Chie Setiawati:
Kepada Pemilik Mei
Mengertilah…
Dinding kamar telah jemu merekam raung
Sejak langkahmu tak ragu berlalu
Meninggalkan rindu paling legam
Lalu
Sepi memangsa hari-hari
Penantian berangsur sangsi
Pencarian bersidekap harap
Hingga jatuh hujan di Januari
Untuk sesatmu…Kembalilah
Dekapku mencari bau rambutmu
Di setiap uap darahmu uap darahku adalah satu
Rapalan namamu terus mengalir di deras airmata
Kepadamu pemilik Mei
Telah aku akadkan cinta paling suci di bening matamu
Kembalilah…
Di luar hujan begitu deras
Dia membawakan mu segaris pelangi untuk kau lalui menujuku
Kuningan, 150125
Misteri November
Pernah hilang dalam terang
Harap dan hening yang cemas
Dalam penantian panjang
Dalam pencarian yang nyaris tak berujung
Dalam rindu sepasang mata Ibu
Dalam rapalan doa bibir tua Bapak
Pencarian
Penantian
Keputus asaan
Bahkan ketidak warasan
Tahun paling sunyi terlewati
Hujan November serupa air mata Ibu
Tangis haru
Tawa bahagia
Peluk kerinduan
Dan…
Petualangan berakhir
Aku yang membisu dalam birunya perjalanan
November
Hujan
Airmata
Tawa
Dan luka…
Kuningan, 120125
Dewis Pramanas:
Aku Rindu Kita Bersama Lagi
menjelang senja kali ini
aku mengingat kenang masa silam
kita pernah menyusun nada-nada
berdialog tentang lagu kesukaan
disatukan oleh frekuensi yang sama
terbingkai utuh binar wajah lugu
saat berkumpul dengan tawa lepas
‘tuk sekadar menonton kartun
yang tayang waktu libur
kita selalu disuguhi kasih
tak pernah sedikit pun renggang
menjelajahi dunia masa kecil
dengan natural
tanpa menghadapi konflik pelik
aku ingin kembali pada masa itu
dimana kita saling bersama
berlari kencang meraih cita
mengayuh gembira
Subang, 2 Oktober 2025
Serenada Hujan
Pada rinai membasahi pipi, menggenang rindu yang mengering sebab waktu telah menjemur luka sepanjang hari. Ribuan detik berlalu mengukir noda dari sebuah ikrar.
Gemercik air langit terngiang syahdu membawa jiwa kembali menembus masa perihal pertemuan sepasang kupu-kupu saling beradu rasa mengikat harap bersatu.
Andai ragamu ada di hadapanku, ingin tangan ini mendekap seperti gerimis yang menjadikan rintiknya perlahan jatuh membasahi bumi lalu mengalir tenang.
Saat awan menghitam, kasihku melarung ke sungai-sungai yang arusnya melewati batu-batu penghalang keteguhan kalbu.
Reranting basah dan akar penyangga keluh biarlah menjadi dekapan saat aku butuh hangat menjelang hujan yang gigil. Rindu tak pernah permisi kapan datang dan pergi.
Kau memilih merenggangkan jarak dari prahara yang menjurang. Entah berapa banyak penjelasan mengunjungi relung hatimu tetapi semua rasa telah hanyut tersisa kehilangan.
