BEBERAPA tahun terakhir saya mulai curiga bahwa sebagian dunia kesenian Indonesia mengalami gejala yang cukup mengkhawatirkan: terlalu serius terhadap dirinya sendiri. Gejala ini mudah dikenali. Biasanya muncul dalam bentuk diskusi panjang dengan istilah-istilah besar, wajah-wajah muram penuh pencahayaan remang, dan manusia-manusia yang berbicara tentang “kegelisahan urban” sambil menunggu promo ongkir aplikasi makanan selesai. Semua tampak sangat penting. Semua tampak seperti sedang menyelamatkan peradaban. Padahal kadang yang sedang dibahas cuma puisi tentang kipas angin kos, luka asmara semester lalu, atau kopi yang terlalu pahit karena baristanya lupa menakar gula.
Saya mulai menyadari ini saat menghadiri forum sastra yang pembicaranya menghabiskan hampir satu jam menjelaskan “retakan identitas pascakolonial dalam tubuh domestik.” Penonton mengangguk khidmat. Moderator mencatat serius. Seorang peserta bahkan tampak hampir tercerahkan. Tetapi ketika saya membaca puisinya kemudian, isinya ternyata tentang jemuran yang kehujanan. Saya tidak sedang meremehkan puisi tentang jemuran. Saya hanya heran mengapa dunia seni kita kadang merasa segala sesuatu harus terdengar seperti abstrak tesis doktoral agar dianggap memiliki kedalaman.
Barangkali memang ada ketakutan besar di dunia seni hari ini: ketakutan terlihat sederhana. Maka lahirlah budaya estetika yang terlalu sibuk membangun aura penting. Penyair tidak cukup menjadi penyair; ia harus tampak seperti manusia yang memikul beban metafisik bangsa. Musisi tidak cukup membuat lagu; ia harus tampak seperti nabi kecil yang tersesat di kafe industrial dengan lampu temaram. Penulis esai tidak cukup menulis opini; ia harus terdengar seperti gabungan Slavoj Žižek, sopir JakLingko, dan mantan kekasih yang belum move on. Akhirnya seni berubah menjadi kompetisi citra.
Semua berlomba tampak paling getir. Paling reflektif. Paling terluka. Paling insomnia. Media sosial memperburuk semuanya. Kita hidup di masa ketika kesedihan memiliki nilai estetika lebih tinggi daripada kewarasan. Orang memotret hujan dari jendela lalu menulis caption, “Kota ini terlalu bising bagi kenangan.” Padahal setelah itu ia memesan chicken katsu diskon tiga puluh persen. Kita memasuki era ketika galau diperlakukan seperti pencapaian intelektual. Semakin murung seseorang, semakin artistik ia dianggap.
Di titik tertentu saya mulai berpikir jangan-jangan sebagian seniman modern sebenarnya tidak sedang mencari makna, melainkan mencari persona. Ada yang membangun citra sebagai penyair paling patah hati. Ada yang ingin terlihat sebagai musisi paling nihilistik. Ada yang membentuk karakter “kurator anti-kapitalis” sambil menunggu invoice sponsor cair. Semua tampak sibuk mengelola identitas artistik seperti admin media sosial mengelola engagement. Dan publik, seperti biasa, ikut bermain.
Kita terlalu mudah menganggap sesuatu mendalam hanya karena sulit dipahami. Kita takut bertanya karena takut terlihat bodoh. Maka lahirlah ekosistem kebudayaan yang kadang lebih menghargai jargon daripada kejernihan. Padahal tidak semua hal rumit itu cerdas. Kadang memang cuma berputar-putar supaya terdengar mahal.
Saya punya beberapa teman dengan nama yang terdengar seperti hasil perkawinan festival sastra dan album jazz fusion: Ashian Sahpana dan Yadri Tere Didi. Mereka manusia baik. Tetapi mereka juga contoh menarik tentang bagaimana dunia seni hari ini bekerja. Ashian gemar berbicara tentang “dialektika tubuh dan ruang”, “arsitektur memori kolektif”, atau “keheningan sebagai strategi resistensi.” Sementara Yadri punya kemampuan langka mengubah kehilangan earphone menjadi esai eksistensial tujuh halaman. Anehnya, selalu ada orang yang mengangguk serius mendengar mereka.
Kadang saya ingin menghentikan semuanya lalu bertanya: “Apakah kalian benar-benar memahami kalimat kalian sendiri?”
