Puisi Ni Komang Mutiara Dewi:
Lara tak Berujung
Kepingan berselimut kelabu,
Alunan melodi tak tentu arah,
Sebab sembab menjadi obatnya,
Tatkala lembar hitam menumpuk,
Menjadi sarang air mata.
Petikan sendu menyadarkan lamunan,
Gemetar mulut menjadi sukar bicara,
Menutur dengan batinnya,
Dirinya pandai menjadi pendengar.
Seakan lara menyapanya,
Duduk termenung tak berkata,
Rautnya isyaratkan kepedihan,
Tak berujung.
Aksara dalam Dunia tak Berwajah
Meniti hamparan bernama maya,
Menjahit lengkara pada tipisnya cahaya,
Riuh jemari mengukir narasi,
Pena bukan lagi pengendali.
Dalam ruang tanpa batas,
Wangi ratna aksara tersampaikan,
Papan kaca berbicara sedang,
Berpeluk samar, gundah berkelana.
Gulungan waktu bercerita,
Benang kata menyulam tanpa suara,
Seakan penghuni hanya satu napas,
Mengerti segala dari seberang jarak.
Buah Hasil Usaha
Kerasnya dunia yang kupijak saat ini,
Seolah aku harus mengikuti setiap ambisi,
Peluh yang menetes saat ini,
Terbayar hingga akhir nanti.
Dibalut angan-angan,
Yang harus aku wujudkan,
Melalui setiap kesempatan,
Menuju cahaya gemilang.
Seribu sembilan puluh lima hari lamanya,
Menjadi kesempatan emas untuk aku berkarya,
Karya yang akan aku sembahkan
Untuk tempat dimana aku berkelana.
Buah hasil usahaku,
Menjadi hadiah dari semua perjuanganku,
Tak terasa setetes air mata jatuh,
Diikuti senyum simpul penuh haru.
Riuh sorakan yang bergema seantero sekolah,
Ribuan tepuk tangan yang terdengar,
Dan ketika aku memegang trofi kemenangan,
Tepat di sana hatiku tak menyisakan keraguan.
Kini aku mengerti,
Tekad yang terpatri dalam diri ini,
Membawaku menuju prestasi,
Secerah kilauan bintang di langit.
——————————
Puisi Ni Wayan Margiani:
Perempuan dalam Pusaran Pasar
Dingin masih menjerat mimpi
tercium harum kembang melati
perempuan itu telah melangkah pergi
berjalan dalam kepekatan pagi
mencoba kembali mengais rezeki
sayup-sayup alunan serangga bernyanyi
Warung kecil di pojok pasar itu
di samping WC umum
dalam lipatan daun-daun kering,
di atas tumpukan bambu-bambu runcing
Lalu lalang pejalan kaki
menenteng jabatan penjual dan pembeli
sebagai garis tangan tanpa tawar
perempuan itu berputar dalam pusaran pasar
Badung, 2025
Kopi Pahit
Secangkir kopi pahit
yang kusesap sedikit
rasanya masih menggigit
kutambahkan gula
tapi kau tambahkan noda
dengan janji dan propaganda
nyatanya sampai kini
tak ada perubahan berarti
harga masih membumbung tinggi
kesulitan hidup mencekik mati
Badung, 2025
Pejuang Rezeki
Setiap hari
di jalanan ini
tak pernah berhenti
riuh motor kencang berlari
suara klakson memekik menimpali
saatnya mengejar mimpi
menjemput sepotong rezeki
lelah pun tak membuat tiarap
Kau teriak penuh semangat :
“Aku tak ingin sekarat!”
Tak ada pilihan,
dimakan setan jalanan,
atau mati kelaparan
Badung, 2025
—————————————-
Puisi Rety Wijayanti :
Merah di atas Putih
Sudah sekian warsa mendatang
Kedaulatan terombang ambing dalam kegamangan
yang terdesak keseteruan
Retorika yang melulu soal keadilan
Namun apa daya jatuhnya kecaman malah tak setimpal
Jika terpincut bunga mawar bisa tersekap dijeruji pidana,
lantas apa kabar kicauan burung gagak yang merajut cacing jelata
Penggusuran paksa, dengan dalih gedung-gedung yang megah
Skenario luar biasa, hingga terbuai dengan janji manisnya
Heii
Apa kau begitu suka menyiksa cacing jelata?
