GRAHA Yowana Suci, Denpasar. Lelaki itu datang sambil tersenyum. Saya sedang duduk di bangku warung di depan toko buku Partikular, setelah sebelumnya berbincang dengan Ilham, anak muda yang lama bermukim di Yogyakarta dan kini mengajar di sebuah sekolah internasional di Kuta Selatan. Ia juga penulis. Buku kumpulan puisinya telah terbit.
Saya tidak segera menyadari kehadirannya. Tiba-tiba Bli Jengki sudah berdiri di depan saya dengan senyum khasnya. Topi bertengger di kepala. Sebuah tas kecil tergenggam di tangannya. Pemandangan itu segera membawa ingatan saya kepada mendiang Umbu Landu Paranggi, yang dulu kerap bepergian membawa tas plastik berisi buku atau lembaran koran.
Bli Jengki adalah salah seorang murid Umbu. Ia mengenal penyair kelahiran Sumba itu sejak masih remaja. Ketika anak-anak muda seusianya mulai jatuh cinta kepada lawan jenis, ia justru jatuh cinta kepada puisi. Pilihan yang pada masa itu mungkin terdengar ganjil. Sastra sering dianggap pekerjaan para pengkhayal, dunia yang sulit dimengerti dan tidak menjanjikan banyak hal bagi kehidupan material.
Tetapi waktu ternyata memiliki cara sendiri untuk membuktikan keteguhan seseorang. Puluhan tahun kemudian, lelaki yang datang ke Graha Yowana Suci itu masih menulis. Ia tidak hanya menulis puisi, tetapi juga esai, cerpen dan novel. Buku-bukunya terbit di berbagai penerbit. Karyanya muncul di koran, majalah, buletin dan media daring. Puisi ternyata bukan cinta masa remaja yang kemudian ditinggalkan ketika dewasa. Puisi justru menjadi salah satu cara Wayan Jengki Sunarta menjalani kehidupan.
Pada 2025, ketika usianya genap 50 tahun, lahirlah Kidung Capung, buku kumpulan puisi yang diterbitkan Teater Sastra Welang. Penerbit ini digerakkan oleh sastrawan muda dan pegiat teater Moch Sastria Welang. Dalam data Bibliografi Indonesia Perpustakaan Nasional, Kidung Capung tercatat sebagai kumpulan puisi Wayan Jengki Sunarta, edisi pertama November 2025, diterbitkan di Denpasar oleh Teater Sastra Welang, setebal 92 halaman. Buku tersebut memuat 50 puisi.
Lima puluh puisi itu terasa seperti perjalanan panjang seorang penyair yang sedang menengok kembali jalan yang telah dilewatinya. Waktu, kenangan, cinta, kehilangan, alam, perjalanan, kelahiran dan kematian berkelindan di dalamnya. Bukan sesuatu yang asing dalam puisi, tentu saja. Tetapi pengalaman hidup seorang penyair memberi warna berbeda pada cara tema-tema itu dibicarakan.
Di dalam pengantar penulis, Jengki menjelaskan bahwa Kidung Capung terinspirasi dari kehidupan capung yang singkat. Capung dipandang sebagai makhluk yang mengingatkan manusia kepada kefanaan. Ia terbang, bermain dengan cahaya, menyentuh air, menikmati angin dan kebebasan, tetapi hidupnya tidak panjang.
Dari sana Jengki merenungkan kehidupan manusia. Kita pun datang ke dunia dalam waktu yang terbatas. Kita menjalani hari, mengumpulkan pengalaman, mencintai, kehilangan, bekerja, menulis, mengingat dan pada akhirnya meninggalkan kehidupan. Kesadaran tersebut menjadi salah satu napas buku ini.
Jengki juga menjelaskan bahwa puisi-puisinya lahir dari perenungan tentang waktu dan kefanaan. Kehidupan tidak berdiri di luar waktu. Segala sesuatu bergerak di dalamnya. Kelahiran membawa perjalanan menuju kematian. Pertemuan suatu ketika akan berhadapan dengan perpisahan. Kenangan muncul karena sebelumnya pernah ada sesuatu yang hilang.
