Pernahkah Anda melintasi kawasan asri di pinggiran utara Denpasar dan merasakan getaran magis dari sisa-sisa kejayaan masa lalu? Jauh sebelum menjadi pemukiman yang tertata rapi, sejarah Kelurahan Peguyangan menyimpan memori tentang gajah yang berguling hingga kubangan darah prajurit yang bertaruh nyawa di medan laga. Peguyangan bukan sekadar nama administratif; ia adalah sebuah wilayah yang lahir dari perpaduan antara perlindungan spiritual, keteguhan hati para ksatria, dan legenda kuno yang tetap hidup di setiap jengkal tanahnya.
DENPASAR, Balipolitika.com- SEJARAH Kelurahan Peguyangan seperti membuka lembaran naskah kuno yang penuh warna. Salah satu versi populer menceritakan tentang gajah milik Kyai Panji Sakti yang sedang maguyang atau berguling-guling di wilayah ini. Tempat gajah tersebut berguling kemudian disebut sebagai Peguyangan. Namun, ada pula sisi spiritual yang menyebutkan bahwa nama ini berasal dari penggabungan kata Pageh (kukuh) dan Hyang (Tuhan/Tempat Suci), merujuk pada tanggung jawab warga untuk menjaga tempat suci secara konsisten.
Dibalik ketenangannya saat ini, sejarah Kelurahan Peguyangan mencatat narasi yang lebih heroik. Sebuah legenda menyebutkan nama ini berakar dari Pekubangan Warak yang berarti kubangan darah. Hal ini merujuk pada pertempuran hebat antara Kerajaan Badung dan Buleleng di area Blusung, di mana pengorbanan para prajurit membuat darah menggenangi tanah tersebut.
Semangat pantang menyerah ini terus berlanjut hingga tahun 1906, saat warga Peguyangan turut berdiri tegak di bawah panji Kerajaan Badung melawan penjajah Belanda. Puri Peguyangan pun didirikan sebagai pelindung dan pengatur otoritas adat bagi masyarakat yang rawan akibat peperangan panjang di masa itu.
Jejak Sang Mahapatih Kebo Iwa
Jika Anda berkunjung ke Pura Desa Peguyangan, Anda akan menemukan sebuah candi kecil yang dikenal sebagai Pacung Gumi atau Cakra Wiwa. Konon, mahakarya ini dibangun langsung oleh Mahapatih Kebo Iwa sebagai simbol kekuatan untuk menguasai dan melindungi wilayah. Keberadaan prasasti kuno di Pura Batan Celagi serta lempengan perunggu di Pura Batur Bantas menjadi bukti otentik bahwa peradaban di Peguyangan sudah eksis sejak abad ke-11.
Transformasi Menuju Administrasi Modern
Seiring pertumbuhan Denpasar, Desa Peguyangan mengalami pemekaran besar pada tahun 1979 berdasarkan SK Bupati Badung. Wilayah yang luas ini dibagi menjadi tiga: Kelurahan Peguyangan (induk), Desa Peguyangan Kaja, dan Desa Peguyangan Kangin. Statusnya sebagai kelurahan definitif kemudian dikukuhkan pada 1 Juni 1982 oleh Gubernur Bali.
Memahami sejarah Kelurahan Peguyangan menyadarkan kita bahwa modernitas di Denpasar Utara tidak menghapus jejak kaki para leluhur. Dari prasasti kuno hingga candi buatan Kebo Iwa, Peguyangan tetap menjadi wilayah yang pageh menjaga identitas budayanya. Bagi siapa pun yang berkunjung, Peguyangan menawarkan harmoni antara kemajuan kota dengan kedalaman sejarah yang tak lekang oleh zaman. (BP/CHA).













