NEW YORK, Balipolitika.com- Laju saham raksasa teknologi Meta Platforms melesat tajam sebesar 11,3 persen pada penutupan perdagangan bursa Wall Street, Senin (21/9/2026). Euforia investor dipicu oleh moncernya adopsi massal agen kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) teranyar besutan perusahaan, Muse, yang sukses mencatatkan pertumbuhan unduhan kilat sejak resmi diperkenalkan ke publik. Reli positif tersebut bahkan berlanjut tipis 0,2 persen pada sesi perdagangan prapasar keesokan harinya.
Sentimen positif ini secara instan mengerek kapitalisasi pasar induk Facebook dan Instagram tersebut hingga membengkak drastis sekitar 192 miliar dollar AS atau setara Rp3.420 triliun.
Di sisi lain, berkah reli bursa ini langsung mengalir ke pundi-pundi pribadi sang pendiri sekaligus CEO Meta, Mark Zuckerberg. Kekayaan bersih bos teknologi itu dilaporkan bertambah lebih dari 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp231,6 triliun hanya dalam hitungan jam.
Kenaikan eksponensial ini bukan tanpa alasan fundamental. Wall Street mulai memandang kehadiran Muse bukan sekadar portofolio eksperimen kecerdasan buatan biasa, melainkan kanal baru monetisasi dan mesin pertumbuhan bisnis jangka panjang bagi perseroan.
Analis terkemuka Evercore ISI, Mark Mahaney, memaparkan bahwa keberhasilan debut aplikasi Muse menjadi konfirmasi nyata atas efektivitas belanja modal teknologi yang digelontorkan Meta selama ini.
“Banyak hal bisa dan akan berubah di masa depan, namun poin utamanya yang sederhana adalah bahwa Meta telah mencetak sukses besar lewat Muse,” tutur Mahaney saat membeberkan catatan analisisnya kepada para investor.
Antusiasme pasar kian tebal setelah Muse bertengger mulus di puncak daftar aplikasi terpopuler App Store Apple. Data pelacak pasar digital Sensor Tower mengonfirmasi bahwa Muse sukses meraup 2,8 juta unduhan hanya dalam tempo 12 hari penayangan perdana di kawasan Amerika Serikat dan Kanada.
Pencapaian tersebut mematahkan rekor adopsi awal yang pernah dicetak ChatGPT besutan OpenAI. Pada rentang durasi 12 hari pertama peluncurannya, ChatGPT tercatat mengumpulkan sekitar 1,3 juta unduhan, sementara Muse sanggup menembus angka pembanding 1,8 juta unduhan pada kategori sejenis.
Tren unduhan harian Muse di pasar domestik AS bahkan menyentuh rekor tertinggi sebanyak 264.000 instalasi pada 19 September, mempertahankan laju di atas ambang 200.000 unduhan per hari selama tiga hari berturut-turut.
“Tujuan Muse adalah membuat AI dapat diakses oleh jauh lebih banyak orang,” beber Chief AI Officer Meta, Alexandr Wang, lewat akun resminya di media sosial X.
Mahaney menuturkan, daya pikat utama Muse di mata pelaku pasar modal tidak berhenti pada statistik jumlah unduhan semata, melainkan potensinya membuka keran pendapatan baru.
Selama ini, kiblat laba kecerdasan buatan condong didominasi oleh segmen korporasi (enterprise AI) melalui komputasi awan (cloud computing) yang dikuasai rival raksasa teknologi lainnya. Namun, penetrasi Muse yang langsung menyasar pengguna individu (consumer AI) dinilai mengubah peta permainan dan menepis keraguan bahwa belanja teknologi Meta memiliki iktikad buruk pemborosan kas tanpa imbal hasil investasi (return on AI investment/ROAI) yang jelas.
Analis tidak bungkam saat merinci tiga pilar potensi keuntungan yang kini dipegang pemegang saham: pembuktian validasi teknologi dari belanja modal perseroan, pendongkrak keterlibatan (user engagement) di seluruh ekosistem aplikasi Meta, serta pintu monetisasi masif melalui skema iklan bertarget, layanan berlangganan premium, hingga bagi hasil transaksi digital.
Dengan basis miliaran pengguna aktif global yang telah digenggam perseroan, kesuksesan awal Muse diproyeksikan membuka gerbang pasar potensial bernilai triliunan dollar AS di masa depan.