Subang, Juli 2025
Erna Muti’rofianas:
Terperangkap Ilusi
Di balik bayangan waringin,
seekor kucing melompat
mengejutkan tidur serangga
Sementara kau, masih terperangkap
dalam pergumulan kata
bertanya-tanya mana yang nyata
atau semua adalah semu
Ketika kau akhirnya membuka mata,
semua ilusi bertebaran
pecah menjadi kepingan lara
lenyap bersama tiupan bayu
Mereka memintamu pulang
pada realitas yang kau benci
Semarang, 2025
Minggu Pagi di Pasar
Setiap Minggu pagi, kau
mengantar ibu ke Pasar Kampung
mengendarai motor butut
yang suaranya seperti kentut
Kau menunggu di depan gapura
sambil mengamati:
kucing mengais-ngais bak sampah,
kuli memanggul lima karung beras,
gadis kecil menata buah,
pemuda sebayamu memotong ayam,
dan lain-lain dan lain-lain
Seorang pria berpakaian kumuh
dan berbadan bungkuk
menengadahkan tangan dan menunggu
mengharap kemurahan hatimu
Kau merogoh kantong celana
menemukan struk belanja
yang tintanya tak terbaca
Ibu kembali
dan mengulurkan berplastik-plastik:
telur asin, sayur sawi, ikan teri,
biji kemiri, daun seledri, jeruk bali
dan lain-lain dan lain-lain
Seorang pria berpakaian kumuh
dan berbadan bungkuk
menghampiri penjaja es tebu
Kau melajukan motor
melewati jalan-jalan berlubang
yang aspalnya diperbaiki
ketika Yang Mulia lewat
Semarang, 2025
Anindya Bella Leilani Putri:
Rasa yang Tak Pernah Terucap
Saat kau tersenyum di sisiku,
Dunia seakan melodi yang tak pernah sendu.
Namun, kau tak pernah tahu,
Ada debar yang menari di dadaku.
Kita tertawa di bawah langit senja,
Seolah waktu tak punya batasannya.
Namun di balik canda yang membanjiri udara,
Ada kata yang enggan bersuara.
Aku tahu, kau tak akan mengerti,
Karena kita terlalu dekat seperti ini.
Tak ingin kehilangan, tak ingin terluka,
Maka kusimpan rasa ini dalam dada.
Biar kusimpan dalam senyap,
Seperti angin yang mengusap lembut tanpa jejak.
Karena mencintaimu dalam diam,
Lebih indah daripada kehilangan selamanya.
Seirama, Tapi Tak Sama
Kita bernyanyi dalam nada yang sama,
Namun melodi hati tak pernah seirama.
Ada jeda yang tak kasat mata,
Ada rindu yang tak pernah terasa nyata.
Kita melangkah di jalan yang bersisian,
Namun hatimu terus mengembara dalam kebisuan.
Seperti angin yang berhembus ke utara,
Sedang aku terpaku di sini, bertanya-tanya.
Kita suka kopi dengan rasa yang sama,
Namun pahitnya tak pernah terasa serupa.
Ada ruang kosong yang tak terjamah,
Jarak tak terlihat yang tak bisa dihapus kata.
Hari-hari kita penuh cerita,
Namun di antara tawa yang bersahutan,
Aku bertanya pada langit senja,
Apakah kita benar-benar berjalan ke arah yang sama?
Seirama bukan berarti sehati,
Sejalan pun tak menjamin abadi.
Mungkin kita adalah melodi yang indah,
Namun tak ditakdirkan untuk menjadi lagu yang sama.
BIODATA
Chie Setiawati. Bergabung dengan komunitas Penyair Perempuan Indonesia. Karyanya telah di muat di beberapa surat kabar online dan cetak. Masuk dalam antologi Rainy Day Banjarbaru 2018, Almuni Munsi 2018, Pertemuan Sastrawan Nusantara 2022, Jambore Sastra Asia Tenggara 2024.
Dewis Pramanas, lahir di Subang, 1 Maret 1987. Saat ini ia mengajar di SD Negeri Ciberes, Subang. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021) sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring.
Erna Muti’rofianas, mendayagunakan waktu luang dengan membaca fiksi, terutama genre misteri dan fantasi, serta menulis puisi, cerpen, dan resensi di beberapa media online.
Anindya Bella Leilani Putri, yang akrab dipanggil Bella, lahir di Ponorogo pada 9 Agustus 2008. Saat ini, ia merupakan siswi SMA Negeri 2 Madiun dan menjadi bagian dari Tim Literasi sekolah untuk periode 2025/2026.













