SAYA melihat sawah dari suatu subak yang terbengkalai di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Pemandangan itu terasa biasa saja bagi sebagian orang. Tetapi bagi saya, sawah yang tidak ditanami bukan sekadar tanah yang kehilangan padi. Di sana seperti ada sesuatu yang sedang berhenti: sebuah sistem kehidupan yang dibangun oleh leluhur desa sejak ratusan tahun.
Saya membayangkan para leluhur Batungsel membuka hutan, menata tanah, membuat pematang, mencari sumber air, dan membangun saluran-saluran irigasi. Pekerjaan itu tentu tidak selesai dalam satu atau dua tahun. Mungkin sepuluh tahun atau bahkan lebih. Mereka membangun sawah bukan hanya untuk menanam padi, tetapi untuk membangun kehidupan. Batungsel berada di kawasan barat kaki Gunung Batukaru. Di kawasan pegunungan Batukaru purba yang membentang hingga wilayah Buleleng dan Tabanan terdapat sumber-sumber air menggenang yang kemudian muncul sebagai mata air di perkebunan kopi. Ada sungai yang mengalir sepanjang tahun menuju selatan Tabanan dan bermuara di Samudra Hindia. Ada pula pangkung-pangkung curam yang menghidupi tanah dan kebun. Dari air itulah sawah-sawah dibangun. Beberapa subak berkembang dalam satu kawasan dengan sumber air yang sama. Petani memilih jenis-jenis padi yang cocok dengan tanah, musim, dan ketersediaan air. Perlahan terbentuklah ekonomi subak. Selama kurang lebih satu abad, subak di Batungsel mencapai masa keemasannya.
Sawah menjadi pusat kehidupan desa. Di sawah orang bekerja, memperoleh penghasilan, membangun hubungan sosial, dan menjalankan kebudayaan dan berbagai ritual musim. Air tidak sekadar menjadi kebutuhan pertanian. Air memiliki hubungan dengan keyakinan dan penghormatan terhadap alam. Musim, hujan, mata air, padi, dan Dewi Sri menjadi bagian dari dunia kehidupan petani. Padi menjadi komoditas penting. Beras bahkan menjadi salah satu alat tukar dalam kehidupan ekonomi desa. Orang yang memiliki sawah luas menduduki posisi ekonomi yang kuat. Sementara mereka yang tidak memiliki sawah dapat bekerja mengikuti musim: menyiapkan lahan, menanam, menyiangi, merawat, sampai memanen. Mreka menerima upah harian. Dengan demikian, sawah menyediakan pekerjaan hampir sepanjang tahun.
Saya membayangkan sebuah desa yang seluruh keluarganya memiliki hubungan langsung dengan sawah. Mereka pergi ke sawah bukan hanya untuk mencari uang. Mereka pergi untuk bekerja, bertemu, berbicara, belajar, dan menjalankan kebudayaan. Dalam waktu yang sangat panjang, terbentuklah sebuah ekosistem. Bukan hanya ekosistem alam, tetapi ekosistem sosial dan kebudayaan. Sawah, air, petani, tenaga kerja, musim, upacara, pengetahuan, dan tradisi saling terhubung. Karena itu, subak sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar sistem irigasi.
Kini ekosistem itu mulai retak. Terlalu sering menunjuk pariwisata sebagai penyebab utama kehancuran pertanian Bali. Pariwisata memang membawa perubahan besar. Tetapi kalau dilihat lebih dekat, persoalannya ternyata lebih rumit. Sawah hilang karena alih fungsi lahan untuk berbagai kebutuhan. Perumahan tumbuh bersama urbanisasi dan bahkan dapat menghabiskan lahan lebih luas daripada pembangunan fasilitas pariwisata. Desa berkembang. Penduduk membutuhkan rumah. Jalan dan berbagai fasilitas baru dibangun.
Air juga berubah fungsi. Sejak masa Orde Baru, pembangunan instalasi air bersih membuat sumber-sumber air yang sebelumnya sangat penting bagi subak juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Air tidak hanya dialirkan ke sawah. Desa-desa juga membutuhkannya. Karena itu, menyalahkan pariwisata semata-mata sebagai penyebab kehancuran subak, terlalu sederhana. Ada perubahan yang lebih mendasar: ekonomi Bali telah bergeser dari ekonomi agraris menuju ekonomi industri dan jasa. Perubahan itu melahirkan urbanisasi dan mengubah cara orang melihat pekerjaan. Di sinilah muncul persoalan paling menyedihkan dari sawah-sawah yang terbengkalai. Bukan semata-mata karena tanahnya sudah tidak subur. Bukan semata-mata karena airnya hilang. Bukan pula semata-mata karena pariwisata. Sawah ditinggalkan karena tidak ada lagi tenaga kerja yang setia kepadanya. Dahulu, tenaga kerja pertanian tersedia di dalam desa. Setiap keluarga memiliki hubungan dengan sawah. Ketika musim mengolah tanah tiba, orang bekerja. Ketika waktu menanam datang, orang turun ke sawah. Begitu pula ketika menyiangi dan memanen.
Kini keadaan berubah. Anak-anak muda mencari pekerjaan lain. Pekerjaan di luar pertanian dianggap lebih menjanjikan. Sementara pemilik sawah yang masih ingin bertani harus membayar tenaga kerja. Masalahnya, harga tenaga kerja semakin mahal. Hasil sawah tidak selalu mampu membayar biaya tenaga kerja. Akhirnya petani menghitung kembali: lebih baik sawah ditanami atau dibiarkan? Di titik inilah sawah perlahan mati. Padahal dahulu sawah dapat menyerap seluruh tenaga kerja. Ia menjadi ruang ekonomi bagi orang yang tidak memiliki lahan. Ia menciptakan hubungan antara pemilik tanah dan pekerja desa. Produktivitas padi dan nilai tenaga kerja berada dalam keseimbangan yang memungkinkan sistem itu bertahan.
Ketika keseimbangan tersebut hilang, subak pun kehilangan salah satu fondasi terpentingnya: manusia. Mungkin inilah ironi terbesar pembangunan Bali. Kita berbicara tentang kemajuan ekonomi, tetapi pada saat yang sama kehilangan sistem ekonomi lokal yang selama ratusan tahun mampu menghidupi desa. Kita berbicara tentang pelestarian budaya, tetapi membiarkan ruang tempat kebudayaan itu tumbuh perlahan menjadi lahan tidur. Kita bangga pada subak sebagai warisan budaya, tetapi lupa bahwa subak tidak akan hidup hanya dengan sertifikat, papan nama, atau upacara. Subak membutuhkan air. Subak membutuhkan sawah. Dan yang paling penting, subak membutuhkan manusia yang mau bekerja di dalamnya. Karena itu, ketika saya melihat sawah Batungsel yang terbengkalai, saya tidak hanya melihat tanah kosong. Saya melihat jejak kerja keras para leluhur. Saya melihat saluran air yang pernah mengalirkan hidup. Saya melihat keluarga-keluarga petani yang dahulu bekerja di bawah panas matahari, hujan, angin, bahkan ancaman petir. Saya melihat sebuah ekosistem yang pernah hidup. Dan kini saya bertanya: jika suatu hari semua sawah itu benar-benar berhenti ditanami, apa yang sebenarnya hilang dari desa kami?













