RENDRA selalu mengatakan bahwa alasan ia menyukai padel sangat sederhana, yakni olahraga itu mengajarinya bahwa tidak semua bola harus dipukul dengan tenaga yang sama. Kadang-kadang seseorang hanya perlu menunggu, membaca arah pantulan, kemudian mengembalikan bola dengan sudut yang tepat agar lawan kehilangan ruang. Ia sering mengucapkan kalimat itu kepada teman-temannya sambil tertawa, terutama ketika permainan Jumat sore berubah menjadi percakapan tentang pekerjaan, saham, akuisisi, dan orang-orang yang menurutnya terlalu lambat mengambil keputusan.
Tidak seorang pun di antara mereka menyadari bahwa Rendra sesungguhnya sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Selama lebih dari dua puluh tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa setiap persoalan selalu mempunyai titik pantul yang dapat dibaca oleh orang yang cukup tenang, cukup cermat, dan cukup berani mengambil keputusan. Keyakinan itulah yang membawanya dari seorang manajer muda menjadi kepala perusahaan, sekaligus keyakinan yang kelak membuatnya tidak mampu memahami mengapa sebuah bola padel berwarna hitam terus-menerus mengembalikannya kepada satu sore yang sama.
Jumat itu langit mendung sejak siang, tetapi Rendra tetap datang ke klub sebab ia tidak pernah membatalkan permainan hanya lantaran cuaca. Ia baru saja keluar dari rapat panjang mengenai ekspansi perusahaan ketika sekretarisnya mengingatkan bahwa pukul lima ia harus berada di lapangan. Rendra bahkan tidak sempat mengganti kemeja di kantor; jasnya ditinggalkan di mobil, lengan kemeja digulung sampai siku, dan selama perjalanan ia masih membaca laporan keuangan dari tablet yang diletakkan di samping kursi.
Ia baru benar-benar melepaskan pekerjaannya ketika memasuki lapangan, sebab di tempat itu ia merasa segala sesuatu memiliki hukum yang lebih sederhana daripada dunia perusahaan. Bola datang dari depan, raket menyambutnya, dinding mengembalikannya, dan kesalahan dapat dilihat dalam hitungan detik tanpa perlu menunggu laporan kuartal berikutnya.
Pasangan bermainnya sore itu adalah Dimas, lelaki yang telah dikenalnya hampir setahun melalui klub tersebut. Mereka tidak pernah benar-benar menjadi sahabat, tetapi memiliki kecocokan yang membuat permainan berjalan tanpa banyak kata. Dimas tahu bahwa Rendra menyukai bola cepat dan tidak sabar menghadapi permainan bertahan, sedangkan Rendra tahu bahwa Dimas selalu menunggu lawan melakukan kesalahan sebelum menyerang.
Mereka sudah memainkan puluhan set bersama, tetapi sore itu Dimas beberapa kali melihat Rendra seperti seseorang yang pikirannya tertinggal di tempat lain. Bahkan ketika Rendra memenangkan sebuah poin panjang dengan smash yang membuat bola memantul tinggi dari kaca belakang, ia tidak segera tersenyum seperti biasanya. Pandangannya justru tertuju pada sebuah bola yang menggelinding ke bawah bangku penonton.
Bola itu berbeda dari bola yang mereka gunakan. Warnanya hitam, permukaannya sedikit kusam, dan tidak ada merek yang tercetak di sana. Ketika Rendra mengambilnya, ia menemukan angka kecil yang hampir tertutup goresan angka “47”. Ia sempat bertanya kepada petugas klub, tetapi tidak seorang pun merasa kehilangan bola. Sebab menganggapnya tidak penting, ia memasukkannya ke dalam tas dan melanjutkan permainan sampai lampu-lampu lapangan menyala dan hujan mulai turun di luar kaca.
Malam itu Rendra bermimpi tentang kantornya, tetapi yang membuat mimpi tersebut berbeda dari mimpi-mimpi lain adalah perasaan bahwa ia sedang mengingat sesuatu, bukan sedang mengalaminya untuk pertama kali. Ia melihat meja kerjanya dipenuhi dokumen, mendengar suara telepon yang terus berdering, dan melihat beberapa direktur berdiri di balik pintu ruang rapat dengan wajah tegang.
Di antara mereka terdapat seorang lelaki yang sudah lama tidak pernah ia lihat, seorang pegawai muda yang pernah bekerja di perusahaan itu pada masa awal kariernya. Lelaki tersebut bernama Dimas Pratama, tetapi dalam mimpi itu ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri sambil memegang sebuah map berwarna biru, lalu memandang Rendra dengan tatapan yang membuat seluruh ruangan terasa semakin sempit.