Karena itu capung dalam buku ini bukan sekadar serangga. Ia menjadi semacam tanda. Tubuh kecil yang bergerak cepat di udara itu mengingatkan bahwa hidup tidak harus panjang untuk menjadi berarti. Justru karena waktu terbatas, manusia perlu menyadari keberadaannya.
Dari gagasan tersebut, Lima Puluh Lilin Menyala menjadi salah satu puisi yang penting dibaca ketika kita hendak memahami Kidung Capung. Puisi ini seperti pintu yang sengaja dibuka Jengki untuk memperlihatkan dirinya pada usia lima puluh tahun.
Puisi tersebut dimulai dengan kalimat sederhana.
Lima puluh lilin menyala
Setiap cahayanya adalah cerita
Setiap cahayanya adalah kenangan
Saya menyukai cara Jengki menerjemahkan usia ke dalam cahaya. Ia tidak mengatakan lima puluh tahun sebagai angka yang selesai dihitung. Ia menjadikannya lima puluh lilin. Setiap lilin menyala dan setiap cahaya memiliki cerita sendiri.
Lilin biasanya hadir dalam perayaan ulang tahun. Ia dinyalakan ketika seseorang bertambah usia. Tetapi lilin memiliki sifat lain yang membuatnya menarik sebagai metafora. Ketika menyala, ia sekaligus sedang berkurang. Api yang memberikan cahaya pada saat yang sama sedang menghabiskan tubuh lilin itu sendiri.
Di situlah puisi ini menjadi lebih dalam daripada sekadar puisi ulang tahun. Lima puluh lilin menyala berarti lima puluh tahun telah dijalani. Tetapi cahaya itu juga mengingatkan bahwa waktu terus bergerak. Tidak ada nyala yang bisa bertahan selamanya. Lilin akhirnya habis. Api akhirnya padam. Perayaan dan kefanaan bertemu dalam satu benda.
Jengki kemudian membawa pembaca kepada tubuh.
Pada wajahku,
Kehidupan mengukir gurat-guratnya
Wajah menjadi tempat waktu meninggalkan tanda. Lima puluh tahun tidak hanya tercatat dalam dokumen kependudukan atau angka pada kue ulang tahun. Ia terbaca pada tubuh. Kerutan, perubahan bentuk wajah, rambut yang mungkin mulai berubah warna dan berbagai tanda lainnya menjadi semacam arsip yang tidak bisa disembunyikan. Tubuh menjadi buku yang ditulis kehidupan.
Di sini pengalaman penyair sebagai manusia terasa lebih dekat. Ia tidak sedang berbicara tentang usia orang lain. Ia sedang melihat wajahnya sendiri. Lima puluh tahun menjadi sesuatu yang bisa disentuh, dilihat dan dirasakan. Kemudian muncul langit senja.
Betapa manis langit senja menatapku
Dan tanah, suatu waktu,
Menunggu tubuhku penuh rindu
Senja membawa puisi ini semakin jauh dari suasana ulang tahun. Jika pada awalnya ada cahaya lilin, kemudian muncul cahaya senja. Tetapi keduanya mempunyai karakter yang berbeda. Lilin adalah cahaya yang dibuat manusia. Senja adalah cahaya alam yang datang dan pergi menurut waktu.
Pada bagian ini, tubuh manusia akhirnya berhadapan dengan tanah. Sebuah kesadaran sederhana tentang kematian. Jengki tidak menggunakan kematian sebagai sesuatu yang menakutkan. Ia menghadirkannya sebagai bagian dari perjalanan yang kelak akan ditemui. Lalu lima puluh tahun berubah menjadi ladang.
Lima puluh tahun membentang
Seperti petak-petak ladang
Pada setiap petaknya aku menanam
Aneka pohon yang merayakan diriku
Menurut saya, bagian ini merupakan salah satu pusat kekuatan puisi tersebut. Usia tidak dibayangkan sebagai jalan lurus. Lima puluh tahun dibayangkan sebagai petak-petak ladang.
