupan selesai. Tidak mendapatkan pekerjaan impian pada usia tertentu juga bukan kegagalan sebagai manusia. Kita terlalu sering mengajarkan anak tentang cara memenangkan pertandingan, tetapi kurang mengajarkan bagaimana pulang setelah kalah.
Padahal kehidupan jauh lebih banyak berisi kekalahan kecil daripada kemenangan besar. Ada pekerjaan yang tidak diterim, ada cinta yang tidak berbalas, ada usaha yang bangkrut, ada cita-cita yang berubah, ada pertemanan yang berakhir. Dan, ada kesempatan yang hilang. Anak yang sejak kecil selalu dibebani target keberhasilan mungkin akan menganggap semua itu sebagai bencana. Sebaliknya, anak yang sejak kecil diajarkan bahwa berhasil dan gagal adalah bagian biasa dari kehidupan akan lebih mudah berdiri kembali.
Karena itu saya tidak sedang mengatakan bahwa orang tua harus berhenti memiliki harapan. Tidak. Anak tetap membutuhkan pelita dan peta. Membiarkan anak hidup secara natural bukan berarti membiarkan mereka berjalan tanpa arah. Kebebasan tanpa pengetahuan juga dapat menjadi bentuk pengabaian.
Anak membutuhkan orang tua yang mengenalkan dunia kepadanya. Ajari ia membaca, berbicara, menghargai orang lain, dan juga mengenali dirinya sendiri. Perkenalkan kepadanya berbagai kemungkinan. Bantu ia menemukan apa yang disukainya. Perhatikan bakatnya. Kenalkan juga kekurangannya.
Tetapi jangan terlalu cepat mengambil alih kemudi kehidupannya. Sebab mengenali anak berbeda dengan mengendalikan anak. Orang tua yang baik bukan orang tua yang tahu persis anaknya akan menjadi apa dua puluh tahun mendatang. Orang tua yang baik mungkin justru orang tua yang bersedia mengatakan; “Saya tidak tahu kamu akan menjadi apa. Tetapi saya akan menemanimu menemukan jalanmu.”
Ada perbedaan besar antara menemani dan menentukan, antara membimbing dan mengendalikan, antara memberikan peta dan memaksa anak mengikuti satu-satunya jalan yang ditunjukkan peta itu. Saya kira kita perlu memberi anak ruang untuk salah. Biarkan mereka memilih buku yang salah. Memilih kegiatan yang ternyata tidak cocok, mencoba sesuatu lalu meninggalkannya mengikuti perlombaan lalu kalah. Memilih jurusan kemudian menyadari bahwa itu bukan dunianya.
Sebab dari kesalahan-kesalahan kecil itulah seseorang belajar mengenali dirinya. Identitas tidak selalu ditemukan melalui keberhasilan. Kadang identitas justru ditemukan melalui kegagalan. Kita baru tahu bahwa kita tidak suka sesuatu setelah mencobanya. Kita baru tahu kemampuan kita setelah mengalami batas. Kita baru tahu apa yang penting bagi hidup kita setelah kehilangan sesuatu.
Anak yang terlalu dilindungi dari kegagalan mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak siap menghadapi kenyataan. Sementara dunia tidak pernah berjanji akan selalu sesuai dengan harapan orang tua. Karena itu, mungkin yang perlu kita wariskan kepada anak bukan daftar keberhasilan, melainkan keberanian. Keberanian untuk mencoba, untuk salah, untuk gagal, untuk berbeda. Dan, yang paling sulit, keberanian untuk memilih hidupnya sendiri.
Saya membayangkan orang tua sebagai sebuah rumah. Rumah bukan penjara, melainkan tempat seseorang pulang setelah pergi jauh. Tempat ia beristirahat ketika lelah, dan tempat ia merasa aman. Tetapi rumah yang baik juga tahu bahwa penghuninya suatu hari harus keluar. Anak harus pergi. Bukan karena rumah tidak penting, tetapi karena dunia di luar rumah juga merupakan bagian dari kehidupannya. Di sanalah ia menemukan manusia lain, pekerjaan, cinta, kehilangan, kegagalan, keberhasilan, dan dirinya sendiri.
Mungkin tugas orang tua memang seperti busur yang dikatakan Gibran; menyediakan kekuatan terbaik agar anak panah dapat melesat sejauh mungkin. Tetapi anak panah bukan milik busur. Ia mempunyai lintasannya sendiri. Dan mungkin tugas kita sebagai orang tua, sebagai masyarakat, bahkan sebagai bangsa adalah belajar menerima kenyataan sederhana itu. Anak-anak Indonesia tidak harus selalu menjadi pahlawan, selalu juara, dan selalu membanggakan orang tua.
Tidak harus menyelesaikan semua mimpi yang gagal diwujudkan generasi sebelumnya. Mereka hanya perlu diberi kesempatan untuk hidup. Sebab barangkali yang paling kita butuhkan dari anak-anak bukan keberhasilan mereka memenuhi harapan kita, melainkan keberanian mereka menemukan harapan mereka sendiri.
Biarkan langkah mereka ringan. Jangan memasang terlalu banyak rantai harapan pada kaki mereka. Berikan mereka pelita, peta, dan rumah untuk pulang. Lalu, ketika waktunya tiba, lepaskan. Biarkan mereka berjalan, tersesat sebentar, lalu menemukan jalan. Sebab anak-anak bukan masa depan orang tua. Mereka adalah masa depan mereka sendiri. ***
Denpasar, 12 Agustus 2026
*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.











