SAAT masih SD aku penasaran pada Ibu yang tak pernah kudapati menulis dan berhitung.
Lalu Ibu mengaku tidak pernah sekolah.
Aku tidak percaya. Tapi melihat kenyataan, aku mesti percaya.
Lalu aku pernah mencecar, “Kok, bisa Ibu tidak sekolah. Bukankah zaman Ibu sudah zaman modern, yang tak lagi melarang perempuan bersekolah?”
Ibu hanya tersenyum. “Tidak perlu,” katanya. “Kata kakek kalian, sekolah tidak perlu buat ibu. Kau tahu pula, kan? Kakekmu, nenekmu dan paman bibimu juga tidak sekolah?”
Jadilah pada setiap pembagian bantuan sosial Ibu mendapat jatah beras yang kurang kiloannya, telur yang kurang jumlahnya, uang yang tak sesuai hitungan seharusnya.
Itu sering terjadi saat aku masih SMP. Aku yang tahu bahwa jatah beras perwarga dua puluh kilogram merasa aneh dengan sedikitnya isi wadah plastik yang ditenteng Ibu dari rumah Pak RT. Lalu kutimbang. Lalu kutahu beratnya hanya sepuluh kilo.
“Telur dan uangnya tak usah kau hitung ulang!” ucap Ibu dengan nada sedikit keras. “Berapa pun yang ibu dapatkan dari ketua RT, itulah rezeki untuk ibu.”
Selalu begitu, berulang-ulang, setiap perulangan pembagian bantuan sosial.
Awalnya aku berpikir Ibu malu karena ketahuan dirinya telah dibodohi oleh aparat desa. Tapi lama kelamaan aku sadar bahwa Ibu tidak malu. Ibu hanya tidak ingin mempermasalahkan rezeki yang diberikan Tuhan. Walaupun rezeki itu sudah disimpangkan oleh ketua RT. Ibu minta aku ikhlas.
Beberapa waktu kemudian ketua RT jatuh sakit. Perutnya membengkak. Tak seorang pun yang tahu apa penyakitnya. Dengar-dengar dokter pun angkat tangan.
Sebulan kemudian ketua RT meninggal dunia.
“Jangan mencuri, jangan mengambil hak orang lain, jangan menghianati kepercayaan, jaga amanah.”
Itu ucapan Ibu saat kami duduk berdua di kebun belakang rumah, sehari setelah kematian ketua RT.
Rasanya aku bosan mendengar kalimat-kalimat itu, sebab sejak umur lima tahun Ibu seperti tak bosan mengulang-ulang, mewanti-wanti, menumpuk-numpuknya di telinga dan hatiku. Itu menjadi ajaran wajib bagiku.
*
Pernah, sekali, pada umur sepuluh tahun aku ikut-ikutan mencuri mangga tetangga yang sedang matang di pohon. Kami makan sembunyi-sembunyi di rumah Heri, temanku.
Ibu menyeretku pulang. Di dapur beliau membelai rambut kepalaku sambil meneteskan air mata dan berkata lirih, “Lihat, Ibu selalu memasak walaupun ala kadarnya. Apakah kau tak cukup kenyang dengan makanan seadanya, hingga mesti mengisi perut dengan milik orang lain, yang bisa jadi ketika hilang akan membuat pemiliknya sangat kecewa?”
Sejak saat itu aku bersumpah tak akan pernah lagi mencuri, tak akan lagi mengambil hak orang lain. Awalnya karena kasihan melihat Ibu menangis. Lama-lama karena takut orang lain kecewa.
Aku hanya diam. Pikiranku masih dikuasai teka-teki meninggalnya ketua RT. Dan ucapan Ibu itu tak nyambung dengan apa yang aku pikirkan. Jadi kubiarkan keluar begitu saja lewat lubang telingaku. Setelah masuk lewat lubang satunya.
Terlebih Ibu kemudian berkata lagi, “Sebentar kau akan tamat SMP. Apakah perlu buatmu sekolah lagi, sampai ke SMA?”
Aku menatap beliau. Mataku melebar. Harusnya Ibu tak melontarkan pertanyaan itu. Sebab sudah jelas jawabannya: perlu!
*
SMP kutamatkan dengan nilai biasa-biasa saja. Seperti saat lulus SD.
Dan seperti saat menerima ijazah SD, Ibu bertanya berulang-ulang tentang nilai mapel agamaku.
Dan beliau tertawa lagi, serupa ketika dulu, ketika kuberitahu tentang nilai pelajaran itu di ijazah SD-ku. Padahal nilai mapel agamaku enam puluh.