Ladang adalah tempat manusia bekerja. Ada tanah yang harus digarap. Ada benih yang ditanam, pohon yang dirawat, musim yang harus dilewati sebelum sesuatu tumbuh. Dengan metafora itu, kehidupan menjadi sebuah kerja panjang.
Apa yang ditanam Jengki selama lima puluh tahun? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab secara harfiah. Tetapi kita bisa melihat buku-buku yang telah ditulisnya, puisi-puisi yang telah lahir, pertemanan yang tumbuh, pertemuan dengan guru, perjalanan sebagai penyair, pekerjaan sebagai penulis dan redaktur, serta berbagai pengalaman yang kemudian menjadi bahan bakar bagi karya.
Pohon-pohon itu bisa dibaca sebagai karya dan pengalaman. Ada sesuatu yang menarik pada kata “merayakan”. Pohon-pohon tersebut tidak sekadar tumbuh. Mereka merayakan dirinya. Dengan begitu, perjalanan hidup tidak semata menjadi kumpulan penderitaan atau kehilangan. Di tengah waktu yang terbatas, ada sesuatu yang pantas disyukuri. Setelah itu puisi bergerak ke bunga dan langit kelabu.
Bunga-bunga mekar di bawah langit kelabu
Angin menyanyikan lagu-lagu masa lalu
Masa lalu datang melalui alam. Bunga, langit dan angin menjadi pengantar ingatan. Penyair mengenang subuh yang jauh ketika tangis pertama pecah. Ada kehidupan yang bermula dalam tangisan, kemudian perjalanan panjang membawanya sampai pada usia lima puluh.
Sejak awal puisi, kelahiran dan kematian sebenarnya sudah ditempatkan berdekatan. Seorang bayi menangis ketika memasuki dunia. Seorang manusia kelak diam ketika meninggalkannya. Di antara kedua peristiwa itu ada lima puluh tahun yang dipenuhi pengalaman.
Bagian berikutnya semakin jelas.
Aku tahu, setiap kelahiran
Membawa kematiannya sendiri
Namun aku terus berjalan
Menyusuri musim demi musim
Menurut saya, kata “namun” di sini sangat penting. Kesadaran tentang kematian tidak membuat penyair berhenti. Justru setelah menyadari bahwa setiap kelahiran membawa kematian, ia mengatakan bahwa dirinya terus berjalan.
Inilah yang membuat puisi tersebut tidak berubah menjadi ratapan tentang usia tua. Ada penerimaan terhadap waktu, kesadaran tentang akhir, tetapi juga ada kemauan untuk terus menjalani hari. Musim demi musim berarti kehidupan masih berlangsung. Lima puluh tahun bukan garis akhir. Ia hanya sebuah titik tempat seseorang berhenti sebentar untuk melihat ke belakang sebelum kembali berjalan.
Puisi tersebut sekaligus menjadi semacam cermin bagi Kidung Capung. Capung yang menjadi judul buku hidup dalam waktu yang singkat. Lilin dalam puisi ini juga memiliki nyala yang terbatas. Keduanya bertemu pada satu gagasan tentang kefanaan. Capung terbang selama hidupnya. Lilin menyala selama masih memiliki tubuh. Manusia berjalan selama masih memiliki waktu.
Ketiganya pada akhirnya akan berhenti. Tetapi sebelum berhenti, masing-masing menjalankan tugasnya. Capung terbang, lilin menerangi, manusia menjalani kehidupan.
Mungkin di situlah saya menemukan makna paling sederhana dari Kidung Capung. Buku ini tidak sedang berusaha menemukan cara agar manusia menjadi abadi. Jengki justru mengajak pembaca berdamai dengan kenyataan bahwa manusia tidak abadi. Yang mungkin dilakukan adalah meninggalkan jejak, dan jejak itu bisa berupa puisi.
Jengki datang dari generasi yang mengenal sastra bukan hanya melalui ruang kelas. Ia tumbuh dalam lingkungan kepenyairan yang mempunyai hubungan erat dengan tradisi Umbu Landu Paranggi. Di Yogyakarta, Umbu bersama sejumlah rekannya mendirikan Persada Studi Klub atau PSK pada 5 Maret 1969. Komunitas itu menjadi ruang bagi anak-anak muda yang memiliki minat serius terhadap sastra dan kesenian.