Namun justru di situlah letak kekuatan dunia seni modern: bunyi sering lebih penting daripada makna. Yang penting terdengar reflektif. Yang penting terasa kontemplatif. Yang penting cukup ambigu untuk membuat orang lain takut mengkritik.
Saya tidak anti terhadap kompleksitas. Seni memang kadang membutuhkan kerumitan. Tetapi saya mulai lelah melihat sebagian pelaku seni memperlakukan kebingungan sebagai prestasi. Seolah makin tidak komunikatif sebuah karya, makin tinggi derajat estetikanya. Seolah penonton yang memahami terlalu cepat adalah ancaman.
Padahal seni terbaik sering bekerja justru lewat kejujuran yang sederhana. Lagu yang menemani orang gagal move on. Puisi yang membuat seseorang merasa tidak sendirian. Novel yang menolong pembacanya bertahan hidup beberapa hari lagi. Bukan sekadar karya yang cocok dijadikan caption festival.
Masalah lain yang mulai terasa mengganggu adalah obsesi terhadap “legacy.” Semakin senior seorang seniman, biasanya semakin sering ia berbicara tentang warisan. Semua ingin dikenang. Semua ingin namanya tetap hidup setelah tubuhnya menua. Tetapi ada ironi lucu di sini: banyak orang terlalu sibuk memikirkan legacy sampai lupa menjadi manusia menyenangkan.
Kita mengenal cukup banyak seniman besar yang karyanya luar biasa tetapi kehadirannya melelahkan. Sedikit-sedikit bicara “zaman kami dulu.” Sedikit-sedikit mengeluh generasi muda tidak menghormati proses. Sedikit-sedikit marah kalau namanya tidak dicetak besar di poster acara. Mereka berubah menjadi museum autobiografi berjalan.
Menurut saya warisan terbesar seorang seniman sebenarnya sederhana: jangan menjadi manusia yang menyebalkan saat tua.
Sebab pada akhirnya publik mungkin lupa detail manifesto kebudayaan kita. Orang mungkin lupa teori estetika yang pernah kita pidatokan. Tetapi mereka akan ingat apakah kita membuat ruang menjadi lebih hangat atau lebih melelahkan.
Sayangnya dunia seni hari ini justru sering memelihara ego kolektif. Semua orang ingin dianggap penting. Semua orang ingin tampak unik. Semua orang ingin tampil seperti tokoh utama dalam film independen tentang kesedihan urban. Tidak heran jika sebagian acara kebudayaan sekarang terasa lebih dekat dengan pertunjukan branding personal daripada ruang percakapan artistik.
Saya kadang membayangkan bagaimana jika suatu hari semua jargon dicabut dari dunia seni Indonesia selama seminggu. Tidak boleh ada kata “liminal”, “diskursus”, “arsip tubuh”, “fragmentasi identitas”, atau “resistensi simbolik.” Kira-kira berapa banyak diskusi yang masih sanggup bertahan hidup? Berapa banyak esai yang masih punya isi setelah semua asap istilah itu dibersihkan?
Mungkin tidak banyak. Tetapi mungkin justru di situ kita akhirnya bisa melihat siapa yang benar-benar punya sesuatu untuk dikatakan.
Atau jangan-jangan selama ini dunia seni memang diam-diam lebih mencintai pertunjukan intelektual ketimbang karya itu sendiri. Dan kalau dugaan itu benar, mungkin yang sedang kita rawat bukan kebudayaan, melainkan industri kesan mendalam yang kebetulan memakai puisi, musik, dan filsafat sebagai properti panggungnya.
BIODATA
Orze Rusfinda lahir tahun 1985 di RS Santo Carolus, Salemba, dan tumbuh menjadi penulis opini kebudayaan yang gemar membongkar hubungan aneh antara sastra, kultur pop, sinema, dan musik. Tulisannya sering bergerak dari puisi modern ke dangdut koplo, dari film arthouse ke komentar warganet, seolah semua fenomena budaya layak diperlakukan setara di meja bedah. Ia percaya kebudayaan Indonesia paling jujur justru muncul di ruang-ruang absurd keseharian: tongkrongan, media sosial, konser kecil, bioskop tua, sampai obrolan receh yang diam-diam lebih tajam daripada seminar akademik.













