SAYA datang ke halaman Gereja Kristen Jawi Wetan Jemaat Madiun bukan sebagai tamu yang netral, melainkan sebagai seorang muslim, penulis, dan anggota Gusdurian Madiun yang membawa keyakinan sekaligus kegelisahan. Undangan membaca puisi dalam Perayaan Natal 2025 di Dusun Golang, Kuwiran, Kare, adalah sebuah peristiwa kecil secara kalender, tetapi besar secara makna. Di sanalah saya menyadari bahwa pertemuan lintas iman bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang refleksi tentang bagaimana kita memaknai Tuhan, kemanusiaan, dan Indonesia hari ini.
Tema perayaan, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24), mengandung pesan universal yang melampaui batas teologis. Keluarga, dalam pengertian paling luas, adalah persekutuan manusia yang saling menjaga kehidupan. Ketika lagu-lagu rohani dilantunkan, doa dibacakan, risalah Natal disampaikan, lalu Indonesia Raya dan Garuda Pancasila dinyanyikan, saya merasakan satu hal yang sering hilang dalam wacana publik kita: kesadaran bahwa iman dan kebangsaan tidak sedang berkompetisi, tetapi dapat saling menguatkan.
Sebagai muslim, saya tidak datang untuk mencairkan keyakinan saya, apalagi menanggalkannya. Saya datang dengan iman yang utuh, sebagaimana saudara-saudara Kristen hadir dengan iman mereka. Justru dalam keutuhan itulah dialog menjadi mungkin. Martin Buber, pernah menulis, “Manusia menjadi aku melalui engkau.” Kutipan ini mengingatkan bahwa identitas tidak tumbuh dalam ruang hampa, melainkan dalam relasi. Saya memahami diri saya sebagai muslim Indonesia justru ketika saya berjumpa dengan yang berbeda, bukan ketika saya menutup diri darinya.
Acara demi acara berlangsung dengan kesederhanaan yang khidmat. Sambutan ketua panitia, Marsidi, penyalaan lilin Natal oleh para tokoh lintas agama, pesan Natal oleh Pdt. Brahm Kharismateus, hingga sambutan Camat Kare dan Ketua FKUB Kabupaten Madiun, semuanya membentuk narasi diam tentang persaudaraan. Lilin-lilin itu menyala bukan untuk menegaskan perbedaan terang, tetapi untuk mengusir gelap prasangka. Dalam konteks Indonesia kontemporer, di mana agama sering direduksi menjadi identitas politik, momen seperti ini adalah bentuk perlawanan yang sunyi namun tegas.
Ketika saya memainkan biola dan membacakan puisi, saya merasa seni menjadi bahasa yang paling jujur. Ia tidak meminta orang berpindah iman, tetapi mengajak mereka berpindah sudut pandang. Seni mengingatkan kita bahwa sebelum menjadi pemeluk agama, kita adalah manusia yang mampu terharu, takut, berharap, dan mencintai. Hannah Arendt pernah berkata, “Krisis hanya menjadi bencana jika kita menjawabnya dengan prasangka.” Barangkali krisis terbesar relasi antar agama hari ini bukanlah perbedaan doktrin, melainkan kemalasan berpikir dan keberanian menghakimi tanpa perjumpaan.
Saya hadir bersama Haris Saputra, koordinator Gusdurian Madiun, membawa semangat yang diwariskan Gus Dur: bahwa agama seharusnya menjadi sumber etika publik yang membela kemanusiaan, bukan alat eksklusi. Kehadiran saya di perayaan Natal ini bukan bentuk toleransi yang pasif, melainkan solidaritas aktif. Toleransi sering disalahpahami sebagai sekadar “membiarkan”. Padahal, dalam konteks masyarakat majemuk, toleransi menuntut keberanian hadir, mendengar, dan bahkan terlibat, tanpa kehilangan jati diri.
Di Madiun, kota yang sering luput dari sorotan nasional, praktik-praktik kecil seperti ramah tamah dan foto bersama lintas agama justru menyimpan pelajaran besar. Perdamaian tidak lahir dari deklarasi megah, tetapi dari kebiasaan saling menyapa. Ia tumbuh dari kesediaan duduk bersama di halaman gereja, masjid, atau ruang publik lain, dengan kesadaran bahwa masa depan bangsa ini terlalu berharga untuk dikorbankan demi fanatisme sempit.
Pertemuan ini mengajarkan saya bahwa iman sejati tidak takut pada perjumpaan. Tuhan tidak mengecil ketika kita menghormati jalan orang lain menuju-Nya. Justru sebaliknya, Tuhan menjadi relevan ketika nilai-nilai ilahiah menjelma dalam tindakan merawat kehidupan bersama. Di tengah dunia yang gemar membangun tembok, peristiwa Natal di Golang adalah pengingat bahwa jembatan masih mungkin dibangun, jika kita mau melangkah.
Pada akhirnya, perayaan ini meninggalkan pertanyaan yang patut kita bawa pulang. Jika kita meyakini Tuhan Yang Maha Pengasih, mengapa kita begitu mudah mencurigai sesama manusia? Jika kita bangga dengan keberagaman Indonesia, sejauh mana kita sungguh-sungguh bersedia hidup di dalamnya, bukan sekadar mengutipnya? Barangkali, seperti lilin Natal yang sederhana itu, perdamaian tidak perlu berkobar besar untuk bermakna. Ia cukup menyala konsisten, menerangi sekitar, dan mengingatkan kita bahwa menjadi beriman adalah juga menjadi manusia yang menjaga sesama.
Fileski Walidha Tanjung adalah sastrawan dan pendidik kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai, dan cerpen di berbagai media nasional.