Ah! takkan ada habisnya membicarakan Nusantara
Pembantaian di Lubang Buaya
Ledakan Bom Atom Hirosima
Atau ‘kan adanya tikus-tikus berdasi
yang terjerumus dalam godaan surga dunia
Dikata untuk rakyat tapi keluh kesah dicampakkan
bagai butiran debu diterpa angin lalu
Pendapat dibungkam. Aspirasi diacuhkan.
Hal sepele dibesarkan. Ditindas. Ditekan. Dicekam
Ketika sajak terlontarkan dalam pikiran
yang menghantui kehidupan
Cacing merangkak tegap laksana senantiasa mendekap antero raya
Berlari ke tepi rongsokan
Menyusuri kolong jembatan
dan terucap lirih
“bangsa yang besar adalah bangsa tiga puluh delapan bayang”
Lipatan Waktu
Selembar kertas kosong kutemui
di antara deretan halaman bertinta hitam
Membosankan, pikirku.
tak ada istimewanya dari putih suram yang diam
Kuabaikan, melintasi deretan berikutnya,
namun, tanpa sengaja jemariku beralih membaliknya,
lalu terbersit tanya di benak:
“mengapa lembar ini dibiarkan putih suram?”
Kurobek pelan bagian itu tanpa seorang pun melihat
Kulipat menjadi kotak kecil,
Kusimpan dalam catatan harian yang terkunci rapi
Mungkin butuh waktu
untuk membuka lipatan itu kembali
Memilih tinta yang tepat untuk menggoreskan kisah nanti.
Spesial? Ah mungkin tidak
Hanya sekadar membumbui kesan eksotis
pada hal yang tak biasa kuperhatikan
Lantas… bila saatnya tiba lembar itu terbuka?
entah hari ini, esok, atau nanti
biarlah waktu yang menyingkap arti
Renjana
Tampaknya abad berlari begitu gesit
menyusuri hari tanpa halangan
Rintihan tawa yang masih jelas terekam
Menorehkan jiwa terpendam angan
Caturwulan bagai gelagat gerbong,
saat kembali menapakkan kaki
Tersisa nestapa di ruangan kosong,
seperti api yang tak punya nyali
Kutatap dari kejauhan, kuselipkan pemujaan
daku tahu dikau mendengar, tapi mengapa terpaku tanpa jawaban?
Memang, tidak semua rindu akan tertunaikan
Terlebih kerinduan abadi yang mencekik raga dalam sunyi
BIODATA
Ni Komang Mutiara Dewi, lahir di Surabaya, 20 Mei 2006. Dia kuliah di Universitas Pendidikan Ganesha. Mulai menulis puisi sejak kelas 10 SMK. Prestasi yang pernah diraihnya, antara lain First Winner Poetry Reading Contest (2015), Juara 1 Lomba Mesatua Bali Tingkat Kabupaten Buleleng, Juara 2 Lomba Cipta dan Baca Puisi Tingkat Kabupaten Buleleng (2023), Juara 3 Lomba Cipta dan Baca Puisi Tingkat Provinsi Bali (2023).
Ni Wayan Margiani, lahir di Badung, Bali, 19 September 1977. Sejak kecil suka membaca dan menulis fiksi. Awalnya menulis cerpen anak, pernah dimuat majalah BOBO dan mingguan anak-anak LINTANG (Bali Post). Menulis puisi yang dimuat di Bali Post Minggu, puisi berbahasa Bali di Koran Bali Age, Bali Orti (Bali Post), puisi dan cerpen berbahasa Bali di majalah Canangsari dan majalah Satua. Sampai kini masih aktif menulis fiksi untuk media online.
Rety Wijayanti berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kini dia kuliah di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Dia suka menulis dan membaca puisi.













