Esai: Muhammad Solihin Oken
SAJAK-sajak penyair Subagio Sastrawardoyo dikenal memiliki kekayaan bentuk dan tema. Selain itu, unsur yang paling urgen dan signifikan yang melekat dalam elemen sajaknya adalah unsur imajinasi dan neo empirisme sebagai pengembangan olah bathin atas pengalaman hidup. Terma sajak imajinatif dan neo-empirisme Subagio Sastrowardoyo yang membawa kesadaran atas mitos sangat menarik untuk dibahas berkenaan dengan aspek dalam dan luar sajak serta misteri yang melingkupinya sebagai bentuk pengagungan atas tubuh perempuan dan mitos kekuasaan sebagaimana yang tertuang dalam sajak “Janji” di bawah ini.
JANJI
Malam hari aku telanjang bulat berbaring di pantai. Tak ada saksi. Hanya dengan menanggalkan sisa peradaban aku bisa menikmati kehadiran perempuan yang kunanti.
Dia datang waktu laut mulai surut. Tetesan air dari rambutnya saja menyamarkan kesempurnaan tubuhnya. Ia pun berjanji lagi: “Siapa berani bercumbu denganku, keturunannya akan menjadi raja di pulau ini.”
Percumbuan kami menjadi pergulatan antara hewan jantan dan betina. Hasrat kami memuncak dalam gelombang laut yang bergulung-gulung tanpa henti. Rindu kami tidak lekas terpuaskan sampai aku terhempas di tepi batu karang pagi hari.
Tenagaku susut habis bercumbu setiap kali. Aku rela mati. Aku yakin akan menjadi ayah dari keturunan yang bakal jadi raja di pulau ini.
15/2/95
Kekuatan gaib dan mistis hadir dalam sajak naratif ini dalam percakapan intim dan sublim proses olah kebathinan yang sifatnya transedental dan pengalaman si aku puitik memasuki dan menelusi dunia jagat mitos, efeknya bahasa sajak memberi banyak dimensi, pada dimensi sosial, budaya, sejarah, moralitas dan hukum, serta politik dan kekuasaan.
Daripada itu, tanpa suatu jarak hubungan dalam tindakan atau pun dalam percakapan subjek–objek- Subagio Sastrowardoyo secara sangat terang dan silau mengekploitasi relasi intim atas tubuh dan seksualitas. Narasi tubuh yang dibawa penyair sekaligus mengeksplor ruang subjek atas waktu yang bergerak cepat dan juga kepada bentuk gaya naratif dengan bahasa yang sederhanna menghadirkan kompleksitas sehingga terasa segar sebagai realisme baru dan imajinasi eksploitatif Subagio Sastrowardoyo, yang membawa sensasi atas tubuh dan ruang.
Demikian sekelumit awal pembuka wicara kita perihal sajak Subagio yang berkait dengan jagat dunia mitos dan akan kita elaborasi lebih jauh pertemuan makna antara tubuh (perempuan) dan mitos (kekuasaan) pada sajak “Janji” yang ditulis tiga bulan sebelum penyair“Dan Kematian Semakin Akrab” ini wafat. (Sajak “Janji” ini ditulis oleh penyairnya bertiti mangsa 15 Febuari 1995, pertama kali muncul di Jurnal Kalam, Nomor 6, tahun 1995).
Mitos, Optimisme dan Perayaan Tubuh
Betapa pun kata dipijak, semesta sajak adalah pencarian penyair. Dunia yang merangkum segala citraan dalam pesona kehidupan. Di antara waktu dan sejarah, akar segala akar, Subagio Sastrawardoyo melintasi perjalanan dunia makna dan pengalaman (empirisme) yang melampau (i), bersuka durga atas narasi dan mitos dalam pertemuannya kepada laut.
Laut yang mengembang, membujur pada citraan keindahan tubuh perempuan dan sensualitasnya, pusaran inti gelombang kekuatan, kuasa serta berahi. Seiring keyakinan d tanah Jawa akan kekuatan mitos Nyai Roro Kidul sebagai penguasa kerajaan laut dan penjaga kekuasaan dan keseimbangan di bumi pulau Jawa.