Ketika bangun, Rendra masih mengingat tatapan tersebut. Ia tidak langsung memahami mengapa nama Dimas Pratama tiba-tiba muncul dalam pikirannya, sebab lelaki itu telah meninggalkan perusahaan hampir lima belas tahun sebelumnya dan sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu. Rendra hanya mengingat bahwa Dimas pernah menemukan sesuatu dalam laporan keuangan perusahaan yang menurutnya dapat mengganggu proses akuisisi yang sedang berlangsung.
Saat itu Rendra masih seorang direktur muda, terlalu dekat dengan keputusan yang sedang dibuat dan terlalu percaya bahwa menyelamatkan perusahaan berarti menyelamatkan semua orang yang bekerja di dalamnya. Ia mengingat sebuah percakapan di ruang kerjanya, ingat Dimas membawa dokumen, ingat dirinya meminta lelaki muda itu menunggu sampai proses akuisisi selesai, tetapi setelah itu ingatannya menjadi samar seperti halaman buku yang terlalu lama terkena air.
Seminggu kemudian Rendra kembali bermain padel. Ia datang pada jam yang sama, bertemu Dimas di tempat yang sama, dan tanpa alasan yang dapat dijelaskan merasa bahwa sesuatu dalam dirinya sedang menunggu sebuah kejadian. Ketika permainan memasuki set kedua, ia melakukan pukulan yang sama seperti minggu sebelumnya. Bola membentur kaca belakang, memantul ke luar lapangan, dan ketika Rendra berjalan menuju bangku penonton, ia menemukan bola hitam dengan angka 47 di tempat yang sama.
Kali ini ia tidak mengambilnya. Ia hanya berdiri memandangi bola itu, sementara hujan mulai jatuh di luar lapangan. “Kenapa berhenti?” tanya Dimas. Rendra menoleh. Ada sesuatu pada wajah Dimas yang tiba-tiba membuatnya merasa sedang melihat seseorang yang telah lama dikenalnya, bukan lelaki yang baru setahun menjadi pasangan bermainnya. “Tidak apa-apa,” katanya. Ia kembali bermain.
Malamnya ia bermimpi lagi, tetapi kali ini mimpi itu berbeda. Ia tidak berada di kantor. Ia berdiri di sebuah rumah sederhana bersama Dimas Pratama, lelaki muda yang pernah bekerja dengannya. Di atas meja terdapat map biru yang sama. Dimas membukanya dan menunjukkan laporan keuangan yang telah diubah. Angka-angka itu memperlihatkan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah ingin dilihat Rendra, yakni perusahaan memang sedang mengalami masalah, tetapi ia memilih menyembunyikannya sebab akuisisi besar yang akan menjadikannya direktur utama bergantung pada keberhasilan transaksi tersebut.
Dalam mimpi itu Rendra melihat dirinya sendiri lima belas tahun lalu. Ia mendengar suaranya berkata kepada Dimas bahwa tidak semua kebenaran harus disampaikan pada waktu yang sama. Ia melihat Dimas menatapnya dengan kecewa, kemudian memasukkan dokumen itu ke dalam map dan pergi.
Ketika Rendra terbangun, ia tidak lagi mengingat mimpi tersebut sebagai mimpi. Ia mengingatnya sebagai keputusan. Dan sejak hari itu, Jumat tidak pernah benar-benar menjadi Jumat baginya.
***
Setiap minggu ia kembali ke lapangan yang sama. Kadang-kadang ia mengambil bola hitam itu, kadang-kadang ia membiarkannya tergeletak di bawah bangku. Kadang-kadang ia mencoba tidak bermain, tetapi selalu menemukan dirinya berada di lapangan ketika jam menunjukkan pukul lima. Ia mengubah keputusan-keputusan kecil dalam hidupnya dengan harapan menemukan jalan keluar dari sesuatu yang tidak dapat ia namai.
Ia membatalkan rapat yang pernah ia lakukan, menghubungi orang-orang yang dahulu ia abaikan, mencoba memperbaiki hubungan dengan istrinya, bahkan mempertimbangkan untuk menjual sebagian saham perusahaan agar tidak lagi terikat pada masa lalu. Namun setiap kali ia merasa telah menemukan jalan keluar, sebuah permainan baru menunggunya pada Jumat berikutnya.
