BULELENG, Balipolitika.com– Tiga pelinggih mobil dijaga dan disakralkan masyarakat Desa Adat Sangket, Kelurahan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Pelinggih yang tergolong unik tersebut diyakini sebagai warisan spiritual leluhur yang memiliki peran dalam menjaga keamanan desa dan memberikan peringatan kepada masyarakat terhadap berbagai peristiwa yang akan terjadi.
Bendesa Adat Sangket, I Nyoman Thomas Dritawan (44 tahun) menjelaskan bahwa keberadaan ketiga pelinggih tersebut tidak terlepas dari sejarah Desa Sangket sebagai salah satu desa adat tua di wilayah Kecamatan Sukasada.
Menurutnya, nama Sangket memiliki makna janji atau komitmen masyarakat untuk menjunjung tinggi dan menjaga wilayah Buleleng yang kini dikenal sebagai Kota Singaraja.
“Sejak dahulu masyarakat Sangket memiliki semangat untuk menjaga dan mengabdi kepada Bumi Buleleng. Semangat itulah yang diwariskan oleh para leluhur hingga sekarang,” ujarnya.
Thomas menuturkan bahwa pembangunan pelinggih mobil berawal dari petunjuk spiritual yang diterima melalui seorang pasutri yang dipercaya masyarakat sebagai media penyampaian pesan secara niskala.
Berdasarkan petunjuk tersebut, masyarakat kemudian bergotong-royong membangun pelinggih sebagai simbol penjaga keamanan desa.
Pelinggih pertama dibangun pada tahun 2009 di Pura Mengening dan melambangkan batalyon atau pasukan yang bertugas menjaga Desa Adat Sangket.
Pelinggih kedua berada di Pura Desa yang dipercaya sebagai simbol mobil komando, sedangkan pelinggih ketiga berada di Pura Dalem yang melambangkan kendaraan patroli.
Ketiga pelinggih tersebut diyakini memiliki fungsi sebagai penjaga keamanan desa.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, melalui media spiritual yang ada, warga sering memperoleh pesan atau peringatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai peristiwa yang berpotensi terjadi di masyarakat.
Salah satu peristiwa yang masih diingat warga adalah ketika masyarakat mendapat pesan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap wabah penyakit beberapa waktu sebelum pandemi Covid-19 meluas.
Saat itu, warga diminta melakukan bakti serta membuat sarana persembahan tertentu sebagai bentuk perlindungan secara spiritual.
“Dua minggu sebelum berbagai informasi terkait pandemi menyebar luas, masyarakat sudah lebih dahulu mendapat pesan untuk meningkatkan kewaspadaan. Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa keyakinan masyarakat terhadap keberadaan pelinggih ini masih sangat kuat,” jelasnya.
Keberadaan ketiga pelinggih tersebut tetap dipertahankan hingga saat ini karena masyarakat meyakini bahwa pelinggih tersebut menjaga marwah dan keamanan Desa Adat Sangket.
Perawatan dilakukan secara bersama-sama oleh desa adat dan seluruh krama desa melalui kegiatan gotong- royong serta dana punia yang diberikan secara sukarela oleh masyarakat.
Selain dirawat secara fisik, kesakralan pelinggih juga dijaga melalui pelaksanaan upacara dan piodalan secara rutin.
Dalam setiap piodalan, masyarakat meyakini adanya kehadiran kekuatan spiritual yang ditandai dengan berbagai atraksi seperti menginjak api maupun penggunaan senjata tradisional sebagai bagian dari prosesi keagamaan.
Bagi masyarakat Desa Adat Sangket, tiga pelinggih mobil bukan sekadar bangunan suci, melainkan simbol perjuangan, pengabdian, dan perlindungan yang diwariskan oleh leluhur.
Karena itu, keberadaannya terus dijaga sebagai bagian dari identitas budaya dan keyakinan masyarakat setempat. (bp/Putu Sri Ayu Septyani/4B/Basindo/Undiksha)