Sajak-sajak yang bertema laut, umumnya penyair memandang laut sebagai dunia yang berjarak, jauh dan asing. Namun, tidak demikian pada sajak “Janji” Subagio Sastrowardoyo di sini. Subagio memandang laut sebagai yang sudah ‘terpetakan’, dekat dan intim. Subjek- aku puitik, menghantarkan kita masuk ke dalam lukisan suasana laut di pantai malam hari dalam laku yang aneh dan msterius. Sebagaimana bait pertama sajak “janji” ini. Malam hari aku telanjang bulat berbaring di pantai. Tak ada saksi. Hanya dengan menanggalkan sisa peradaban aku bisa menikmati kehadiran perempuan yang kunanti.
Penyair Subagio Sastrowardoyo dalam pembuka sajak ini berolah bahasa menghubungkan subjek diri berlaku sebagai narrator dan juga aku puitik, sebagaimana si aku puitik menggambarkan rencana pertemuan dengan perempuan yang dinantinya. Siapa si aku puitik? Siapa perempuan? Pada bagian awal sajak, narrator tidak atau belum menerangkan identitas subjek dan sepenuhnya atas tindak laku si aku puitik yang aneh penuh misteri , membawa suatu teka-teki
Dengan bahasa sederhana, Subagio Sastrowardoyo membawa sensasi sajak lewat pertemuan waktu (malam hari), ruang (pantai) dan ketelanjangan subjek diri si aku puitik (penyair secara sengaja dan terang menggambarkan detil keintiman seakan ingin, memainkan emosi, fantasi dan sensasi publik sajak.
Hubungan kalimat pertama:
Malam hari aku telanjang bulat berbaring di pantai
dan kalimat kedua:
Tak ada saksi.
Kalimat kedua sebuah frasa yang menunjukkan kesendirian atau kekosongan. Makna kehadiran dan ketidakhadiran menjadi sebentuk eksistensi. Tubuh adalah eksistensi. Dimensi waktu menggamit ketelanjangan atas tubuh.
Kemudian bait pertama ini ditutup dengan:
Hanya dengan menanggalkan sisa peradaban aku bisa menikmati kehadiran perempuan yang kunanti.
Olahan narasi dan bahasa, gerak perlahan sajak di sana bila diperhatikan terdiri atas satu kalimat, satu frasa dan satu proposisi dalam ruang sajak di bait pertama. Hubungan kalimat tunggal (induk kalimat), frasa (anak kalimat) dan proposisi yang tidak hanya berkait hubungan kausal, tapi juga hubungan waktu dan antar waktu membawa lompatan suasana pada elemen- elemen baru persajakan yang coba dielaborasi penyair Subagio Sastrowardoyo.
Bait pertama pembuka sajak mengatasi narasi sajak dalam perhubungan yang simetris–asimetris, logis–non logis, sakral–profan. Efeknya ruang imajinasi meluas dan makna sajak bebas, tak terbatas, tak terkendali. Tak ada penanda. Baik pada subjek, si aku puitik, mau pun tentang si perempuan dan konteks antar relasi keduanya. Pemula sajak di depan ini sebagai efek lensa cembung. Penyair secara sengaja membawa distorsi teks kepada (mata) pembaca. Penyair bergerak asimetris sementara pembaca menangkapnya secara simetris, penyair bergerak dari logos, pembaca membaacanya sebagai non logos, penyair memanifestasikan sesuatu yang sakral, pembaca menerimanya sebagai profan.
Dengan mengadopsi teknik prosa modern (baca kontemporer), dinamika sajak Subagio Sastrowardoyo ini muncul dari yang tidak tampak, bukan sesuatu yang tampak di dalam teks sajak. Hal yang tampak mengatasi alam pikir (logos), kekuasaan nilai dan politik, ideologi dan lainnya. Hubungan teks sajak dan narasi yang ingin dikembangkan menjadi penting di sini. Narasi yang dimunculkan dan konteks yang dimajukan penyair menjadi bagian penting dari teks sajak. Narasi dan konteks dihadirkan penyair pada kata: menanggalkan sisa peradaban. Penyair mengatasi narasi peradaban. Konteksnya pada sisa peradaban, sebagai peradaban yang telah tidak relevan lagi, atau kehilangan konteks ke masa depan, yang dianggap sendi dan bangunan nillainya telah hancur, ambruk atau dikesampingkan.
