URSULA MUSCHELER menulis buku berjudul Gaya Hidup Bertolt Brecht, Sebuah Rumah, sebuah Kursi dan sebuah Mobil (Bertolt Brecht Lebensstil, Ein Haus, ein Stuhl, ein Auto).
Ursula mendokumentasikan perjalanan Brecht terkait gaya hidupnya. Brecht lahir pada 10 Februari 1898 di Kota Augsburg, Jerman. Ia belajar kedokteran di Munich dan sudah mulai menulis puisi dan naskah teater. Ia tak puas hanya dengan dua kota Augsburg dan Munich, ia ingin pindah ke Berlin, supaya talenta kepenyairan dan teaternya berkembang.
Pada 20 Februari 1920 ia pertama kali menginjakkan kaki di Berlin. Ia menumpang di rumah sastrawan dan jurnalis Frank Warschauer selama tiga minggu. Frank ia kenal saat masih di Munich.
Ia meninggalkan Berlin dan kembali ke Berlin lagi dari 8 November 1921 sampai 14 Maret 1922. Di Berlin Brecht menumpang di apartemen milik pabrik kertas, karena ayahnya pegawai pabrik kertas. Apertemen itu sebetulnya untuk para kaum difabel.
Brecht pernah berujar, tak tertarik dengan urusan pribadi. Brecht termasuk sastawan yang tak memikirkan kualitas tempat tinggal. Baginya kesederhanaan itu utama. Ia propagandakan hidup seperti orang biasa.
Ketika Brecht diundang ke rumah temannya Kessler, di rumah yang indah. Komentar penyair Marxist ini, “Kepala yang sangat dekaden.”
Karier Brecht mulai moncer di tahun 1930-an. Ia mulai dikenal sebagai penyair dan dramawan. Ketika kariernya dalam teater memuncak, ia profesional dan mendapat honor tinggi.
Perlahan ia mulai menilai estetika arsitektur rumah yang baik, paduan antara yang klasik dan modern.
Ia bekerja dengan profesional dan mendapat honor tinggi. Pada tingkat ini, Brecht punya argumen baru lagi, bahwa jika honor tinggi, tentu sebagai sastrawan akan dianggap berhasil, jika punya rumah, kursi dan mobil.
Ada fase Brecht menyukai mobil. Mungkin sebagai seorang dramawan perlu kerja mobiling dan mengadaan losgistik dekorasi panggung. Akan sangat sulit, jika hanya mengandalkan transportasi umum.
Pada 28 Februari 1933, Hitler berkuasa. Brecht dengan istrinya Helene Weigel dan anak-anaknya bereksil ke luar negeri. Ia dan keluarganya meninggalkan rumahnya di Jerman dan menuliskan puisi berjudul:
Masa Kekayaanku (Zeit meines Reichtum)
Minat memilikinya sangat mendalam dan aku senang.
Punya perasaan seperti itu
Berjalan ke kebunku, menemui tamu-tamu,
Merancang model bangunan
Seperti di tempat pekerjaanku
Aku senang, kutafsir 6 minggu cukup
Brecht mengatakan kepada temannya Walter Benjamin, “Aku seorang proletar. Mereka mengambil tak hanya rumahku, kolam ikanku dan mobilku. Mereka juga merampok panggungku dan penontonku.”
Awalnya Brecht meninggalkan Jerman lewat Praha, ke Wina dan Zürich. Di Zürich ia merasa kehidupan sehari-hari mahal terutama sewa apartemen dan tak ada kota yang mementaskan teater menyediakan dekorasi.
Brecht meninggalkan Zürich dan berpindah di desa kecil bernama Carona di tepi danau Lugano, Swiss. Di desa sepi ini ia akui biaya hidup murah.
Ia bereksil lagi ke Denmark selama 6 tahun, di Swedia selama setahun, dan di Finlandia selama setahun. Keluarga Brecht menyewa apartemen kecil dan kurang memadai. Hidupnya susah di rantau negeri-negeri Skandinavia ini.
Tahun 1935 ia berkeksil ke New York dengan menumpang kapal dan memainkan drama Ibu (Die Mutter). Ia mendapat honor bagus, namun untuk sewa apartemen sebulan 48.50 Dolar. Ia sudah melewati fase gaya hidup proletar. Helene Weigel bisa membeli pakaian mahal.
Brecht bereksil ke Paris tahun 1937. Usai Perang Dunia II, Brecht kembali ke negara Eropa yang berbahasa Jerman, yakni Austria dan Jerman, agar ia bisa mementaskan naskah dramanya yang berbahasa Jerman.
Di kota Zürich ia bertemu Max Frisch, sastrawan Swiss. Ia diajak mengunjungi proyek bangunan yang sedang dikerjakan Max Frisch. Ketika Brecht dimintai pendapatnya, tampak murung. Tidak cocok dengan arsitektur model Frisch. Brecht ini pemerhati estetika rumah juga.
Meskipun keduanya kurang cocok, Frisch mengantar Brecht mementaskan drama berjudul Santa Cruz pada tahun 1948 di kota Konstanz, Jerman. Brecht merasa tak cocok dengan Frisch dan keduanya saling diam. Bahkan di perbatasan negara Jerman dan Swiss, Brecht pulang sendiri. Brecht meninggal pada 4 Agustus 1956 di Berlin Timur.
*Sigit Susanto, penulis dan penerjemah, menetap di Swiss.










