JALAN DHARMA: Tokoh Muda Bali, Ni Made Sri Yogi Lestari. (Sumber: Pribadi/Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Tokoh Muda Bali, Ni Made Sri Yogi Lestari melihat, masih maraknya kasus Kasepekang (Sanksi Adat) seperti pengucilan atau pengasingan yang terjadi di Bali memberikan implikasi yang cukup ekstrem bagi masyarakat terdampak yang memicu lahirnya konflik adat, sehingga ia berharap perayaan Hari Suci Galungan dapat dijadikan momentum Nyame Gelah (saling melindungi).
Hal tersebut diungkapkan Sri Yogi saat dihubungi langsung oleh wartawan Bali Politika, melalui sambungan telepon ia mengatakan sejumlah kasus Kasepekang yang terjadi di Bali banyak mengakibatkan hilangnya hak-hak sosial masyarakat. Terlebih, isu-isu abuse of power (kesewenangan-wenangan) dan kepentingan desa adat sangat melekat di sejumlah kasus, kental akan makna negatif dan keserakahan yang berbalut hukum adat.
Fenomena yang terjadi tersebut mendorong Sri Yogi untuk bersuara Nyame Gelah! Mengingatkan masyarakat akan pentingnya saling melindungi sesama umat se-dharma dalam moment hari suci kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan), menjadi makna terdalam di perayaan Hari Raya Galungan.
“Dalam memaknai kesucian Hari Raya Galungan adalah, bagaimana masyarakat Bali ini bisa nyame gelah, ajeg untuk saling melindungi. Mengingat kasus kesepekang adat masih sering terjadi akibat egosentris di internal banjar adat,” sentilnya, Rabu, 19 November 2025.
Lebih lanjut ia menekankan, bahwa ajakan tersebut bertujuan agar masyarakat memahami esensi spiritual dari Hari Suci Galungan, memperkuat nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari, memperkokoh persatuan, termasuk mengingatkan desa adat akan pentingnya merefleksikan diri, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan hak masyarakat adat.
Selain itu, Sri Yogi juga menambahkan pentingnya untuk menghargai kemajemukan dalam momentum Galungan kali ini, terutama dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Ia berharap, kekuasaan dan kekuatan nilai-nilai adat di Bali tidak disalahartikan, dijadikan alat penguasa batin oleh oknum yang berkepentingan dan menjadi masyarakat sebagai korbannya.
“Tak ada kata lain untuk memaknai Galungan kali ini. Saya berharap kedepan tidak ada lagi oknum-oknum yang mengorbankan masyarakatnya atas nama hukum adat,” cetusnya.
Ia juga menyampaikan, seyogyanya momentum Galungan kali ini dapat dijadikan kesempatan untuk memperkuat tali persaudaraan dan menjaga keharmonisan yang telah terjalin dengan baik kedepannya. (bp/gk)













