elegi tembakau pra-digital
tahun 2007, saat layar sentuh belum ada,
anak ladang belajar mencongkel
keras tanah dengan jari
sebelum ia tempuh dunia luar.
di ladang baru ditanami tembakau,
ibunya berkata, jadi petani tak perlu bakat,
bisa ahli karena terlampau biasa.
begitu cara alam bekerja—menempamu,
mengenal cuaca, musim, dan hama.
ia tanami lagi tembakau mati,dengan bibit segar. bapaknya berkata:
tak semua tanaman, tumbuh baik, ada yang ringkih,
penyakitan, bahkan mati dalam semalam.
asap kretek mengepul ke udara.
ia mengangguk dan terus menanam:
menanam pesan bapak dalam dadanya.
ibunya tersenyum sebelum berbisik padanya:jika nanti kemilau lampu-lampu kota
membuat ruang dadamu gelap,
ingatlah aroma tanah dan daun tembakau ini.
ia diam, mencatat bisik ibu di dinding dadanya,
sebelum menyemai batang muda tembakau terakhir.
petang datang, mereka pulang. usai maghriban
ia termenung, hanyut dalam suara ibu mengaji
dan bapak mendaraskan wirid di langgar tua.
kelelawar hinggap di halaman, mengikis mangga,
cericitnya menasbihkan impian dan kekunang beri nyala
: peta jalan yang akan ia tempuh ke depan.
Jakarta, 2025-2026
etalase kaca kelas kuli
dari cempaka putih membelah busway ke kebon keruk,
kubiarkan tubuh mengeras di lambung transjakarta.
tak ada guna balapan dengan nasib di luar kaca,
tempat para pekerja berebut menghirup oksigen kotor,
menelan debu dan jelaga jakarta.
tiba di kantor yang upahnya merangkak di bawah umr,
kami merayakan pagi di warteg seberang jalan
dengan nasi, telur ceplok, dan sayur toge.
uap dari mangkuk mengembun di etalase,
ritus harian yang tak pernah minta maaf.
berbagi meja dan lelah dengan mereka
mengeringkan tangan di celana sebelum makan,
para kuli, driver ojol, dan akamsi.
di meja, isi kepala dan dada kami
ditumbuk palu yang sama:
kemewahan hanya perut yang tak berontak.
kami hanya butuh tenaga kembali utuh
untuk melewati hari, lalu menyeringai
sebentar ragu, lalu kembali pada rahang kenyataan
yang tahu cara menunggu.
di sana ada bahagia paling purba;
jadi tulang punggung yang menolak patah
demi nafas lega anak-istri di rumah kontrakan.
kami buang jauh-jauh kalkulator.
untuk apa membagi sisa upah,
yang raib digerogoti tagihan paylater?
bibir kami sudah otomatis berucap alhamdulillah,
bukan syukur—tapi jarum yang menjahit lubang
dan menambal dompet usang yang selalu bocor.
kami tahu diri, jadi kuli di jakarta
harus punya lambung baja
untuk menelan mi instan saat kantong tipis.
dan di sini, seseorang menyendok kuah terakhir,
memandang sebentar ke dalam piring kosong
seperti sedang bercermin
ia taruh sendok dan garpu,
kemudian berdiri.
Jakarta, 2026
Ikhtiar Menjadi Manusia
sesungguh-sungguhnya akuadalah pejalan kaki di trotoar waktu
yang terkikis tenda pedagang kaki lima.
aku bicara sebagai sunyi
saat nasib disalip sepeda starling
dan klakson di perempatan lebih cerewet
dari mulut manusia.
hidup tergelincir lalu meluncur
secepat nyala layar gawai di telapak.
dari detik ke bulan, dari lahir ke kini,
aku bisa menua dalam pusaran algoritma
tanpa bisa putar balik di jalan satu arah.
sepuluh tahun mukim di ibu kota
terlalu mekanis dan hambar,
bila matahari gagal memasak
peluh di tengkuk dan dada menjadi garam.
sebagai pejalan kaki di bawah terik jakarta,
kukristalkan keringat asin ini
sebagai penyedap di antara segala bumbu
penyempurna rasa di lidah sendiri.
Jakarta, 2024-2026
Tanpa Gonggong
anjing kecil meringkuk
merintih sendirisebelum betinanya
tiba dengan elus dan bisik
paling lirih.
ia bangkit penuh gairah
tanpa gonggong ia melompat
pergi ke jamuan malam
orang-orang bermata cemas
melihat hari esok.
ia endus aromanya
sesegar nama-nama basah
di batu nisan,
sebelum hidangan utama
tersaji di atas meja.
aroma darah segar menguar
dari gelas wine
amisnya menusuk
penciumannya.
walau lebih rakus dari manusia,
sebelum puas ia melompat
keluar tanpa gonggong
menuju betinanya
berbagi aroma segar
di bawah langit hitam
Jakarta sebelum tenggelam.
Jakarta, 2025-2026
hari pahlawan
alarm gawai berdering,
seisi ruangan mengheningkan cipta:
…telah gugur pahlawanku…
semua tertunduk
tanpa air mata
kecuali tenggorokan tersedak
oleh lirik lagu berisi pertanyaan:
siapakah?
Jakarta, 2025-2026
ingin kembali
aku kembali
ingin menjadi anak-anak
merayakan kegembiraan
bersalaman tanpa meniru
atau mencoba mengucapkan
permintaan maaf.
aku kembali
ingin menjadi anak-anak
pakai baju baru
dapat uang baru
yang belum tahu cara mendapatkannya
atau pusing karenanya.
aku ingin
kembali bersih
menutup telinga
dan menyembunyikan mata
ke balik lengan dalam pesta petasan
sebelum tahu jika ledakan terkeras
dalam hidup orang dewasa tanpa bunyi
tetapi mampu meruntuhkan
gaji karyawan di awal bulan.
Sirampog, 21 Maret 2026
BIODATA
Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep kini mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.id. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, republika.id, dll, serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi Puisi Tunggalnya: Omerta (Halaman Indonesia, 2018) dan “Peta Biru Dunia Ketiga” (Penerbit JBS, 2025). Kitab Soneta keduanya, segera terbit di akhir tahun 2026. Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube Channel @selendangsulaimanofficial













