Ditelan Wi-Fi
masa silam bertandang dengan perkasa
semerbak aroma ranum mangga
cericit gelatik membangun sarang
di angin tenang kupeluk masa kanak.
ribuan kali matahari terbit-terbenam
ratusan kali petani gagal panen raya
manapak hidup menurut hukum alam
aku meniti di tepinya, menata mimpi
menatap masa depan tanpa asahan
pemertajam naluri memahami cuaca
dan aku tak bisa kembali mencatatnya!
masa silam bertandang dengan perkasa
saat mainan masa kanak digilas gawai
dan mata orang-orang ditelan wi-fi
Jakarta, 2026
Nenek Dupa
tubuhku penuh asap dupa
yang dibakar nenek saban kamis petang
dari pagar ke beranda, pintu dan jendela
ditiupkan ke bawah ranjang dan lemari.
tak pernah aku bertanya
sebab mata silamnya meredam
gelisah di batas masa lampau
dan masa depan samar kutangkap.
walau nenek tak pandai ngaji
ia fasih menganggit biaya hari tua
hingga senja mangkat membopongnya.
kini aku mencari nenek dalam dada
yang masih tercium aroma dupa
walau tak berasap di pintu atau jendela.
Jakarta, 2026
Sementara Kita Sering Berpisah
di ruang berbeda kita pandai
merekahkan senyum bibir
dan mata sejak pagi menyala
di atas kompor gas pendidih air gelisah
untuk secangkir kopi penuh gairah.
sependek hidup sepanjang doa
kita mesti pandai memotong-motong cemas
mencampurnya dengan bawang dan cabe
untuk sepiring telor dadar keluarga
walau kini mesti menggoreng
dengan tangan dan wajan masing-masing
sambil saling menatap di layar smartphone
seolah kita berdiri di dapur yang sama.
kita tekun mengingat segala kebaikan
pemantik gairah hidup
kini, esok, hingga bercocok tanam
di belakang rumah kita sendiri.
Jakarta, 2026
Yang Tak Kita Ucapkan
kita telah memilih
aku di kota kamu di desa.
kelak, di saat tepat
labuhkan tubuhmu ke dadaku
kita akan rebah, diam sejenak
merasakan perjalanan seperti sungai
mengalir ke satu muara—masa depan
tanpa perlu menjadikannya konten
selebrasi perjumpaan.
kapan terakhir kita ucapkan sedih
saat saling tatap di layar smartphone?
kita sama-sama tidak punya bahasa
untuk mengucapkan “aku kangen”
saat kita dalam jarak
walau masih dalam tatap
sebab kita terlampau fasih
berlapang dada.
Jakarta, 2025
Layar di Telapak
di matamu yang merah
mawar-mawar padam
tertusuk durinya sendiri.
di wajahmu yang dingin
kecemasan merambat tanpa jeda
tumbuh dari telunjuk sendiri.
di otakmu yang malas mikir
pertemuan hilang cakap dan tatap
terhalang layar di telapak.
dan di tiap pertanyaan
seluruh jawabanmu lenyap
ditelan kebuntuan berikutnya.
Jakarta, 2026
Di Taman Amir Hamzah
memasuki taman amir hamzah
kuraba pipi kurus keringku
tertampar tangan nasib sendiri
sepanjang jalan salemba.
“aku manusia, rindu rasa, rindu rupa”*
gumamku meniru batinmu di teduh taman
tempat para pekerja mengistirahkan letih
dari hari-hari lelah di punggung Jakarta.
di tamanmu, tukang mie ayam dan ketoprak
menanti senyum, tapi hanya kemurungan
mekar di wajah manusia kali ciliwung.
kudengar kau berbisik di celah polusi,
“kau manusia, punya tangan, punya kaki”
aku bangkit lalu tancap gas ke kantor.
Jakarta, 2025-2026
*kutipan puisi Amir Hamzah
BIODATA
Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989. Mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.com. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media massa cetak dan elektronik seperti Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, kompas.id, republika.id, dll, serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi Puisi Tunggalnya: Omerta (Halaman Indonesia, 2018) dan “Peta Biru Dunia Ketiga” (Penerbit JBS, 2025). Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube Channel @selendangsulaimanofficial.