Umbu kemudian dikenal dengan julukan “Presiden Malioboro”. Julukan itu tidak semata berkaitan dengan kebiasaannya berada di kawasan Malioboro, tetapi juga dengan perannya mengasuh para penulis muda. Banyak nama yang kemudian dikenal dalam sastra Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang diasuhnya.
Umbu pindah ke Bali pada 1978 dan kemudian mengasuh ruang sastra di Bali Post. Di Bali pula ia meneruskan kebiasaannya membuka ruang bagi penulis muda. Sejumlah catatan tentang kiprahnya di Bali menyebut Wayan Sunarta sebagai salah seorang penyair muda yang tumbuh melalui ruang sastra yang diasuh Umbu.
Karena itu, ketika melihat Kidung Capung, saya tidak hanya melihat sebuah buku yang diterbitkan ketika penyairnya berusia lima puluh tahun. Saya melihat sebuah perjalanan yang lebih panjang. Ada jejak seorang remaja yang mulai mengenal puisi, ada perjumpaan dengan guru, ada koran yang memuat puisi, ada buku yang kemudian lahir, dan ada seorang lelaki berusia lima puluh tahun yang masih terus menulis.
Sastra memang bekerja dengan cara yang aneh. Ia tidak selalu menghasilkan sesuatu yang segera bisa ditukar dengan uang. Ia tidak selalu membuat penulis menjadi terkenal. Bahkan sering kali seorang penulis harus menjalani kehidupan yang sangat sederhana sambil terus menulis. Tetapi sastra memiliki satu kemampuan yang sulit digantikan. Ia dapat menyimpan sesuatu yang hampir hilang.
Sebuah puisi dapat menyimpan suara seseorang, sebuah buku dapat menyimpan masa tertentu, dan sebuah kalimat dapat membuat seseorang yang sudah lama tidak ditemui kembali hadir di kepala.
Mungkin karena itulah Jengki masih menulis. Ketika kami berbincang di Graha Yowana Suci, ia tiba-tiba bertanya kepada saya, “Aku pertama kali mengenalmu tahun berapa, ya?” Pertanyaan itu sederhana. Tetapi saya tertegun. Sebab pertanyaan tentang kapan pertama kali bertemu sebenarnya adalah pertanyaan tentang waktu. Kita bisa lupa tanggal, lupa bulan, bahkan bisa lupa tempat. Tetapi pertemuan tetap meninggalkan sesuatu.
Saya mengenal nama Wayan Sunarta sebelum mengenal Wayan Jengki Sunarta. Namanya sering muncul di halaman koran Bali Post sebagai penyair. Dari sana nama itu bergerak, berpindah dari koran ke buku, dari buku ke pertemuan, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini, setelah lima puluh tahun hidupnya, ia menulis Lima Puluh Lilin Menyala. Saya membayangkan lima puluh lilin itu bukan hanya berdiri di atas kue ulang tahun. Lilin itu berdiri di sepanjang perjalanan. Ada lilin masa kanak-kanak, lilin remaja, lilin ketika pertama kali mengenal puisi. Ada lilin ketika bertemu Umbu, lilin untuk buku pertama, ada lilin untuk pertemanan, lilin untuk kehilangan. Dan, ada juga lilin untuk setiap orang yang pernah datang dan pergi.
Setiap cahaya adalah cerita dan kenangan. Dan mungkin setiap cahaya juga menyimpan sesuatu yang tidak sempat dituliskan. Di sinilah Kidung Capung terasa sebagai buku yang personal. Jengki tidak sedang berusaha memberikan jawaban besar tentang kehidupan. Ia justru mengumpulkan hal-hal kecil yang ditemukan sepanjang perjalanan. Capung, lilin, bunga, angin, senja, tanah, ladang, musim dan kenangan.
Benda-benda sederhana itu kemudian menjadi jalan menuju pertanyaan yang lebih besar. Berapa lama sebenarnya manusia hidup? Apa yang tersisa setelah usia bertambah? Apakah karya dapat menjadi cara untuk memperpanjang kehidupan?
