DENPASAR, Balipolitika.com– Menjaga lingkungan bukan hanya tentang mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga memahami secara langsung betapa eratnya hubungan manusia dengan alam.
Semangat inilah yang dihadirkan melalui Eco Camp 2026 “Dekat dengan Alam, Peduli Masa Depan”, yang
diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali bekerja sama dengan Rikolto Indonesia dan Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), serta didukung oleh Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar dan Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Denpasar di Subak Teba Majelangu, Kesiman, pada 8-9 Agustus 2026.
Kegiatan ini diikuti 48 Duta Lingkungan dan 12 guru dari 12 sekolah dasar di Kota Denpasar.
Selama dua hari, para peserta ditempa melalui diskusi, aksi lapangan, dan praktik langsung pengelolaan sampah, energi terbarukan, pangan lokal sehat, hingga konservasi keanekaragaman hayati.
Pembelajaran ini dirancang untuk membangun kepemimpinan, kemandirian, dan ketahanan ekologis anak-anak sejak dini sekaligus memberikan pengalaman belajar yang dapat menjadi bekal sepanjang hayat.
Kegiatan yang mengesankan bagi anak-anak, saat melakukan pengamatan biotilik di sungai sekitar Teba Majelangu.
Kawasan yang menopang Subak Padanggalak sebagai lumbung pangan lokal.
Anak-anak melihat dari dekat kualitas air sungai berada di Kategori D.
Artinya, air ini tidak layak konsumsi, dan tercemar tumpukan sampah plastik yang terus mengalir mengancam sumber pangan warga.
Temuan anak-anak Duta Lingkungan ini menjadi pesan bagi pemangku kebijakan.
Bagaimana kita bisa menjamin masa depan generasi penerus jika air dan tanah yang menumbuhkan pangan mereka hari ini dibiarkan tercemar?
Pemerintah Kota Denpasar mengapresiasi kegiatan ini melalui kehadiran Sekretaris DPKP Kota Denpasar, Ni Luh Rini Styasih, SE., M.Si., di mana dalam sambutannya ia menekankan pentingnya membangun kesadaran pangan sejak dini, mulai dari kebiasaan mengambil makanan sesuai kebutuhan, menghabiskan makanan yang telah diambil agar tidak menghasilkan sampah pangan (food waste), sehingga penting memilih pangan yang sehat dan bergizi.
Apresiasi dan edukasi dari masyarakat sipil tidak akan pernah cukup jika tidak diimbangi dengan keberanian politik (political will) dari pemerintah untuk membenahi tata kelola sampah dari hulu ke hilir, menegakkan aturan pencemaran sungai, dan melindungi kawasan subak dari alih fungsi lahan.
Melalui penelusuran “Jejak Panganku” dan praktik menanam padi di sistem subak warisan budaya Bali, para peserta menyadari bahwa sepiring nasi yang mereka makan terhubung langsung dengan keringat petani, kejernihan air, dan kesehatan tanah.
Keysa, peserta dari SDN 7 Dauh Puri mengaku kegiatan kali ini lebih seru karena bertemu teman banyak, belajar menanam padi, bisa bermain di lumpur dan menambah pengetahuan tentang pentingnya menjaga alam terutama sungai dan subak.
Sementara Direktur PPLH Bali, Catur Yuda Hariyani menegaskan bahwa hadir di alam dan mendapatkan lingkungan hidup yang bersih adalah hak mendasar anak-anak yang wajib dipenuhi oleh negara.
“Anak-anak memiliki hak tumbuh di lingkungan yang sehat dan lestari. Sekolah dan guru melatih kepedulian mereka, tetapi pemerintah bertanggung jawab memastikan bahwa alam yang mereka pelajari
hari ini tidak habis digusur atau dicemari esok hari,” ucap Catur Yuda Hariyani.
Rangkaian acara yang diwarnai Eco Movie Night, refleksi malam, hingga apresiasi bagi karya video aksi edukasi di sekolah oleh para duta lingkungan.
Seperti yang disampaikan Putu Eka Yuni Krisnayanti dari SDN 16 Kesiman.
“Kami guru akan selalu mendampingi anak-anak untuk berkembang dan berkolaborasi dengan PPLH
Bali. Eco Camp 2026 telah selesai, tetapi perjuangan baru dimulai. Anak-anak Sekolah Dasar di Denpasar telah membuktikan bahwa mereka bisa belajar peduli, memilah sampah, dan menjaga air”, tutur Qinnara Pratita Loka – Koordinator Eco Camp 2026.
Kini, giliran pemerintah merespons pesan dari Eco Camp 2026 sangat sederhana namun ada pesan di balik ini, yakni jangan biarkan aksi dan kepedulian anak-anak ini berdiri sendiri di tengah kebijakan yang melanggengkan pencemaran.
Pemerintah daerah dinilai harus hadir dan mendukung serta mengadopsi model sekolah ekologis dan kantin sehat secara masif ke seluruh sekolah di Bali, menindak tegas pembuang limbah ke sungai, serta melindungi tanah subak dan sumber air Bali sebelum semuanya terlambat. (bp/rls/ken)