Pada logos, penyair membawa optimisme sajak dalam diri subjek si aku puitik. Optimismenya pada laut, pada tubuh, pada inti pengorbanannya atas maut. Perjumpaan dan percumbuan dirinya dengan perempuan menjadi bentuk ujian keberanian dan kekuatan dirinya sebagai lelaki sejati dan sakti.Optimisme melekat pada janji, yang membawa ekspektasi yang luas pada sikap si lelaki bahwa usaha dan pengorbanannya tak akan sia-sia. Dia akan mampu bertahan hidup meski tak terbayang kekuatan dirinya mengatasi percumbuan yang ekstrim dengan si perempuan penguasa laut. Dan melepaskan prinsip, nilai dan kemanusiaan. Sebagaimana diungkapkannya si aku puitik di ujung sajak: Tenagaku susut habis bercumbu setiap kali. Aku rela mati. Aku yakin akan menjadi ayah dari keturunan yang bakal jadi raja di pulau ini.
Optimisme hidup di sini menjadi penting atas gempuran dan percumbuan dahsyat yang penuh maut. Dan ancaman kematian di sisi lain bagi sia aku puitik (penyair) harus dihadapi dengan sikap berani dan wajar. Atau dengan kata lain bagi penyair, maut layaknya sebuah hubungan relasi seks, dalam transaksi dan kuasa.
Bagaimana kemudian penyair memandang mitos? Mitos yang berdiri atas kepercayaan membawa kepercayaan akan hubungan, kepercayaan atas tubuh,dan kepercayaan pada sex itu sendiri. Di sini penyair Subagio Sastrowardoyo memiliki sikap yang positif atas mitos, sebagai penguat diri dan penopang untuk membangun suatu cita-cita (besar) dan lepas atau terhindar dari masalah yang krusial.
Sementara hal terkait Seks dan tubuh yang sakral didistorsi sebagai profan: menikmati kehadiran perempuan yang kunanti.
Dalam banyak percakapan sajak, narasi tentang laut mengembalikan eksistensi pada penciptaan dan logos. Sebagai perbandingan misalnya sedari awal Sutan Takdir Alisyahbana telah bertepuk rindu dengan laut. Chairil Anwa berintim mesra dengan laut sebagai pusat arus dan inti jagad semesta. Sutan Takdir bicara tentang laut pada sajak “Menuju Ke Laut”:
Kami telah meninggalkan engkau,
Tasik yang tenang, tiada beriak,
—–
“Ombak ria berkejar-kejaran
Di gelanggang biru bertepi langit….”
Chairil Anwar memandang laut sebagai bentuk manifestasi kekuatan dalam hubungan alam dan
nenek moyang, dalam sajak: “Cerita Buat Dien Tamaela”
Beta pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Beta pattiradjawane
Kikisan laut
Berdarah laut
…..
Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!
—–
Beta pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.
Dalam sajak Menuju Ke Laut, Sutan Takdir Alisyahbana bergerak dalam logos ‘modernisme’. Sementara Chairil Anwar pada Cerita Buat Dien Tamaela bergerak pada logos “Eksistemsi” jati diri sebagai kekuatan utama. Dan Subagio Sastrowardoyo tergerak pada logos; kuasa dan mitos.
Tubuh Dan Seksualitas
Tubuh sebagai wujud kehadiran yang nyata menjadi penting dalam perhubungan relasi antara si aku puitik dan si perempuan. Sebagaimana dikatakan narator (si aku puitik) pada bait kedua sajak: dia datang waktu laut mulai surut. Tetesan air dari rambutnya saja menyamarkan kesempurnaan tubuhnya. Ia pun berjanji lagi: “Siapa berani bercumbu denganku, keturunannya akan menjadi raja di pulau ini.”
Penyair Subagio Sastrowardoyo dalam pembuka bait kedua mengubah subjek ‘perempuan’ dengan kata ganti orang ketiga: dia.
dia datang waktu laut mulai surut
Penggambaran kehadiran subjek perempuan dan waktu, membangun suasana naratif sajak sampai kepada deskriftif tentang tubuh. Penggambaran detal suasana menunjukkan penyair ingin lebih tegas melepaskan diri dari tabu yang membawa diri pada ketertutupan dan menindas kebebasan yang menyiksa bathin. Sensualitas, erotisme dimunculkan melawan tabu dan moralitas kekuasaan.
Antusiasme tubuh dan berahi di sini sebagai kewajaran dari sifat hewani yang melekat pada diri manusia. Kesadaran atas tubuh dan aktivisme pemenuhan hasrat seksual sebagai sebuah perayaan tubuh. Dan dalam dinamikanya, subjek ‘dia’ berganti ‘ia’.
Ia pun berjanji lagi: “Siapa berani bercumbu denganku, keturunannya akan menjadi raja di pulau ini.”