Ibu tertawa, sampai tergelak-gelak dan menepuk-nepuk punggungku seperti kesan orang memuji atau mendukung sesuatu yang kuucapkan atau kulakukan.
Tapi bagaimana mungkin seorang ibu memuji dan mendukung nilai rendah?
Apalagi ujungnya, dengan diikuti sisa tawa, Ibu bertanya lagi, “Kau sungguh ingin meneruskan sekolah, Nak?”
Sore itu hujan sedang turun dengan lebatnya. Kilat berkelap-kelip di antara gemuruh petir.
Dadaku gemuruh, oleh ketersinggungan.
“Apakah karena nilai saya rendah, saya tidak pantas melanjut ke SMA?”
Hendak kuberseru dengan suara keras. Sekeras mungkin, bukan saja untuk menyaingi kerasnya suara petir yang membuat Ibu tak bisa mendengar suaraku. Tapi juga agar menjadi jelas bagi beliau bahwa aku ingin sekolah, ingin kuliah, ingin jadi pegawai. Bahwa aku tak ingin mendengar suara Ibu seperti itu.
Aku bersyukur tak sampai melakukannya. Aku tak tega mengasari beliau. Apalagi beliau kemudian tersenyum padaku.
Kubenamkan protes itu dalam hati.
*
Ibu menggerutu terus, tak jelas, sebab selain karena suaranya pelan, aku juga sedang menonton televisi. Berita operasi tangkap tangan KPK sedikit menarik perhatianku, sebelum akhirnya film The Lord of The Ring lebih memancing semangatku untuk memelototi layar kaca.
Kami baru pulang dari sekolah.
Kami, karena memang aku seperti biasa dari sekolah, sedang Ibu datang ke sekolahku karena dipanggil wali kelasku. Dari isi surat panggilan kutahu bahwa Ibu akan diajak untuk membicarakan masalah prestasi akademikku yang melorot di kelas tiga SMA, terutama pada mata pelajaran agama.
Dari SD, SMP, hingga SMA aku tak pernah masuk golongan siswa pintar. Pada semua pelajaran aku selalu keteteran. Dan yang paling sulit bagiku adalah agama.
Tapi aku tidak terlalu peduli. Toh, seperti ajaran Ibu aku selalu menjadi anak yang baik-baik, yang tak pernah mencuri, tak sekalipun mengambil hak orang lain, tak juga menghianati kepercayaan, sampai tidak amanah.
Akhirnya aku yakin, penyebab nilaiku terutama nilai agama tidak pernah bagus adalah karena aku tidak peduli pada nilai-nilai yang tidak bagus itu.
Di sekolah, aku melihat Ibu masuk ruang konseling. Lewat kaca jendela, jelas sekali beliau duduk menghadap Ibu Wali Kelas, berdekatan dengan Pak Guru Agama.
Pak Guru Agama adalah tetangga jauhku. Aku segan padanya, karena orangnya tegas. Tiap sore beliau lewat di depan rumah, membonceng temannya, yang juga tetangga jauhku yang melintas dengan motor.
Temannya itu penyabung ayam. Pak Guru Agama di belakangnya duduk dengan mengepit ayam aduan.
Ibu akan tercenung jika kebetulan melihatnya juga.
Ibu duduk termenung di serambi.
Kudekati.
“Sejak pulang dari sekolah, Ibu menggerutu terus. Sekarang Ibu termenung. Ada apa, Bu?” tanyaku. “Sepertinya Ibu kesal setelah pertemuan di sekolahku.”
Ibu menarik nafas. Aku menangkap beban di wajahnya.
“Apa harus kau kuliah?” Beliau justru membalas dengan pertanyaan
Dan pertanyaan itu tiba-tiba mengusik rasa tidak sukaku, keinginan protesku, yang sudah kupendam sejak SD, SMP hingga beberapa waktu sebelumnya, saat beliau mengulang-ulang pertanyaan serupa.
Ingin sekali aku tidak menjawab. Namun desakan untuk menegaskan pendirian, yang tak pernah bisa kulakukan sekian lama, membuat aku memberanikan diri untuk menatap beliau dan berucap, “Apakah harus, suatu saat nanti, saya berkata kepada cucu Ibu, dengan perkataan seperti ini.”
Aku terdiam sebentar. Lalu mengambil sikap seolah sedang menghadapi anak-anakku.
