TEHERAN, Balipolitika.com- Eskalasi gempuran AS-Israel dan pembalasan oleh Militer Iran kini memicu kekhawatiran hebat terhadap stabilitas ekonomi masyarakat global secara menyeluruh. Iran mengklaim telah memegang kendali penuh atas seluruh permukaan dan bawah laut di wilayah perairan Selat Hormuz. Mereka menutup jalur sempit itu yang akan langsung memicu lonjakan harga minyak dunia karena posisinya sebagai gerbang utama ekspor.
Militer Iran menegaskan bahwa pasukan mereka mengawasi setiap pergerakan kapal tanker yang melintasi kawasan strategis tersebut sepanjang hari.
Jalur pelayaran internasional ini mengangkut sekitar dua puluh persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair untuk kebutuhan global. Penutupan akses pelayaran akan berdampak sangat buruk bagi negara pengimpor energi seperti Tiongkok, Jepang, hingga wilayah Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Selat Hormuz sejak dahulu menjadi koridor penting bagi perdagangan rempah serta komoditas utama antar benua.
Pemerintah Teheran berulang kali menyatakan bahwa keamanan navigasi di teluk tersebut berada di bawah otoritas penuh angkatan laut mereka.
Negara produsen minyak raksasa seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait sangat bergantung pada kelancaran akses keluar masuk selat. Kapal tanker raksasa setiap hari membawa jutaan barel emas hitam menuju pasar energi di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia. Jika arus lalu lintas terhambat dalam waktu lama, inflasi tinggi akan mencekik pertumbuhan ekonomi di berbagai belahan dunia.
Data intelijen pasar menunjukkan bahwa gangguan distribusi energi akan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja secara massal di sektor industri manufaktur.
Tiongkok menjadi negara yang paling rentan karena mereka membeli lebih dari delapan puluh persen total ekspor minyak mentah milik Iran. Perusahaan analitik Kpler mencatat bahwa Beijing mengimpor rata-rata satu juta barel lebih minyak dari Teheran pada setiap harinya. Ketergantungan tinggi ini membuat stabilitas keamanan di Selat Hormuz menjadi prioritas utama bagi keberlangsungan industri manufaktur di Negeri Tirai Bambu.
Pakar energi memprediksi bahwa harga minyak dunia bisa menembus angka tertinggi jika konflik bersenjata pecah di sekitar wilayah perairan Oman.
Selain membawa komoditas energi, ribuan kapal kontainer yang mengangkut bahan pangan dan barang manufaktur juga melewati jalur sangat sempit ini. Posisi geopolitik yang sangat sensitif menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat perselisihan abadi antara pihak Iran dengan negara-negara Barat. Dunia kini menanti langkah diplomasi agar jalur urat nadi ekonomi ini tidak benar-benar tertutup oleh blokade militer yang membahayakan.
Otoritas maritim internasional mendesak semua pihak untuk tetap menahan diri guna menghindari resesi ekonomi global yang dapat merugikan semua negara.
Kondisi geografis Selat Hormuz yang sangat sempit memang memudahkan pihak manapun untuk melakukan blokade total terhadap semua aktivitas pelayaran sipil. Lima dari sepuluh produsen minyak terbesar di dunia saat ini menaruh tumpuan hidup pada keamanan navigasi di koridor perairan tersebut. Tanpa jaminan keamanan yang pasti, rantai pasok barang dunia akan mengalami kelumpuhan total yang berujung pada krisis kemanusiaan yang luas.
Manajemen risiko pada sektor transportasi laut global menyarankan agar perusahaan pelayaran mulai mencari rute alternatif meskipun memerlukan biaya operasional jauh lebih mahal. (BP/CHA).