Aktivisme seksual sebagai naluri hewani disandingkan dengan kekuatan nilai keturunan dan strata sosial tertinggi: raja. Bagaimana perempuan sebagai pembawa genetika dan derajat sosial dimana keturunannya bakal menjadi raja? Bagaimana si perempuan menempatkan posisi dirinya lebih tinggi dari si aku puitik yang lelaki
Suara perempuan menjadi pusat dari inti sajak di sini, meski dinarasikan oleh suara lelaki (si aku puitik)sebagainarator atau pembawa narasi cerita. Penyair Subagio Sasatrowardoyo membawa relasi tubuh ke tingkat yang lebih jauh kepada pembawa sifat keturunan (genetika) dan kelas sosial tertinggi. Dinamika sajak menjadi penuh kontradiksi, tajam dan ekstratif dari narasi tubuh ke narasi kelas sosial dan politik
Bait ketiga sajak:
Percumbuan kami menjadi pergulatan antara hewan jantan dan betina. Hasrat kami memuncak dalam gelombang laut yang bergulung-gulung tanpa henti. Rindu kami tidak lekas terpuaskan sampai aku terhempas di tepi batu karang pagi hari.
Pada bait ketiga ini penyair Subagio Sastrowardoyo menggunakan subjek “kami” dalam “percumbuan kami”, “hasrat kami”, dan “rindu kami” yang menegaskan penyatuan hubungan yang intim, mesra, penuh syahwat, yang dianalogikan sebagai pergulatan antara hewan jantan dan betina.
Dalam pandangan si aku puitik, hubungan seksual ini terjadi sebagai luapan rasa nafsu si perempuan, bukan sebagai rasa cinta kasih, atau apalagi sebagai ritual ibadah. Si lelaki atau si aku puitik bersedia melakukan perhubungan tubuh atau seksual ini karena ‘janji’ yang diucapkan si perempuan: “Siapa berani bercumbu denganku, keturunannya akan menjadi raja di pulau ini.”
“…hasrat kami memuncak dalam gelombang laut yang bergulung-gulung tanpa henti”.
Kalimat ini menunjukkan dua hubungan: dia bisa sebagai metafora, atau kejadian nyata dimana percumbuan itu terjadi di dalam laut dengan gelombang bergulung-gulung tanpa henti. Penggambaran cerita dengan setting seperti ini mengingatkan pada cerita mitos Mataram: sebelum mendirikan kerajaan Mataram, Panembahan Senopati berkhalwat kepada Ratu Pantai Selatan untuk dilindungi keluarga dan keturunannya sebagai penguasa tanah Jawa.
Bait keempat saja:
Tenagaku susut habis bercumbu setiap kali . Aku rela mati. Aku yakin akan menjadi ayah dari keturunan yang bakal menjadi raja di pulau ini.
Pada teks penutup sajak ini menjelaskan sekaligus terjelaskan bahwa percumbuan seks itu bagi si lelaki sebagai sebuah pengorbanan, agar dirinya dan keturunannya terjaga dan dilindungi untuk memimpin sebagai penguasa atau raja di pulau Jawa.
Tubuh Perempuan dan Mitos Kekuasaan
Tubuh perempuan seringkali hadir dalam cerita atau mitos sebagai bentuk kesucian dan kebaikan atau kemuliaan. Misalnya cerita Sangkuriang, bagaimana Sangkuriang mencintai ibunya sendiri, Dayang Sumbi. Betapa pun Dayang Sumbi sangat mencintai Sangkuriang anaknya, tapi sebagai perempuan dia lebih mencintai tubuhnya. Karena tubuh sebagai kemulian dan kesucian dirinya sebagai perempuan dan Ibu. Atau kisah Ken Dedes yang diambil Tunggul Ametung secara paksa dari bapaknya yang seorang pemangku agama (pandita). Selain dikarenakan kecantikan wajahnya, di dalam tubuh Ken Dedes dipercaya tertanam benih kesucian dan kemuliaan. Untuk menghapus noda dari kekotoran dan kensitaan itu, Ken Arok harus mengambil dan menikahkan Ken Dedes sebagai pembawa trah Singosari, dengan melumpuhkan kekuasaan Tunggul Ametung.
Juga cerita Drupadi, dimana perempuan kekasih para Pandawa yang sangat dihormati, mengalami penderitaan bathin atas tubuh setelah mendapat perlakukaan pelecehan tak terpuji dari ksatria Kurawa. Dan pada penderitaan Amba yang harus merasakan kehampaan tubuh karena tak mendapatkan cintanya atas dua laki-laki, Salwa dan Bhisma.
