MALMING
Malming menggigil memanggilmu
tanpa satu pelukan bertamu
hening membingkai perjumpaan
yang telah layu di pintu gerbang
para pelacur kata kian bermunculan
dari ketiak kota hingga
ke selangkangan perkampungan
Malming kali ini terasa amer
kepala dipenuhi distopia undang-undang
hujatan berledakan ke tiap ruang
jari-jari mulai lihai memainkan pembualan
barang kali meja-meja penyair
tak lagi melankolis
sebab mereka telah dipenjara kekuasaan
tanpa jeruji dan waktu yang ditentukan
Malming tak lagi perawan
ia baru saja diperkosa kaum rebahan
di pojok ranjang lampu temaram
Sumenep, 2025
DI CAFE ITU
Di cafe itu
aku leluasa menghamba
berserah tanpa berseru
belajar merawat ketakziman
pada waktu dan ruang-ruang
tanpa meraung-raung berlebihan
di cafe itu
setidaknya aku tahu
cara bertamu tanpa bertemu
cara mengadu tanpa menuduh
sebab, di sanalah
aku lelah dengan lillah
kini aku terbelenggu
pada carut-marut mulut waktu
buas membias doa-doa tubuh
lantas, pantaskah aku
sebagai penyembah
dan Kau sebagai penyembuh
di balada yang kumuh ini
Sumenep, 2025
ANATOMI KOTA KERIS
Berkelana di punggungmu
menaksir langka para pejalan
meninggalkan pilu perlahan-lahan
orang-orang berlalu-lalang
melempar cinta dan kabar
pada tiap kaki-kaki kedai dan lengan trotoar
Di bibir alun-alun kota
mereka yang berpasangan
mengecup setiap lara dan doa-doa
memjadikan labeng mesem
sebagai saksi bagi mereka yang bekisah dan berkasih
Kami kian larut dalam senandung
bibirmu yang kidung
memanjakan telinga-telinga jalan
yang berpura-pura tuli dari kebisingan
sirine dan letusan kenalpot jalanan
Pada ceruk tubuh kota
aku dan Tuhan bersua
kami menafsir tubuhmu yang keris
dan menaksir waktumu yang puitis
Sumenep, 2025
UTOPIA TUBUHMU
Pada tubuhmu yang utopia
aku ingin narasi lebih lama
aku ingin sedih lebih ramah
& aku tak ingin semua berlabuh padamu
cukup aku hanya aku
Tuhan yang bersemayam di pelipis matamu
menolak nyenyak malam-malamku
Mungkin aku bakal tanggal dalam pelukan
tempat tersorga bagi tubuh-tubuhku yang karam
Sumenep, 2025
KETAKZIMAN NELAYAN
Pada getir laut
kami mendekap meratap harap
memeluk ombak yang besajak
membelai ingin yang berangin
Tuhan berenang di sana
maka kami takzim menyelaminya
sebagai nelayan yang saleh
Namun, semenjak bambu haram itu
menjelma hantu samudra
kami dan lokan-lokan tak lagi bersua
membentang jarak dengan doa
Ketakziman kami pada laut
dikungkung oleh kecongkakan
bau anyir di tepi pesisir membawa kabar
bahwa hidup kian redup
sebab tuhan sudah kehilangan rasa takjub
pada mereka yang lihai bermain mulut
Tuhan, ketakziman seperti apa lagi
yang harus kami suguhkan?
jika laut tak lagi menjadi tumpuan
bagi kami dan doa lokan-lokan
Di kening mereka yang keriput
sungguh terlihat getir laut;
“aku adalah sebagian dari nasib dan nisab hidupmu”
Bandung, 2025
BIODATA
Yoga Dzulkarnain. Pemuda kelahiran Sumenep Madura, Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Puisi-puisinya dibukukan dalam Antologi Puisi DNP (Dari Negeri Poci) Ke-11 KHATuLISTIWA (Jakarta, 2021), Antologi Puisi Nusantara (Indonesia-Malaysia-Singapura) ‘Identitas, Kemanusian, Kampung Halaman’ (2023), Antologi Puisi DNP (Dari Negeri Poci) Ke-14 JAUHARI (Jakarta, 2024), Antologi Puisi Jambore Sastra Asia Tenggara ‘Ijen Purba: Tanah, Air dan Batu’ (2024) dll. Beberapa karya lainnya dimuat di berbagai Media Online, Majalah dan Koran/Surat Kabar. Peraih nominasi 50 Penyair pilihan kurator pada Lomba Cipta Puisi Festival Pesona Kopi Agroforestry 2022 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI bekerjasama dengan Media Indonesia.













