BILA engkau menanti jawaban, bersabarlah sampai pukul 00.00 tiba. Rasakan detak kerinduan yang berdebar. Barangkali saat itu engkau hanya ditemani sunyi dan sepi. Kurang lebih, begitulah kiranya hati yang sedang mencari tempat. Selamanya untuk dicintai. Tapi mungkin juga engkau justru mengambil kesimpulan, bahwa kerinduan pada pukul 00.00 adalah pengalaman yang paling indah sepanjang sejarah hidupmu.
Engkau tak perlu bertanya, kerinduan macam mana yang dimaksud. Jika engkau sedang berada di Maumere, berjalan saja ke arah Nitta. Di situ ada jalan setapak, satu jalur dengan Lepolorun. Apabila jalannya sedikit membingungkan dan engkau merasa sudah jauh berjalan, sebentar lagi engkau akan segera tiba, menyusuri jalan setapak, disambut pohon kelapa, pohon jati, dan pohon gamal. Jika beruntung, engkau akan berjumpa denganku di beranda rumah Nitapleat. Sebuah rindu yang merimbun, dari segala rindu yang mungkin pernah engkau jumpai di tempat lain.
Sebenarnya aku adalah rindu itu. Mungkin engkau pernah mendengar cerita ini. Tentang seorang raja dalam kesunyian malam hendak berdoa. Lalu, seorang ratu datang mengetuk pintu kamarnya. Ia mengharapkan sang raja untuk dijadikan kekasihnya. Hati sang raja berdebar kencang, ternyata hati ratu pun berdebar lebih kencang. Sang raja mempertimbangkan tawaran itu. Bukan ingin menolak, tapi tentang bagaimana tawaran yang tiba di waktu malam. Sunyi, bahkan. Akankah tawaran semacam itu tak berakhir menyedihkan? Atau mungkin semacam mendatangkan berkah? Raja teringat dengan penderitaan yang melanda dunia, dan ingin mengambil bagian dalam menghilangkan penderitaan itu. Hidup tanpa ada ikatan, lalu sepenuhnya mau menyelamatkan dunia.
Sang ratu pun seolah pasrah di hadapan doa sang raja. Ia menyuruh raja itu untuk berpikir sejenak. Sang raja lalu diminta untuk menemui ungkapan dalam hatinya sendiri. Permintaan itu disematkan sebelum bertemu dengan kesepian dunia. Ratu, bahkan melarang raja untuk mencicipi buah apa pun. Kecuali roti tak beragi dan setetes anggur tua.
Setelah menyusuri lorong kecil, bertemulah ia dengan pemilik rindu. Tepat sebagaimana yang ia harapkan. Ia memohon dengan sangat, lalu mengungkapkan keinginannya.
“Akankah rindu ini terus merimbun, ratu? Bukankah takut memanggul beban,” katanya.
Namun, ia tak berhenti memohon. Pemilik rindu pun mengiyakan. Dengan syarat, ia tidak bisa hidup dalam kebisingan. Syarat lain, ia disuruh mencintai sunyi.
Meski terdengar sulit, ia menyetujuinya. Ia berpikir, ia akan berusaha menaklukan kebisingan, sekalipun hatinya bergejolak. Pemilik rindu itu pun menginginkan, ia harus menanggalkan beban masa lalunya. Sebab, hidupnya akan bertemu keheningan di bawah pohon rindu yang merimbun.
Sejak itulah, ia sibuk menaklukan gejolak dalam pikirannya. Bertengkar melawan pergulatan hati yang mengguncang. Di sana banyak godaan. Ia menjumpai segala macam kenikmatan. Ia harus tegar, supaya ia tak gentar menghajar mereka. Mereka bersekongkol di sana. Satu per satu kenikmatan itu lenyap. Atau mungkin, berpaling untuk mengoda hati yang lemah. Sebab, mereka tahu masih banyak hati yang lemah di dalam rumah itu. Apalagi di hadapan hawa nafsu. Jika engkau menatap rindu berguguran dari tangkainya, itulah tanda, mereka satu per satu keluar menjumpai kenikmatan. Ia tahu betul, banyak orang yang menunggu di pindu depan.
Begitulah cerita yang kumaksud. Sekali lagi, barangkali engkau pernah mendengar sebelumnya. Cerita yang baru saja kuceritakan padamu, tak lain adalah cerita tentang diriku. Akulah pemilik sekaligus pencipta rindu di rumah itu. Semoga engkau menjadi penunggunya. Akulah sunyi yang hidup dan tawa yang bernyawa, bagi mereka di rumah itu. Saat legak tawa bergema, berarti aku sedang menghibur mereka. Tentang perjalananku setelah ini, engkau tak perlu tahu. Aku hanya berpesan, apabila engkau sampai pada pukul 00.00, jangan tinggalkan keraguan. Supaya engkau tidak terkoyak kenangan. Keraguan biasa saja menyeret manusia ke pekatnya malam. Ingat itu!
Ceritaku itu sungguh benar. Mereka di sini terkadang menganggapnya joak.1 Ia terus-menerus menyusuri waktu. Aku menitipkan pesan ini hanya kepada engkau, supaya tetap hidup, entah dengan caramu sendiri. Agar engkau dan mereka bisa belajar dari ceritaku itu. Di tengah kesunyian paling dalam saat itu, tak ada orang yang tahu tentang ceritaku. Mereka hanya membaca pancaran senyum dari bibirku pada kesokan paginya. Engkau pasti tahu, nama orang yang disematkan dalam ceritaku. Dia adalah Lifia. Ratu penguasa Negeri Simpang Lima.