Dari contoh kisah atau cerita di atas, tubuh Perempuan membawa ragam cerita dan dimensi kisah epos dan mitos. Bagaimana kisah atau cerita itu hadir ke dalam teks dan membawa tafsir dan makna tubuh. Hal ini yang juga hadir pada sajak “Janji” karya penyair Subagio Sastrowardoyo dan akan kita munculkan sebagai teks tentang tubuh.
Dalam sajak “Janji” Subagio Sastrawardoyo membawa narasi tubuh tentang perhubungan yang’ elok’ antara Nyai Roro Kidul penguasa laut selatan dengan Panembahan Senopati, yang mengokohkan terbangunnya dinasti Mataram. Pemimpin Kerajaan Mataram (Islam) yang dikenal dengan sebutan raja Jawa telah menjadi kepercayaan dalam membangun peradaban Jawa.
Peradaban Jawa yang oleh sebagian masih dianggap ada dan berdiri kokoh tak ayal karena terjaga dan keterikatan janji perempuan penguasa laut selatan. Mistisisme Jawa bercampur mistisisme agama menerbitkan kepercayaan atau mitos bahwa kekuasaan dan peradaban hadir bersama kekuatan gaib. Pun yang terjadi pada Rasionalitas politik Orde Baru dengan kepemimpinan Soeharto yang berasal dari Jawa dan masih memegang teguh budaya dan mistisisme Jawa membawa problem rasionalitas politik dan mitos mitos kekuasaan.
Pada konteks politik inilah sajak “Janji” Subagio Sastrowardoyo menmabawa alam mitos sebagai bentuk narasi dan wacana melawan rasionalitas politik Soeharto dan Orde Baru yang memuja stabilitas dengan mematikan kebebasan masyarakat dengan sensor atas media, dan puncaknya pembredelan terhadap majalah Tempo, Editor dan tabloid Detik (pada 21 Juni 1994).. Sajak “Janji” Subagio Satrowardoyo sebagai narasi kebebasan sekaligus wacana perlawanan terhadap rezim dictator-otoriter, dengan membawa narasi mitos, kekuasaan dan tubuh menuju kepada gerakan (aksi), arus dan dinamikanya sebagai gelombang laut yang bergulung-gulung sebagai penanda gelombang perubahan yang harus diombak lambungkan. Sampai kepada arus perubahan politik baru.. Dan akhirnya Soeharto lengser.
Estetika Subagio dalam Terma Kebaruan
Bagaimana melihat estitika sajak yang terkandung dalam sajak “Janji” karya penyair Subagio Sastrowardoyo? Sajak ini sekilas tampak sederhana, hanya dengan menjelajahi detil sajak secara keseluruhan kita dapat menemukan sesuatu yang kompleks dan tidak biasa, seperti hubungan waktu dalam lintasan sejarah dan mitos, hubungan dengan ruang pada laut yang penuh misteri dan kekuatan, dan hubungan dengan subjek pada tubuh yang mengatasi segala hal tentang manusia, tentang kuasa, seksualitas dan sebagainya.
Bentuk
Bila umumnya penyair Subagion menulis sajak dalam lirik, pada sajak ini (dan sajak- sajak terakhir sebelum wafatnya yang dimuat di majalah Kalam No.6, 1995) lebih kepada bentuk naratif. Dalam bentuk naratif, penyair Subagio Sastrowardoyo meninggalkan penggunaan diksi yang indah atau ketat. Lebih mengolah estetika sajak kepada gerak narasi dan makna sajak atas ruang prosa. Artinya Subagio Sastrowardoyo memandang pemaknaan sajak kepada prosa kontemporer, dimana teks memilliki tingkatan yang berlapis dalam tanda dan makna.
Tapi, Subagio Sastrowardoyo tidak menghilangkan aspek puitiknya. Aspek puitik pada sajak tetap kental, dia hanya membawa aspek keunggulan prosa ke dalam sajaknya.
