TABANAN, Balipolitika.com– Kawasan Nuanu Creative City bersiap menjadi episentrum kreativitas visual dunia melalui gelaran FOTO Bali Festival edisi kedua. Penyelenggara mencatat lonjakan peminat yang sangat luar biasa dari komunitas seni lintas benua menjelang pembukaan pameran. Ribuan pasang mata akan tertuju pada praktik fotografi kontemporer yang mengeksplorasi jejak waktu dan ingatan manusia secara mendalam.
“Menerima submisi dari 80 negara dan wilayah pada edisi kedua merupakan sinyal kuat bahwa FOTO Bali Festival mulai beresonansi jauh melampaui Indonesia,” ujar Festival Director FOTO Bali Festival, Kelsang Dolma.
Panitia menerima sebanyak 693 submisi karya dari para fotografer yang tersebar di lima benua berbeda. Angka partisipasi ini meningkat hampir tiga kali lipat jika kita membandingkan dengan penyelenggaraan perdana tahun lalu. Kehadiran seniman dari India, Italia, hingga Amerika Serikat mempertegas posisi Bali sebagai ruang dialog budaya yang dinamis.
“Bagi kami, yang terpenting bukanlah pertumbuhan semata, melainkan kualitas dan keragaman praktik yang hadir melalui open call ini,” tutur Kelsang Dolma menekankan visi festival.
Edisi tahun ini mengusung tema besar Afterimage yang mengajak para seniman untuk merenungkan apa yang tersisa setelah sebuah momen berlalu. Para kurator melihat potensi besar dalam karya-karya yang menelusuri perubahan lingkungan serta isu sosial yang kompleks. Fotografi tidak lagi sekadar alat perekam peristiwa, melainkan medium untuk membangun relasi berkelanjutan dengan sejarah dan manusia.
“Submisi untuk edisi kedua FOTO Bali Festival benar-benar melampaui ekspektasi kami karena menghadirkan suara visual yang sangat khas,” kata kurator Kurniadi Widodo.
Tim kurasi bekerja ekstra keras menyeleksi ratusan proyek visual yang memiliki kedalaman narasi serta komitmen kuat terhadap subjek. Mereka menemukan beragam perspektif mulai dari refleksi personal tentang identitas hingga dampak konflik pada komunitas tertentu. Karya-karya terpilih nantinya akan menempati berbagai ruang pameran eksklusif di dalam kawasan kota kreatif Nuanu.
“Karya-karya terkuat memiliki kesamaan etos yaitu komitmen mendalam terhadap subjeknya melalui keterlibatan jangka panjang dengan gagasan serta cerita,” ungkap Kurniadi Widodo.
Nuanu Creative City terus memperkuat ekosistem budaya lokal melalui inisiatif program lintas disiplin yang melibatkan banyak pemikir global. Festival ini menjadi jembatan bagi para fotografer muda Indonesia untuk bersanding dengan praktisi mapan dari kancah internasional. Pertukaran ide ini diharapkan mampu memicu eksperimen artistik baru yang memberikan dampak positif bagi perkembangan seni rupa.
“Kami melihat bagaimana para seniman memanfaatkan fotografi sebagai medium di mana waktu terus bergerak dan makna terus terbentuk,” jelas kurator Putu Sridiniari.
Agenda besar ini akan berlangsung mulai tanggal 3 Juni sampai 12 Juli 2026 dengan rangkaian acara publik yang variatif. Pengunjung dapat menikmati diskusi panel, lokakarya, serta tur pameran yang dipandu langsung oleh para ahli di bidangnya. Kehadiran delegasi dari puluhan negara ini membuktikan bahwa Bali tetap menjadi magnet utama bagi industri kreatif dunia.
“Banyak karya yang sangat selaras dengan semangat Afterimage di mana fotografi menjadi cara untuk tinggal bersama jejak yang tersisa,” pungkas Putu Sridiniar. (BP/CHA).













