BULELENG, Balipolitika.com– Desa Adat Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan tradisi yang kental.
Kekayaan tradisi tersebut mencakup 26 jenis Tari Rejang yang sistem pementasannya dibagi berdasarkan jenis upacara.
“Pada Upacara Ngusaba Biasa, terdapat 5 jenis tarian yang wajib dipentaskan. Sementara itu, saat upacara Ngusaba Malunin, 5 jenis tarian wajib tersebut akan ditambah 2 tarian khusus sehingga genap menjadi 7 tarian. Dan 19 jenis tarian sisanya masuk dalam kategori Rejang Pilihan yang ditarikan baik dalam Upacara Ngusaba Biasa maupun Ngusaba Malunin,” ujar Nyoman Suana yang merupakan sekehe gong Tari Rejang.
Namun, di balik keindahan tradisi tersebut, beberapa jenis Tari Rejang, khususnya Rejang Pilihan sempat tidak terlaksana akibat minimnya partisipasi anak-anak muda di Desa Pedawa.
Kondisi ini diperparah oleh pergeseran pola hidup masyarakat modern dan tuntutan ekonomi yang membuat banyak pemuda desa merantau untuk melanjutkan pendidikan serta bekerja.
“Kalau zaman dulu, karena tidak ada sekolah, teruna-teruni-nya ada di Pedawa saja. Begitu ada upacara, mereka pasti sempat hadir. Berbeda dengan sekarang. Generasi muda baru tamat SMP sudah keluar desa sehingga partisipasinya sangat kurang,” ungkap Wayan Sudiastika, Kelian Adat Desa Pedawa.
Kondisi pelestarian Tari Rejang Pilihan di masa lalu terbilang cukup berat.
Ketika upacara besar tiba, jumlah pemudi yang bisa menari di desa sangat minim, bahkan hanya tersisa sekitar 3 sampai 7 orang saja.
Akibatnya, 1 penari harus menarikan 3 sampi 5 jenis terian pada saat Upacara Ngusaba.
Proses regenerasi penari pun semakin menantang karena sifat tarian yang sakral.
Berbeda dengan tarian lain yang bisa dipelajari kapan saja, latihan Tari Rejang di Desa Pedawa justru hanya boleh dilaksanakan ketika waktu Upacara Ngusaba sudah dekat.
Ditambah lagi, ada aturan adat yang melarang penggunaan instrumen gong asli desa untuk keperluan latihan biasa di luar rangkaian upacara.
“Kalau tari sakral di sini, kalau tidak menjelang upacara di desa itu tidak bisa. Itu kendala juga untuk belajar. Kita juga tidak boleh pakai gong aslinya untuk latihan. Jadi kami hanya pakai dari bambu yang namanya tingklik,” ucap Nengah Lampin yang merupakan Penyarikan Gong Tari Rejang.
Hal ini juga mengakibatkan jumlah penari semakin sedikit, mengingat generasi muda lebih banyak melanjutkan pendidikan dan mencari kerja di luar desa.
Melihat kurangnya partisipasi generasi muda, Wayan Sudiastika bersama masyarakat Desa Pedawa menginisiasi lahirnya sebuah pasraman adat.
Ada beberapa penawaran sebagai bentuk kerja sama dengan pasraman adat tersebut, salah satunya adalah AMAN alias Aliansi Masyarakat Adat Nusantara.
Lewat kerja sama ini, Pasraman Desa Pedawa resmi berubah nama menjadi Sekolah Adat Pedawa Manik Empul yang didirikan pada tahun 2023.
Sekolah adat ini didirikan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada anak-anak muda termasuk orang dewasa.
Agar tidak monoton bagi generasi muda, Sekolah Adat Pedawa Manik Empul dikemas kreatif.
Para pengurus AMAN sering kali menyelingi pelajaran adat dengan pelatihan keterampilan ekonomi praktis serta kegiatan seni sastra.
“Sekolah adat ini tidak monoton tentang adat saja, tetapi kami datangkan narasumber yang bersifat ilmuan, misalkan diajarkan cara membuat sabun, cara membuat bakso, cara membuat kripik. Jadi dari anak muda hingga orang tua bisa belajar,” ujar Wayan Sudiastika.
Langkah progresif ini kini mulai membuahkan hasil nyata bagi kelestarian budaya Desa Pedawa.
Melalui wadah sekolah adat, masyarakat kini lebih mudah mengkoordinir puluhan pemudi untuk kembali akif berlatih dan menghidupkan kembali Tari Rejang Pilihan yang sempat terlupakan.
Keberhasilan sekolah adat ini dapat mempertahankan jati diri masyarakat Bali Aga bahkan berhasil menarik negara asing untuk berkunjung ke Pedawa untuk melakukan studi banding kebudayaan. (bp/Luh Kartika Suryani/4A/Basindo/Undiksha)