Penjelajahan Bahasa
Sebagai penyair yang sudah melewati perjalanan yang panjang, Subagio Sastrowardoyo sangat gandrung melakukan penjelajahan bahasa. Bahasa puisi dalam lirik tentu berbeda dengan naratif. Pada sajak ini penyair Subagio Sastrowardoyo berupaya membuat olahan baru, yaitu pertemuan bahasa puisi yang memprosa dan prosa yang puitik. Misal pada penggunaan kata keterangan (unsur) waktu: malam hari, waktu laut mulai surut, dan pagi hari. Juga pada unsur penguatan bahasa prosais sajak sebagai bentuk pernyataan dan dialog atau monolog bathin: Siapa berani bercumbu denganku, keturunannya akan menjadi raja di pulau ini, dan, Aku rela mati. Aku yakin akan menjadi ayah dari keturunan yang bakal jadi raja di pulau ini. Dalam kalimat sajak prosais ini Subagio menggunakan 1 kata pernyataan: hanya dengan, 1 kata bubuhan: pun, 1 kata penghubung: dan, 3 kata (keterangan) yang.
Eksplorasi Narasi Tubuh dan Mitos
Penyair Subagio Sastrowardoyo dalam sajak ini mencoba mengeksplorasi narasi tentang tubuh dan mitos. Subagio Sastrawardoyo dengan efek lensa cembung seakan mengeksplotasi sensasi seksualtas. Padahal dibalik sensasi itu ada motif yang tak tampak atau disembunyikan. Sensasi seksualitas ini bertingkap waktu dengan ruang: ruang kebahasaan
Dinamika Wacana dalam Sajak
Eksistensi ruang dan kehancuran waktu (sejarah). Pergulatan tentang waktu menjadi perhatian cendekia dan penyair (seniman). Subagio Sastrowardoyo nampaknya memandangnya sebagai momen dalam sisi yang berterbalikan: sakral dan profane (karikatural).
Penajaman Atas Konteks- Sosial dan Politik
Sajak “Janji” merupakan sajak Subagio yang paling tegas dan tajam dalam membawa persoalan sosial dan politik tanah air sebagai bentuk Penolakan atas Pembungkaman Politik . Kalimat sajak pada bait terakhir mengisyaratkan suatu pergolakan politik yang akan melahirkan kepemimpinan nasional yang baru.
(Pembreidelan) dan Sensor Media
Sajak Subagio Sastrowardoyo ini bila diperhatikan seksama sarat muatan persoalan politik dan sosial, bila diletakkan pada konteks masa itu (tahun 1995), dimana suasana politik memanas dan rezim semakin represif dan otoriter, dimana terjadi pembreidelan media masa dan sensor yang begitu ketat.
Pergerakan subjek dan dinamika sajak
Salah satu hal yang menarik dari sajak ini Subagio Sastrowardoyo membangun dinamika sajak dengan pergerakan subjek. Misalnya, pada bait pertama dengan subjek ‘aku’, pada bait kedua berganti dengan subjek ‘dia’ dan ‘ia’, di bait ketiga menggunakan subjek ‘kami’, dan di bait ke empat, terakhir kembali ke subjek ‘aku’. Subjek menjadi bagian penting dari dinamika dan narasi sajak.
Tubuh perempuan dan mitos hadir di dalam sajak Subagio Sastrwardoyo sebagai bentuk perayaan dan optimisme. Tubuh dan mitos mengatasi segala gerak laku hidup. Ini juga tampak pada sajak yang lain “Sebelum Ada Jaka Tarub” dan “Permaisuri” sebagai bentuk dan gerak penanda mitos.
Demikianlah narasi tubuh dalam sajak, sebagai sebuah perayaan tubuh dan mitos dimana berkelindan narasi tubuh dan kuasa. Dan pada akhirnya sajak“Janji” menjadi bentuk keyakinan dan optimisme penyair Subagio Sastrowardoyo atas mitos dalam memandang serta menjangkau masa depan dan sajaknya, sebagai bentuk penolakan dan gerak perlawanan atas segala bentuk sensor dan pembredelan yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dan membawa gelombang perlawanan gerakan pro demokrasi terhadap penindasan rezim diktator otoriter, hingga akhirnya Soeharto legser..
Demikian makna frasa atau metafora tentang laut Subagio Sastrowardoyo pada logos kuasa dan mitos. Dalam arti terangnya bahwa sajak “Janji” sebagai bentuk janji atau sumpah akan kejatuhan rezim Orde Baru di kemudian hari.
BIODATA
Muhammad Solihin Oken lahir di Jakarta, 26 Oktober 1970. Pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, dan mengikuti Program Course Paska Sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Aktif bersastra sejak mahasiswa. Pernah menekuni profesi wartawan sejak 1996 hingga 2013. Sejak 2009 ia rajin menulis puisi di media sosial. Buku puisi terbarunya berjudul “Sajak Selikur” (2022).










