Balada Orang-Orang Gaza
/1/
di sepanjang peperangan
mereka mengimani bahwa
doa-doa tidak akan lapuk
seperti gaharu tua
meski terus dilafalkan
berulang-ulang.
sebab doa-doa yang terucap
serupa bunga-bunga
yang tumbuh subur di atas
makam, dan para malaikat
mencium harum dari
lisan-lisan mereka
yang istikamah.
/2/
iman mereka yang seputih susu
syahid dengan keadaan
menggenggam sepotong
roti kering di tangan
saat entah dari mana
peluru panas diam-diam
menghunjam.
/3/
kau mungkin bertanya,
tercipta dari apakah
keimanan?
dari nur kalbu mereka
yang menuntut kemerdekaan.
Yogyakarta, 2026
Sebelum Osaka Hendak Memisahkan Kita
Untuk Dhini
fajar berjatuhan di sela-sela
air mata sebelum Osaka hendak
memisahkan kita,
sebelum jarak-jarak yang tak
diperlukan akhirnya ada.
kenanglah sewaktu dulu kau dan aku
bersua di penghujung Agustus.
kenanglah.
dan kini tidak ada soneta dan mawar
pada kisah kita yang klise
pada kisah kita yang pantang regas.
hanya ada malam-malam
yang mengendap kedinginan di galeri
dan kolom percakapan yang panjang.
selebihnya, hanya ada cinta
yang kita sebut dan kita yakini sebagai
rumah yang terkadang
membekaskan luka.
Yogyakarta, 2026
Kepada Halte
kepada halte
yang saban hari
menuntunku pergi
dan pulang, terimalah
peluhku yang asin
dan matahari yang pudar
di langit kala senja
menjalar ke dalam langkah
kakiku yang buru-buru
dan menyimpan ragu
pada hari-hari besok.
kepada halte
yang lebih mengenalku
dari siapa pun, usaplah
air mataku yang pasrah
dihardik deadline.
Yogyakarta, 2026
BIODATA
Salman Al Farisi lahir di Natuna, Kepulauan Riau. Seorang mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Tulisannya tersebar di berbagai media dan antologi bersama.