Ia adalah orang pertama yang kujumpai di lorong jagat maya. Ia berhasil membuat jantungku berdetak kencang. Seolah sedang merasakan kehangatan ketika aku berada di sampingnya. Meski aku sedang berkhayal. Lagi-lagi, barangkali engkau sering mendengar cerita ini. Atau mungkin juga belum sama sekali. Maka, alangkah baiknya kalau aku menceritakan kembali kepada engkau. Cerita ini, sebenarnya tentang Lifia dan aku. Tak apalah aku menceritakannya di sini sekali lagi. Tapi bukan untuk Lifia, melainkan untuk diketahui oleh mereka yang pernah mengejar Lifia. Supaya mereka sadar.
Sesuatu yang konyol terjadi ketika dalam kesepian aku lelah, lalu tertidur. Tak berpamitan dengannya. Ia selalu mengirim pesan via WhatApp pagi-pagi buta ketika aku mengabaikannya. Pesan itu menyesakkan dada. Ia menaruh kecurigaan penuh pada tingkahku. Mencurigakan aku dengan orang lain di luar sana. Bahkan jika aku tidak jujur, ia menyampaikan kepadaku bila dirinya akan membanting ponsel di tangannya. Sejujurnya aku mengatakan kepadanya, tapi tak pernah didengar. Engkau mungkin berpikir, bagaimana mungkin aku mencari sesuatu yang tak pasti? Ya, kecurigan itu mungkin tugas utamanya. Aku tak menyuruh dia untuk mengerti tentangku. Tapi, kecurigaannya membuat kesunyian pikiranku kacau. Aku betul-betul pusing.
“Tuan, dia ingin berbicara denganmu,” kata Rikuh, ketika Lifia tiba di pintu gerbang.
“Berbicara? Apa yang ia ingin bicarakan?”
“Aku juga tak tahu. Tapi ingin bicara dengan Tuan. Sangat penting.”
Rikuh. Aku sangat lama mengenalnya. Ia yang kurindukan selama ini. Namnya Ratu Livia. Ia mau memang mau menemuiku. Sepertinya begitu penting. Apakah ia mempunyai rindu padaku? Jika memang betul, sebesar apa rindunya itu? Atau ia sekadar menemuiku, lalu pergi? Aku sebelumnya pandai mengirimkan rindu melalui pesan sederhana padanya. Aku selalu menciptakan keromantisan meski tampangku tak diakui kebanyakan orang, kecuali dirinya.
“Dia pasti mempunyai rindu yang sama seperti sebelumnya, Tuan.”
Pada awalnya aku tidak begitu menghiraukan kecurigaannya. Seperti yang sudah kuceritakan padamu. Dia adalah orang pertama yang berhasil membuatku merasakan rindu yang berdebar. Aku benar-benar terpesona. Ia terlalu cantik. Bahkan tak sepadan denganku. Aku sangat sadar tentang kecantikannya dengan ukuranku. Itulah yang membuatku bersykur. Apalagi ketika ia peduli tentang cara hidupku. Aku dengan segala keberanian mengajukan tawaran kepadanya; apakah rindumu sanggup mencintaiku?
Tepat masih pukul 00.00, ia menyanggupinya, dengan syarat aku selelu menghiburnya. Ya, engkau mungkin tidak percaya. Hanya saja, aku memintanya untuk menyimpan semua kesanggupan itu dalam waktu yang tak menentu.
Aku sungguh-sungguh bahagia kala itu. Tidak kusangka aku bisa jatuh cinta dengan Lifia. Ia telah berjanji kepadaku, dan sebenarnya atas kesepakatanku juga, setiap hendak bepergian selalu memberi kabar. Sesungguhnya, aku menginginkan lebih cepat menjumpainya. Dengan segala kesibukannya ia menaklukan kebisingan untuk mengabariku.
Itulah titik mulanya. Keberadanku tak asing lagi. Lorong setapak menuju kediamanku benar-benar diingatnya. Dua hari pertama, ia selalu melegak tawa. Sedang aku, merayakan hati yang merdeka. Lama-lama ia seperti sedang lupa. Rinduku selalu digugat. Ia menanyakan kesungguhan dari rindu itu yang semulanya merimbun di hatiku. Terkadang menyalahkanku.
“Apakah ia hanya sekadar mencobaiku?” kataku dengan penuh prasangka.
Padahal Lifia telah berjanji, akan selalu mencintaiku. Sebab, katanya akulah orang pertama yang berhasil membuatnya tertawa. Aku penasaran, apa yang membuatnya begitu sensitif. Aku hanya bisa menduga-duga dua hal. Pertama, ia ingin mencobaiku, sehingga ia menciptakan sesuatu yang konyol, lalu menyalahkanku. Kedua, ia terlena kesibukan, membuatnya lupa enggan menepati janji.
Aku tetap menerima permohonan maafnya bila ia kembali sadar. Tak sedikit pun aku mencoba memarahinya. Aku tetap menunggu janjinya dan taat pada sumpah pada pukul 00.00.
Itulah mengapa aku tidak menyuruh Lifia untuk menahan diri mewartakan cerita ini. Sebab, cerita ini berbahaya. Aku hanya membagikan cerita ini kepada pemilik cinta yang sesungguhnya. Rumahnya tak jauh dari kediamanku. Namun, aku terus merawat cerita ini agar tetap hidup lebih lama.
Jika engkau datang ke rumahku, baru engkau akan merasakan ternyata rinduku tetap berlabuh.[*]
Keterangan:
Joak: bohong/tipu (pembohong/penipu)
BIODATA
Krisogonus Kusman, biasa disapa Gonsi atau Gogon adalah seorang mahasiswa Filsafat semester VII pada Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Selain sebagai mahasiswa, Gonsi atau Gogon merupakan seorang calon imam misionaris religius dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Selama di Ledalero, Gonsi atau Gogon suka membaca dan menulis sastra, khususnya cerpen.