Pertanyaan terakhir mungkin terlalu besar untuk dijawab sebuah buku puisi. Tetapi penyair seperti Jengki tampaknya sudah menemukan jawabannya melalui kerja yang ia lakukan selama puluhan tahun. Ia terus menulis.
Dalam percakapan kami, ia juga bercerita tentang perubahan dunia kepenulisan. Ia menyinggung banyak penulis yang kini menggunakan kecerdasan buatan. Ia tidak menganggap teknologi tersebut sebagai sesuatu yang harus dimusuhi.
“Aku bukan anti AI. Tidak. Hal yang aku sayangkan adalah tulisan hasil bantuan AI tidak disunting lagi dan langsung dikirim ke media oleh penulis,” katanya.
Menurutnya, persoalan bukan semata penggunaan teknologi, melainkan tanggung jawab penulis terhadap tulisannya sendiri. Penulis tetap perlu memiliki kemampuan menyunting, memperdalam dan memastikan bahwa tulisan yang dikirim tidak berhenti sebagai teks mentah.
Saya kira pandangan tersebut menarik jika diletakkan berdampingan dengan perjalanan kepenyairannya. Selama puluhan tahun, Jengki berhadapan dengan kata-kata tanpa bantuan mesin yang bisa menghasilkan ribuan kalimat dalam hitungan detik. Ia menjalani proses yang lebih lambat. Membaca, menulis, menghapus, menunggu, menulis lagi, dan mengendapkan pengalaman. Kemudian menerbitkan buku.
Kidung Capung lahir dari proses yang panjang itu. Buku tersebut seperti mengingatkan bahwa kehidupan juga bekerja melalui proses yang lambat. Pohon tidak tumbuh dalam sehari. Usia lima puluh tahun tidak terbentuk dalam satu malam. Seorang penyair tidak menjadi penyair hanya karena satu puisi.
Semuanya bertumbuh, seperti petak-petak ladang dalam puisi Jengki. Karena itu, Lima Puluh Lilin Menyala bagi saya bukan sekadar puisi yang menandai usia penyairnya. Ia merupakan semacam catatan perjalanan. Lima puluh tahun dibaca melalui cahaya, tubuh, ladang, bunga, angin, kelahiran dan kematian.
Pada akhirnya, lilin tetap akan padam, capung tetap akan pergi, musim akan berganti, dan tubuh akan kembali kepada tanah. Tetapi sebelum semuanya berakhir, seseorang masih bisa menulis satu puisi lagi.
Dan mungkin itulah yang dilakukan Wayan Jengki Sunarta sampai hari ini. Ia menyalakan lilin lain melalui kata-kata. Bukan untuk mengalahkan gelap selamanya, melainkan untuk menerangi sebentar perjalanan yang sedang ditempuhnya.
Lima puluh lilin telah menyala. Lima puluh tahun telah menjadi petak-petak ladang. Sebagian pohon telah tumbuh, sebagian mungkin telah tumbang. Bunga-bunga masih bermekaran. Angin masih membawa lagu masa lalu. Penyair masih berjalan menyusuri musim demi musim.
Di sebuah tempat bernama Graha Yowana Suci, saya melihatnya datang dengan topi dan tas kecil. Ia tersenyum seperti biasa. Tidak tampak seorang lelaki yang sedang sibuk merayakan angka lima puluh. Yang saya lihat justru seorang penyair yang masih berjalan.
Mungkin itulah panjang umur yang sesungguhnya bagi seorang penyair. Bukan sekadar bertambahnya usia, melainkan bertahannya kemampuan untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang layak direnungkan, dituliskan dan dibagikan kepada orang lain. Selama itu masih dilakukan, puisi belum selesai. Dan perjalanan Wayan Jengki Sunarta pun belum selesai.
*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Negara, Jembrana, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Universitas Udayana. Aktif menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan sekitar 20 buku berupa puisi dan esai. Karyanya banyak mengangkat sastra, kebudayaan Bali, kehidupan sehari-hari, ingatan, manusia, dan persoalan sosial.










