DENPASAR, Balipolitika.com- Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat nyaris kehilangan bintang terbesarnya, Romario de Souza Faria. Petaka bermula di pinggiran Rio de Janeiro. Ayah kandung sang predator gol Barcelona mendadak disekap komplotan bersenjata.
Peristiwa kelam itu meletup pada 2 Mei 1994 petang waktu setempat. Lokasi persisnya di Vila da Penha. Sekelompok penjahat menyergap mobil Edevair de Souza Faria.
Saat itu korban baru meninggalkan kedai bar keluarga. Tanpa ampun. Mobil korban langsung dihadang.
Penculik sadar korbannya berharga jutaan dolar. Mereka menyembunyikan Edevair di sebuah safehouse kumuh. Kawasan favela Rio jadi lokasi persembunyian.
Tuntutan tebusan gila-gilaan langsung diajukan para pelaku. Uang tunai 7 juta dolar Amerika Serikat diminta. Nyawa taruhannya.
Mendengar kabar buruk, Romario angkat koper dari Spanyol. Ia langsung terbang menuju tanah airnya. Tekanan mental mendera hebat.
Tetapi, sang bintang menolak pasrah pada kemauan kriminal. Romario langsung menggelar konferensi pers darurat nasional. “Saya tidak akan bermain di Piala Dunia tanpa ayah,” tegas Romario.
Guncangan dahsyat seketika melanda seisi negeri Samba. Publik gempar. Sepak bola bagi Brasil adalah segalanya. Kehilangan Romario berarti kuburan impian trofi juara dunia. Puasa gelar 24 tahun dipertaruhkan. Negeri itu tersentak keras.
Singkatnya, ancaman sang penyerang memicu efek domino berantai. Aparat penegak hukum Rio langsung melancarkan operasi perburuan masif. Polisi menggeledah setiap sudut kota.
Sebaliknya, reaksi tak terduga justru meletup dari dunia hitam. Para bos kartel narkotika favela ikut murka. Bisnis haram mereka terancam hancur. Romario idola kaum marjinal. Keberadaannya sakral. Aparat terus mengobrak-abrik permukiman kumuh.
Akibatnya, petinggi geng kriminal mengeluarkan titah perburuan tandingan. “Tangkap cecunguk yang menyandera harapan bangsa,” perintah pentolan kartel jalanan. Pemburu kini ikut diburu.
Para penculik amatir itu panik bukan kepalang. Tekanan mengalir dari aparat sekaligus gangster lokal. Lubang persembunyian mereka makin terjepit. Dengan demikian, drama penyekapan berakhir kilat dalam tempo enam hari. Aparat membongkar rumah rahasia di Rio utara. Waktunya bertepatan Hari Ibu, 8 Mei 1994.
Sebuah informasi anonim menuntun langkah tim sergap polisi. Sasaran terkunci rapat. Petugas bergerak tanpa cela. Edevair ditemukan selamat tanpa luka fisik berarti. Keluarga korban tak menyetor sepeser pun uang tebusan. Pelaku penyekapan langsung digelandang petugas.
Lagipula, pembebasan sang ayah mengembalikan fokus Romario ke lapangan. Beban psikologis runtuh seketika. Motivasinya meledak berkali-kali lipat.
Selanjutnya, Romario tampil mengamuk di rumput hijau Negeri Paman Sam. Lima gol berhasil ia lesakkan. Brasil menumbangkan Italia lewat adu penalti di partai puncak.
Pada akhirnya, Selecao berhasil mengunci gelar juara dunia keempat kalinya. Romario menyabet gelar pemain terbaik turnamen. Ia merebut trofi FIFA World Player of the Year.
“Sepak bola mengalahkan rasa takut,” pungkas pengamat lapangan hijau setempat. Trofi emas pun pulang ke Brasil. (BP/CHA).










