BANDUNG, Balipolitika.com- Harapan Tim Nasional Malaysia untuk menembus babak final FIFA ASEAN Cup 2026 harus terkubur secara dramatis meski sukses menggulung Singapura dengan skor meyakinkan 6-0 pada partai pamungkas Grup A di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Kamis (1/10/2026). Kemenangan telak Harimau Malaya tersebut seketika terasa hampa lantaran mereka kalah dalam perhitungan produktivitas gol dari Timnas Indonesia yang menggelar pesta gol 9-2 kontra Bangladesh di Jakarta.
Kegembiraan yang sempat meledak di ruang ganti tim asuhan Pau Marti Vicente sontak berubah menjadi duka mendalam saat kabar agregat akhir dari Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) masuk ke meja ofisial.
Kendati sama-sama mengoleksi tujuh poin dari tiga laga yang telah dilakoni, Malaysia terpaksa gigit jari dan harus puas mengakhiri babak penyisihan di peringkat kedua. Tiket emas menuju partai puncak pada Senin (5/10/2026) pun resmi menjadi milik armada Garuda yang unggul agresivitas memasukkan bola.
Gelandang serang naturalisasi Malaysia, Paulo Josue, memaparkan bahwa seluruh punggawa telah mengerahkan seluruh tenaga dan strategi demi memburu margin kemenangan setinggi mungkin di lapangan.
“Saya pikir tugas kami telah terselesaikan, apa yang telah kami rencanakan untuk pertandingan ini, bahkan untuk keseluruhan turnamen. Terutama awal yang baik saat melawan Bangladesh dan pertandingan yang sengit melawan Indonesia,” ujar Josue saat mencurahkan isi hatinya usai duel panas tersebut.
Pemain senior berusia 37 tahun itu menuturkan, armada Harimau Malaya telah memenuhi target teknis dengan mengeksekusi peluang secara tajam. Namun, laju gol tim rival yang membengkak drastis di luar perkiraan membuyarkan skenario kelolosan mereka.
“Hari ini adalah pertandingan di mana kami harus mencetak gol dan memenangkan laga, dan kami berhasil mencetak semua gol tersebut, tetapi sayangnya itu belum cukup,” imbuhnya dengan nada getir.
Josue bahkan tidak bungkam perihal kepedihannya merespons gelontoran sembilan gol yang dilesakkan armada Indonesia ke gawang Bangladesh. Ia membeberkan bahwa angka kebobolan masif tersebut merupakan kenyataan pahit yang sukar dinalar dalam kompetisi regional berkasta tinggi, sekaligus menepis adanya prasangka atau iktikad buruk terhadap jalannya pertandingan sebelah.
“Cukup besar, saya tidak tahu berapa skor pastinya, sembilan gol, Anda tahu, sangat berat untuk kebobolan, saya pikir belum pernah kebobolan sembilan gol dalam turnamen seperti ini, tetapi inilah kenyataannya,” tutur Josue secara terbuka.
Meski terpukul oleh kenyataan pahit gagal menyentuh partai puncak, kapten berdarah Brasil ini mendesak rekan-rekan setimnya untuk tidak berlarut-larut meratapi kegagalan tersebut. Pihaknya meminta seluruh anggota skuad segera menegakkan kepala demi menatap kalender pertandingan internasional berikutnya dengan determinasi yang lebih matang.
“Jadi, kami harus menegakkan kepala dan kemudian menghadapi pertandingan berikutnya dan mencoba menyelesaikannya dengan sebaik mungkin yang kami bisa,” tegasnya memungkasi. (BP/CHA).













