BADUNG, Balipolitika.com- Buntut 2 warga ditahan, ribuan krama Jimbaran tumpah ruah mendatangi Mapolsek Kuta Selatan (Kutsel) dengan mengenakan pakaian adat madya, Selasa, 2 Desember 2025 pagi.
Kehadiran ribuan warga adat ini merupakan aksi solidaritas Jaga Desa Jaga Krama bertajuk Jimbaran Metangi Ketog Semprong.
Mereka kompak menuntut pembebasan dua krama adat yang ditahan terkait kasus kekerasan terhadap seorang warga dan dugaan pengeroyokan.
Dalam orasi di depan Mapolsek Kutsel, warga membentangkan spanduk bertuliskan Jimbaran Metangi Ketog Semprong, Solidaritas Jaga Desa Jaga Krama.
Aksi damai tersebut mendapat atensi langsung Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Muhammad Iqbal Simatupang, S.I.K., M.H., dan Kapolsek Kutsel, Kompol I Komang Agus Dharmayana W., S.I.K., M.Si., yang kemudian melaksanakan mediasi dengan menghadirkan kedua belah pihak, tokoh masyarakat, serta dua anggota DPRD Badung Dapil Kutsel.
Dalam orasinya, warga menyebut aksi tersebut merupakan gerakan spontanitas sebagai bentuk kepedulian terhadap dua krama yang diinapkan di Mapolsek Kuta Selatan.
Tegas warga, mereka sama sekali tidak anti terhadap pendatang, namun meminta agar kesabaran warga tidak terus diuji oleh oknum yang melakukan pelanggaran atau kekerasan.
Warga menyampaikan dua krama yang ditahan tidak memulai keributan, tetapi hanya merespons pemukulan terhadap seorang krama yang mengalami luka robek pada kepala hingga harus dijahit.
Selain menuntut pembebasan dua warga, aksi tersebut juga menjadi penegasan bahwa masyarakat Jimbaran tidak ingin diperlakukan kasar oleh oknum pendatang.
Mereka meminta Kapolsek Kuta Selatan dan Kapolresta Denpasar memberikan keputusan seadil-adilnya serta merespons dinamika lapangan secara intens, mengingat Jimbaran merupakan kawasan pariwisata yang membutuhkan rasa aman dan nyaman.
Bendesa Adat Jimbaran, I Gusti Rai Dirga Arsana Putra, membenarkan aksi solidaritas tersebut sebagai gerakan spontan masyarakat atas dinamika yang terjadi.
“Tujuannya, pertama, kami ingin menunjukkan bahwa di Bali, khususnya di Jimbaran, tidak boleh ada tindakan arogan dari siapa pun. Arogansi tidak boleh ditunjukkan melalui kekerasan. Kedua, karena ini aksi spontanitas dan solidaritas, warga kami yang ditahan hanya melakukan sesuatu sebagai bentuk solidaritas kepada sesama krama,” ujarnya.
Terkait kronologi kejadian, Bendesa Adat Jimbaran mempersilakan agar hal itu dikonfirmasi langsung kepada saksi di lapangan.
Ia menegaskan bahwa sejak 1970-an, Jimbaran memiliki krama adat asal wilayah timur, termasuk sosok bernama Randi yang keluarganya aktif dalam kegiatan desa.
Bahkan, anak-anak Randi merupakan pemain PS Putra Perkantih Jimbaran.
Ketika istrinya meninggal dua tahun lalu, desa adat mengeluarkan rekomendasi kremasi tanpa biaya sebagai bentuk kesetaraan (equality) pihaknya dalam komunitas adat.
“Apa yang dilakukan masyarakat Jimbaran hari ini mencerminkan masyarakat Bali yang sudah letih dengan kondisi seperti ini. Keributan terjadi dan terus berulang. Kami mohon aparat lebih sigap agar hal seperti ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dari informasi awal, korban pemukulan mengalami luka robek hingga mendapat sekitar 10 jahitan.
Insiden ini memicu reaksi spontan warga hingga berujung pada penahanan dua krama akibat laporan sepihak.
Menurutnya, setelah informasi yang utuh disampaikan, seharusnya pihak kepolisian dapat segera menyelesaikan persoalan agar tidak menimbulkan korban baru maupun tekanan terhadap warga yang ditahan.
“Mereka tidak merencanakan atau mempersiapkan apa pun. Ini murni spontanitas. Jadi kami mohon kepolisian segera membebaskan warga kami,” pintanya.
Terkait jumlah massa, Bendesa Adat Jimbaran menjelaskan bahwa seluruh banjar di Jimbaran turun ke Mapolsek. Informasi disebarkan melalui media sosial kepada para kelian, lalu diteruskan kepada kesinoman atau juru arah, sehingga ribuan krama hadir pagi itu.
“Kemarin saya ditanya, apakah boleh dishare? Saya jawab, silakan. Saya izinkan krama hadir,” katanya.
Ia turut menyebutkan bahwa pihaknya telah memberi contoh dengan menugaskan seorang warga bernama Yakob untuk ikut memantau situasi, meski pengawasan penuh sulit dilakukan mengingat luasnya wilayah Jimbaran.
Dengan hadirnya gerakan masyarakat ini, ia berharap semua pihak menyadari bahwa di Bali, khususnya Jimbaran, tidak boleh ada pihak yang bertindak semena-mena atau mengedepankan arogansi. (bp/tim/ken)












