SETIAP kali kalender bergeser ke angka 3 Oktober, sebuah aroma magis seolah menguar lebih pekat di udara Nusantara. Hari Kretek Nasional bukan sekadar perayaan atas komoditas yang berputar di pasar saham, melainkan sebuah ruang jeda untuk merenungkan kembali detak jantung kebudayaan kita. Kretek adalah sebuah ritus, sebentuk manifesto pengetahuan lokal (local genius), dan salah satu jangkar identitas kultural yang paling otentik yang pernah dilahirkan dari rahim bumi Indonesia. Namun hari ini, di balik kepulan asapnya yang beraroma cengkih, tersimpan kisah pilu tentang sebuah warisan yang sedang dikepung secara perlahan namun mematikan oleh syahwat keseragaman global.
Membicarakan kretek hari ini, sepatutnya berangkat dari sebuah kesadaran bahwa tidak boleh lagi terjebak dalam dikotomi sempit antara kesehatan dan cukai. Lebih dari itu, ini adalah perang narasi tentang kedaulatan sebuah bangsa yang ingatan kolektifnya sedang coba dihapus secara paksa.
Sejarah mencatat bahwa kretek lahir dari keintiman manusia Nusantara dengan alamnya. Ketika Haji Djamhari di Kudus pada akhir abad ke-19 meracik tembakau dengan rajangan cengkih untuk meredakan sesak di dadanya, ia tidak sedang meniru rokok putih Barat yang hambar dan mekanis. Ia sedang melahirkan sebuah mahakarya. Kretek adalah perpaduan mistis antara tanah, angin, doa para petani, dan keahlian jemari yang melintingnya. Tembakau adalah tubuhnya, dan cengkih—rempah purba yang dahulu memicu kolonialisme mengarungi samudera—adalah jiwanya. Ia adalah identitas yang mandiri, sebuah puisi agraris yang dihisap dan dihayati lintas generasi.
Namun, estetika yang sublim ini kini harus berhadapan dengan tembok dingin bernama standardisasi global. Korporasi transnasional dan lembaga-lembaga internasional sejak lama memaksakan logika monokrom: bahwa seluruh dunia harus mengonsumsi tembakau dengan cara yang sama, dalam bentuk rokok putih Barat yang homogen.
Pembatasan kadar maksimal nikotin 1 miligram (mg) dan tar 10 mg per batang dalam aturan turunan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan dinilai dapat memberangus industri kretek nasional. Seperti kita ketahui bahwa tembakau khas Indonesia seperti asal Temanggung secara alami memiliki kadar nikotin tinggi (30 mg hingga 80 mg per gram tembakau), sehingga sulit memenuhi batas maksimal yang ketat. Disamping itu, cengkeh sebagai komponen utama kretek merupakan penyumbang kadar tar yang signifikan secara alami.
Mengukur kretek dengan kacamata Barat adalah bentuk kebutaan kultural. Ini adalah upaya amputasi budaya, di mana keunikan lokal dipandang sebagai anomali yang harus disingkirkan demi melapangkan jalan bagi produk-produk nikotin alternatif atau industri farmasi multinasional berbasis paten.
Ironisnya, resistensi terhadap kretek tidak tumbuh secara organik dari kesadaran publik, melainkan digerakkan oleh mesin kapital raksasa. Jaringan filantropi global, seperti Bloomberg Philanthropies yang disokong oleh taipan media Michael Bloomberg, secara agresif mengalirkan dana hibah jutaan dolar ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Uang asing ini menyusup secara sistematis ke dalam bilik-bilik perumusan kebijakan, mendanai organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya, hingga mendikte arah gerak kampanye di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Di bawah panji-panji penyelamatan kesehatan masyarakat yang digaungkan media asing secara berisik, terjadi sebuah pembersihan pasar secara halus. Regulasi domestik dipaksa menjadi kian represif, mencekik ruang hidup para petani tembakau di lereng gunung yang merawat tanamannya dengan ritus spiritual, serta mengancam ratusan ribu buruh linting perempuan yang menyambung hidup dari ketukan ritmis mesin linting manual. Ketika ekosistem ini runtuh, kita tidak hanya kehilangan angka pendapatan negara, melainkan runtuhnya satu pilar kesenian agraris—mulai dari seni visual etiket kemasan kuno yang puitis, tradisi tutur di warung kopi, hingga arsitektur kota kretek yang bersejarah.
Kita tidak bisa lagi terus-menerus bertahan dalam posisi defensif yang pasrah. Ingatan kita harus disegarkan kembali oleh kelantangan suara W.S. Rendra. Pada 28 April 2009, sang penyair besar ini berdiri dengan anggun sebagai saksi ahli di ruang Mahkamah Konstitusi. Dengan baris kalimatnya yang tajam namun berwibawa, Rendra membela hak hidup kretek sebagai bentuk adaptasi kebudayaan yang sah. Rendra mengingatkan para hakim bahwa meski tembakau mulanya dipaksakan oleh kolonialisme Belanda untuk merkantilisme, kejeniusan bangsa Indonesia mampu menjinakkannya, memadukannya dengan cengkih domestik, dan mengubahnya menjadi penopang kemandirian ekonomi rakyat yang berdikari. Pembelaan Rendra adalah pembelaan kebudayaan, sebuah proklamasi bahwa kretek adalah saksi sejarah daya tahan bangsa. Melanjutkan api perlawanan kultural yang pernah ditiupkan Rendra, Indonesia harus melancarkan counter-culture yang elegan melalui diplomasi budaya.
Sudah saatnya pemerintah secara progresif mendaftarkan tradisi linting tangan tradisional kretek sebagai Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO. Sebagaimana kita menyelamatkan batik dari klaim sepihak dunia, kretek membutuhkan perisai hukum internasional yang kuat agar tidak mudah dihancurkan oleh regulasi dagang global yang diskriminatif. Dunia harus dipaksa melihat kretek bukan dari infografis hitam-putih media asing yang penuh kepentingan, melainkan dari kacamata antropologi dan sejarah rempah yang agung melalui internasionalisasi ruang edukasi seperti yang dihadirkan oleh Museum Kretek di Kudus. Di sisi lain, para pengambil kebijakan di negeri ini harus memiliki keberanian moral untuk memutus rantai ketergantungan dari pendanaan asing dan merumuskan regulasi yang mandiri, yang berpihak pada keadilan rakyatnya sendiri.
Hari Kretek Nasional adalah alarm tahunan yang mengingatkan bahwa kedaulatan budaya bukanlah hadiah, melainkan sesuatu yang harus direbut kembali setiap hari. Membela kretek bukan berarti menutup mata pada isu kesehatan, melainkan menolak tunduk pada penjajahan gaya baru yang ingin mendikte bagaimana cara kita menghargai warisan leluhur. Jangan sampai wangi cengkih yang pernah mengubah sejarah dunia ini perlahan memudar dan mati di tanahnya sendiri, hanya karena kita terbuai oleh narasi asing yang rakus dan seragam.
*penulis seni dan budaya, menetap di Bali.













