Kado untuk Anak yang Tak Sempat Lahir
pada pagi tujuh belas
seorang ibu duduk di teras
menyetrika baju kecil yang tidak jadi dipakai
karena anaknya gugur sebelum sempat menangis
ia tetap menyetrika
katanya kain lembut bisa meredam rindu
jika dilipat pelan dan disimpan bersama pita merah
di televisi
anak-anak berseragam menyanyi
tentang tanah air yang luas
tentang langit yang tidak bisa dijamah peluru
tapi ruang tamu rumahnya
terlalu kecil untuk harapan
dan terlalu besar untuk sunyi
di lemari
ada mainan plastik hadiah dari puskesmas
di bawah bantal
ada nama yang belum sempat diberikan
di luar
orang-orang menggantung bendera
ibu menggantung napas
sambil memandangi kursi kecil
yang tak pernah ditarik dari tempatnya
2025
Pidato yang Tak Pernah Selesai
ia berdiri di depan kelas
berusaha menghafal kalimat pembuka
“saudara-saudara sebangsa dan setanah air”
lalu diam
karena di rumahnya
ia belum pernah melihat peta Indonesia tergantung di dinding
ayahnya buruh harian
ibunya menjual lontong di bawah tiang listrik
adik-adiknya belajar dari buku yang diturunkan seperti dosa
di depan kelas
ia tetap berdiri
tangannya gemetar
karena belum pernah benar-benar merasa satu bangsa
dengan yang menertawakannya
guru tersenyum,
mengoreksi dengan pelan,
tapi tak mengerti
bahwa yang hilang dari pidato itu
bukan kata-kata
melainkan keberanian
pulang sekolah
ia duduk di pojok dapur
menghafal diam-diam
sebuah negara yang tak memberinya suara
hanya permintaan untuk lebih sopan saat gagal
2025
Perayaan Sunyi di Rumah Sakit
ada seorang laki-laki tua
mengenakan topi veteran
dan sandal bekas cucunya
ia tidak dijemput panitia
tidak diundang ke podium
tidak masuk siaran langsung
ia hanya duduk
mengusap lencana yang warnanya mulai hilang
dan membaca brosur tentang asuransi jiwa
dengan mata kabur
di ruang sebelah
seorang bayi menangis
di ruang depan
seorang pasien koma dipanggil namanya dengan pelan
ia menyanyikan lagu kebangsaan dalam hati
satu bait
dua bait
lalu terhenti di kata “abadi”
karena ia tahu tubuhnya tidak
perawat datang
membawakan sarapan tanpa garam
dan menyelipkan bendera kecil di atas nampan
sebagai penghormatan
ia tertawa sebentar
lalu menatap jendela
tempat langit tetap biru
meski tanah di bawahnya semakin asing
2025
Seragam yang Terlalu Besar
anak itu berjalan sendirian
dengan seragam putih merah kebesaran
seperti sedang meminjam masa depan
yang tak dijanjikan padanya
ayahnya tidak pulang sejak tambang runtuh
ibunya menjahit bendera dari sisa sprei hotel
yang ditemukan di tempat sampah kota
anak itu ikut upacara
berdiri paling ujung
menirukan lagu dengan mulut setengah terbuka
karena belum pernah mendengar kata “tanah tumpah darah” di rumah
ketika bendera dinaikkan
ia tidak menengadah
hanya menatap tali rafia yang digunakan
dan berpikir itu mirip dengan tali yang biasa dipakai ibunya
mengikat harapan pada gantungan dapur
lalu angin datang
dan membuat benderanya berkibar
terlalu cepat
terlalu tinggi
2025
Surat dari Seorang yang Tak Punya Negara
ia menulis surat
bukan pada presiden
bukan pada jenderal
tapi pada seorang sahabat yang sudah lama pergi
karena tak tahan jadi warga negara yang tak diakui tanahnya sendiri
dalam surat itu ia berkata
aku masih di sini
masih menanam cabai di ladang yang katanya milik negara
masih mencatat tagihan air meski sumur kami kering
tidak ada upacara di tempat ini
tidak ada sambutan
tidak ada saling sapa
hanya malam-malam yang panjang
dan televisi tetangga
yang menyiarkan konser kemerdekaan
dengan lampu warna-warni dan mikrofon yang mahal
ia menulis pelan
dengan pena dari koperasi sekolah
tinta hampir habis
seperti cintanya pada negeri ini
lalu menutup surat itu
dengan satu kalimat:
“aku belum pindah, hanya merasa tidak tinggal di mana-mana”
2025
BIODATA
Yuditeha adalah penulis puisi dan cerita yang tinggal di Karanganyar. Pendiri Komunitas Kamar Kata. IG: @yuditeha2













