BUKAN UTANG
seperti masa kanak
kini giliranku menyuapimu
yang berbaring lemah di dipan
sesendok demi sesendok
bubur dan air yang bercampur
air mataku yang hancur
“ibu, aku ingin terus memelukmu selama
usiaku, lalu membasuh kakimu
saban pagi dan sore
meski aku tahu, tak akan pernah bisa
melunasi utangku padamu,” bisikku
“Nak, apa yang kuberikan padamu
bukanlah utang
melainkan sayang,
sebab ibu bukanlah pedagang,”
senyumnya
senyum yang terus kurias di wajah
hingga kini
untuk anak-anakku
2021
Membaca kembali antologi “Ibu Menanak Nasi hingga Matang Usia Kami” membawa saya pada sebuah perhentian yang sunyi namun bergetar.
Di halaman 19, saya menemukan “Bukan Utang”, sebuah puisi karya Emi Suy yang seolah menampar logika transaksional kita sebagai manusia modern. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang sering kali menilai segala sesuatu dengan angka dan timbal balik, puisi ini hadir sebagai oase- sebuah pengingat tentang kemurnian relasi antara ibu dan anak yang melampaui hitung-hitungan piutang.
Puisi ini dibuka dengan kontras visual yang menyentuh: “seperti masa kanak / kini giliranku menyuapimu”. Di sini, Emi Suy berhasil menangkap momen rapuh saat siklus hidup berputar; sang anak kini menjadi “pelindung” bagi ibunya yang mulai melemah. Penggunaan diksi “dipan” membangun suasana yang membumi dan intim, menciptakan ruang sunyi di mana hanya ada kasih sayang yang berbicara di antara sesuap bubur.
Bagian paling bertenaga muncul dalam dialog sang ibu: “sebab ibu bukanlah pedagang”. Kalimat ini adalah pernyataan filosofis yang menggugah. Dalam diskursus sastra, kita sering terjebak pada tema “balas budi” yang seolah menempatkan kasih sayang sebagai beban sejarah. Namun, Emi dengan tegas mematahkan konsep itu. Ibu menolak diposisikan sebagai pedagang yang sedang menagih modal. Kasih sayang diposisikan sebagai “hibah” yang suci, bukan instrumen utang-piutang.
Bait terakhir memberikan resolusi yang realistis sekaligus penuh harapan. Larik “senyum yang terus kurias di wajah / hingga kini / untuk anak-anakku” menunjukkan bahwa cinta seorang ibu tidak berhenti menjadi artefak kenangan. Ia bertransformasi menjadi energi yang diwariskan. Senyum itu “dirias” Kembali – sebuah metafora tentang upaya sadar untuk menjaga kehangatan keluarga agar tetap menyala bagi generasi berikutnya.
Kejelian penyair terlihat pada detail kecil: “bubur dan air yang bercampur / air mataku yang hancur”. Diksi “hancur” untuk menggambarkan air mata memberikan efek emosional yang lebih dalam daripada sekadar “menetes”. Ini mencerminkan rasa haru, penyesalan, sekaligus rasa syukur yang meluap hingga tak lagi berbentuk.
Secara keseluruhan, puisi ini adalah alarm bagi dunia yang kian materialistik. Emi Suy berhasil menyampaikan pesan moral yang besar tanpa terjatuh menjadi didaktis atau menggurui. Ia hanya berbisik lembut, namun getarannya mampu meruntuhkan dinding keangkuhan kita sebagai seorang anak.
Menteng, Maret 2026













