BULELENG, Balipolitika.com– Seiring menyempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia dibandingkan jumlah angkatan kerja, berbagai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) digerakkan anak muda tumbuh di Buleleng.
Salah satunya adalah Dapur Tigina yang dirintis oleh Ni Nyoman Ayu Queena Saridevi yang fokus pada produk brownies dan cookies.
Selain aktif mengembangkan usaha, Ayu Queena saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
Namanya sempat melambung dan dikenal luas karena berstatus Ruuner Up II Jegeg Buleleng Tahun 2025.
Kesibukan tersebut tidak menghalangi Ayu Queena untuk terus mengembangkan usaha yang telah dibangun sejak berstatus siswi SMA pada tahun 2021.
Ayu Queena menceritakan bahwa Dapur Tigina muncul berawal dari hobi memasak dan meracik beragam kue.
Berkat dukungan orang tua, ia memberanikan diri menjual kue buatannya pada momen-momen tertentu, seperti hari raya Galungan dan Kuningan.
“Awalnya saya memang suka memasak, terutama baking untuk membuat jajan atau cemilan. Orang tua kemudian menyarankan untuk mencoba menjualnya. Ternyata ada yang membeli dan saya merasa senang menjalaninya,” ujar Ayu Queena.
Nama Dapur Tigina sendiri memiliki makna yang cukup unik karena merupakan akronim atau gabungan nama tiga bersaudara, yaitu Tia, Agi, dan Queena.
Nama tersebut tidak hanya menjadi identitas usaha, nama tersebut juga mencerminkan harapan agar Dapur Tigina dapat berkembang menjadi bisnis keluarga di masa depan.
Saat ini, brownies dan cookies menjadi produk unggulan yang paling banyak diminati pelanggan.
Ayu Queena memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat.
Selain itu, promosi dari mulut ke mulut juga membantu pengembangan usahanya.
Menjalankan usaha sambil menempuh pendidikan alias kuliah tidaklah mudah.
Ayu Queena mengaku sering menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam membagi waktu antara kuliah, kegiatan lainnya, dan pengelolaan usaha.
“Tantangan terbesar ada pada manajemen waktu. Kadang saya belum bisa maksimal dalam promosi atau aktif mengelola media sosial karena masih harus membagi fokus dengan kuliah dan kegiatan lainnya,” jelasnya.
Tantangan lain muncul ketika jumlah pesanan meningkat drastis, terutama menjelang hari raya.
Karena proses produksi masih dilakukan bersama keluarga dan belum memiliki pegawai tetap, pesanan yang membludak terkadang membuat proses produksi menjadi lebih padat.
Di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat, Ayu Queena memilih untuk mempertahankan kualitas sebagai strategi utama.
Ia berupaya menjaga cita rasa, tampilan produk, hingga kemasan agar pelanggan merasa puas dan kembali melakukan pemesanan.
Ke depan, Ayu Queena berharap Dapur Tigina berkembang lebih besar dan dikenal oleh lebih banyak masyarakat sehingga menjangkau konsumen lebih luas.
Ia juga berharap usahanya dapat terus bertahan serta menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani memulai usaha sejak dini.
Kisah Dapur Tigina menunjukkan bahwa usia muda bukanlah hambatan untuk membangun usaha.
Dengan memanfaatkan hobi, dukungan keluarga, serta kemauan untuk terus belajar, generasi muda Buleleng memiliki peluang besar untuk menciptakan UMKM yang kreatif, mandiri, dan berdaya saing. (bp/Komang Mareta Erlinda Cahyani/4B/PBSI/Undiksha)