Lambat-laun ia memahami bahwa waktu tidak sedang menghukumnya. Waktu hanya memaksanya memainkan kembali satu pertandingan yang selama ini ia kira telah selesai. Ia akhirnya mencari Dimas Pratama. Lelaki itu tinggal di sebuah rumah kecil di pinggir kota dan sekarang mengajar di sebuah sekolah menengah.
Ketika Rendra datang, hujan turun seperti hujan pada Jumat pertama ketika semuanya bermula. Mereka duduk di teras tanpa banyak bicara. Rendra membawa seluruh hidup yang selama ini ia sembunyikan di balik jabatan, laporan, dan keberhasilan perusahaan, lalu meletakkannya di antara mereka dalam bentuk cerita yang sederhana. Ia mengatakan bahwa ia tahu Dimas benar. Ia tahu laporan itu benar. Ia tahu keputusan untuk menyembunyikannya bukan sekadar strategi bisnis sebagaimana selama bertahun-tahun ia menyebutnya, melainkan keputusan seorang lelaki yang takut kehilangan masa depan yang sedang dibangunnya sendiri.
Dimas mendengarkan sampai selesai. “Apa yang Bapak inginkan?” tanyanya. Rendra memandang hujan. “Tidak ada.” Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak datang kepada seseorang untuk meminta sesuatu. Ia tidak meminta Dimas kembali ke perusahaan, tidak menawarkan uang, tidak meminta agar masa lalu dianggap selesai. Ia hanya ingin mengembalikan sesuatu yang telah ia ambil bertahun-tahun lalu, yaitu kesempatan Dimas untuk mengetahui bahwa dirinya pernah benar.
Malam itu Rendra tidur tanpa mimpi. Ketika bangun, ia merasa seperti seseorang yang baru keluar dari ruangan yang terlalu lama dikunci. Ia tidak langsung pergi ke kantor. Ia mengambil raket dan menuju klub padel. Tidak ada jadwal bermain. Tidak ada pasangan. Ia hanya ingin berdiri sebentar di lapangan.
Ketika jam menunjukkan pukul lima, seorang lelaki muda datang membawa tas olahraga. “Pak Rendra?” Rendra menoleh. Lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai Dimas, anak dari Dimas Pratama. Rendra memandang wajahnya cukup lama. Ada sesuatu yang familier pada bentuk mata dan senyumnya, sesuatu yang membuat ingatan lama bergerak perlahan di dalam dirinya. Lelaki muda itu kemudian mengeluarkan sebuah bola dari tasnya.
Bola hitam. Angka “47” masih tergores di permukaannya. “Ini punya ayah saya,” katanya. Rendra menerima bola tersebut. Untuk sesaat ia merasa dunia berhenti, tetapi kali ini ia tidak takut. Ia justru memahami bahwa mungkin hidup memang tidak pernah menyediakan garis lurus sebagaimana yang selalu ia bayangkan. Yang ada hanyalah gerakan, pantulan, keputusan, dan kemungkinan untuk mengembalikan sesuatu dengan cara yang berbeda.
Ia meletakkan bola di tengah lapangan. Kemudian permainan dimulai. Bola pertama dipukul oleh Dimas. Bola itu melesat ke arahnya, membentur kaca, berbalik, lalu datang kembali dengan kecepatan yang hampir sama seperti lima belas tahun sebelumnya, ketika Rendra pertama kali belajar bahwa setiap keputusan mempunyai pantulan yang tidak selalu dapat dilihat pada saat ia membuatnya.
Rendra mengangkat raket. Ia tahu bola itu akan kembali. Ia juga tahu bahwa setelah pukulan berikutnya, waktu mungkin akan mengulang semuanya. Tetapi kali ini ia tidak berusaha menghentikannya. Ia hanya mengembalikan bola. Dan ketika bola memantul dari dinding kaca, Rendra melihat dirinya sendiri berdiri di bawah bangku penonton, lima belas tahun lebih muda, sedang memungut sebuah bola hitam yang bertanda angka “47”.
Ia menyadari bahwa sore itu bukan akhir dari permainan. Itulah awalnya. Hujan turun semakin deras. Rendra tersenyum. Lalu, untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa beberapa kehidupan memang tidak selesai dengan meninggalkan masa lalu. Beberapa kehidupan baru benar-benar dimulai ketika seseorang bersedia memukul kembali apa yang selama ini terus memantul kepadanya.
Bandung, 2 Oktober 2026
BIODATA
Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: [email protected]













