DENPASAR, Balipolitika.com- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus terjadi belakangan ini dinilai menjadi tanda masih rapuhnya fondasi ekonomi nasional.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya harga kebutuhan pokok dan menurunnya daya beli rakyat.
DPC GMNI Denpasar menilai bahwa pelemahan rupiah harus dipahami sebagai persoalan yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat kecil, khususnya kelompok ekonomi rakyat yang bergantung pada aktivitas ekonomi sehari-hari.
Bidang Agitasi dan Propaganda DPC GMNI Denpasar, Ngakan Alit Marchel Stefano menyampaikan bahwa pelemahan rupiah akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
“Ketika rupiah melemah, harga kebutuhan pokok naik, biaya hidup meningkat, dan masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terdampak,” ujarnya.
Marchel yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana menilai bahwa kondisi tersebut menunjukkan ekonomi nasional masih belum sepenuhnya memperkuat ekonomi rakyat secara merata.
“Kekuatan ekonomi nasional seharusnya dibangun dari rakyat yang produktif dan memiliki akses ekonomi yang adil, bukan hanya bertumpu pada segelintir pemilik modal besar,” tambahnya.
DPC GMNI Denpasar memandang bahwa pemerintah perlu lebih serius memperkuat sektor-sektor ekonomi rakyat seperti pertanian, perikanan, UMKM, dan industri nasional berbasis kebutuhan domestik agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor dan tekanan ekonomi global.
Selain itu, DPC GMNI Denpasar juga menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut bahwa rakyat Indonesia tidak bermimpi menjadi kaya raya.
Menurut GMNI Denpasar, pernyataan tersebut perlu dikritisi karena berpotensi menurunkan semangat masyarakat untuk berkembang dan memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera.
“Rakyat Indonesia hidup sederhana, tetapi bukan berarti rakyat tidak berhak bercita-cita hidup lebih sejahtera. Negara harus hadir membuka akses pendidikan, pekerjaan, dan ekonomi agar masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidupnya,” tegas Marchel.
Menurut DPC GMNI Denpasar, cita-cita mewujudkan kesejahteraan sosial sebagaimana amanat konstitusi harus dimaknai sebagai upaya negara untuk terus meningkatkan kualitas hidup rakyat, bukan sekadar memastikan masyarakat mampu bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi.
DPC GMNI Denpasar juga mengajak generasi muda untuk lebih kritis dalam melihat persoalan ekonomi nasional karena dampak pelemahan rupiah pada akhirnya akan memengaruhi kesejahteraan masyarakat dan masa depan kemandirian bangsa. (bp/ken)