“Anak-anakku, bapak tidak sekolah tinggi. Sebab sekolah tinggi itu tidak perlu. Kata nenek kalian, sekolah tidak perlu buat bapak. Kau tahu pula, kan? Nenekmu juga tidak sekolah?”
Ibu menatapku. Lekat sekali pandangannya.
Aku pikir beliau akan membentakku, akan marah padaku.
Beliau tersenyum.
“Untuk apa kau bersikeras sekolah, sampai kuliah.”
Entah karena apa, kudengar pertanyaan beliau seperti tanpa tanda tanya.
“Saya mau hidup lebih baik.”
Terlontar spontan jawabanku, sebab jawaban itu telah kusiapkan bertahun-tahun sejak SD, SMP, hingga beberapa waktu lalu, untuk menjadi alasan penguat bila aku menyampaikan protes dan berdebat dengan Ibu. Baru bisa -dan sudah- terlepas dari dadaku.
“Ibu tidak sekolah, tapi hidup Ibu baik-baik saja. Begitu pula kakekmu, nenekmu, paman bibimu.” Sanggah perempuan itu.
“Kalau hidup Ibu baik-baik saja, mengapa Ibu selalu membawa pulang beras yang kurang kiloannya, telur yang kurang jumlahnya, uang yang besarnya tak sama dengan warga lain? Baik-baik apa kalau setiap waktu Ibu dibodohi oleh Pak RT?”
Nyaris kuteriak. Tapi aku tak pernah berani dan tak pernah tega mengasari beliau.
“Hidupku baik, Insya Allah dunia akhirat. Dan aku takut harus menjadi Pak RT.”
Aku tertegun, gugup. Kurasa pikiranku beliau tangkap.
*
Hari ini, hari kesepuluh aku mendekam di lapas, sebagai tahanan titipan polres, untuk menunggu waktu persidangan. Aku korupsi dana haji.
Aku telah kuliah, dengan nekat.
Nekat melangkah di atas pertanyaan meragukan dari Ibu tentang “apakah perlu aku sekolah, sampai kuliah?”, tentang “apakah aku tidak percaya bahwa aku bisa seperti Ibu, hidup baik-baik, tanpa sekolah, tanpa kuliah?”
Aku jengkel pada guru agama yang memberiku nilai rendah, lalu kupilih berkuliah di perguruan tinggi agama. Nilai-nilaiku terbaik, dan lulus dengan “pujian”. Aku merasa menjadi seorang yang sangat paham tentang ajaran agama. Lebih dari hanya perkara larangan “jangan mencuri, jangan mengambil hak orang lain, jangan menghianati kepercayaan, jaga amanah.” Aku pintar, jauh lebih pintar dari guru agamaku.
Aku pun dengan mudah lulus tes masuk instansi pemerintah yang mengurusi bidang keagamaan.
Tiga tahun bertugas, aku diangkat menjadi kepala bidang yang mengurusi ibadah haji.
Empat tahun, hidupku menjadi sangat baik. Aku punya rumah, mobil mewah dan harta-harta lainnya. Di tahun kelima aku baru sadar bahwa kepintaranku sudah kelewat batas. Aku yang lulusan perguruan tinggi agama melakukan penyelewengan.
Ajaran Ibu melayang-layang di langit-langit ruang sel.
Ingin kugapai. Tak bisa.
Tak mampu pula kuhapus.
Hari ini hidupku telah menjadi sangat tidak baik.
BIODATA
Yin Ude nama lengkapnya Muhammad Thamrin, penulis Sumbawa Timur, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Menulis sejak 1997. Karyanya berupa puisi, cerpen, novel, artikel, resensi dan cerita anak. Puisi, cerpen, artikel dan resensinya terpublikasi di media cetak dan online dalam dan luar daerah Sumbawa, antara lain Lombok Pos, Suara NTB, Sastra Media, Bali Politika, Elipsis, Suara Merdeka, Solo Pos, Kompas, Republika dan Tempo. Memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Buku tunggalnya adalah Sepilihan Puisi dan Cerita Sajak Merah Putih (Rehal Mataram, 2021), Novel Benteng (CV Prabu Dua Satu Batu Malang, Mei 2021), antologi puisi Jejak (Penerbit Lutfi Gilang Banyumas, 2022) dan Kumpulan Cerpen Emas (Penerbit Lutfi Gilang Banyumas, 2025). Puisinya termuat pula dalam belasan antologi bersama para penyair Indonesia. Sehari-hari Yin Ude adalah guru ASN PPPK di SMP Negeri 2 Plampang, Sumbawa.













