BULELENG, Balipolitika.com– Tradisi sakral dijaga kuat oleh masyarakat Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, salah satunya melalui pementasan Tari Ngider Gita.
Tarian ini menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara keagamaan yang dilaksanakan di Pura Puseh Pemulungan, Desa Adat Kedis.
Ketua Adat Desa Kedis, Jro Gede Suyasa menjelaskan bahwa Tari Ngider Gita merupakan tarian sakral yang dipentaskan untuk mengiringi Upacara Rsi Bojana atau tata linggih.
Upacara tersebut merupakan salah satu dari rangkaian Ngusaba Agung yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali saat nuju purnamaning sasih kapat di Pura Puseh Pemulungan, Desa Kedis.
“Tarian ini mengiringi Upacara Rsi Bojana, yaitu upacara pemberian hidangan suci serta sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih kepada para jro mangku yang telah menyelesaikan pelaksanaan Ngusaba Agung dari awal hingga akhir,” ujarnya.
Tari Ngider Gita dipentaskan pada hari terakhir pelaksanaan Ngusaba Agung sebagai simbol penutup seluruh rangkaian upacara.
Melalui tarian ini, masyarakat secara simbolis menyampaikan ungkapan terima kasih kepada para jro mangku yang telah membantu dalam Ngusaba Agung yang dilaksanakan.
“Artinya setelah semua serangkaian kegiatan ngusaba, kita mengucapkan terima kasih kepada para jro mangku,” tegas Jro Gede Suyasa.
Tarian ini dibawakan oleh delapan penari laki-laki yang telah menek bajang atau menginjak usia dewasa.
Para penari dipilih melalui seleksi oleh Panitia Ngusaba Agung, khususnya seksi kesenian.
Penari dipilih dari perwakilan masing-masing dadia dan menariknya penari berasal dari mereka yang sebelumnya telah mengikuti tari rejang keraman sebagai tanda telah menek bajang atau menginjak dewasa.
Dalam pementasannya, para penari membawa klakat yang berisi persembahan seperti kue, buah-buahan, serta minuman seperti arak dan tuak berem.
Persembahan tersebut ditujukan kepada jro mangku sebagai bagian dari ritual penghormatan dan wujud terima kasih.
“Karena membawa klakat, makanya tarian ini ditarikan oleh laki-laki. Klakatnya itu yang berat,” jelas Jro Gede Suyasa.
Selain itu, Tari Ngider Gita diiringi oleh gamelan yang dimainkan oleh seka gong setempat, serta menggunakan kostum yang menyerupai kostum Tari Baris.
Menurut Jro Gede Suyasa para penari biasanya hanya membutuhkan waktu latihan dua sampai tiga malam saja sebelum Ngusaba Agung dilaksanakan karena sudah ditarikan oleh penari aktif dan gerakannya yang memang tidak terlalu sulit, hanya butuh penyeragaman gerak.
Jro Gede Suyasa menambahkan keberadaan tari ini telah diwariskan secara turun-temurun dan tidak diketahui secara pasti sejak kapan pertama kali ada.
“Sejak kapan tepatnya tidak tahu, karena memang sudah ada sejak lama, dan kita hanya sebagai pewaris. Bahkan orang yang paling tua di desa sudah diwarisi. Jadi tidak tahu sejak kapan ada,” jelasnya.
Namun demikian, masyarakat setempat meyakini bahwa Tari Ngider Gita merupakan warisan leluhur yang wajib dilestarikan.
“Tarian ini tidak boleh tidak dilaksanakan. Sejak dulu hingga sekarang selalu dipentaskan. Bahkan dalam kondisi hujan sekalipun,” tegasnya.
Ia menambahkan, jika hujan turun sebelum pementasan dimulai, maka pelaksanaan dapat ditunda untuk menunggu hujan reda.
Namun, jika hujan turun saat tarian sedang berlangsung, maka pementasan tetap harus dilanjutkan hingga selesai sebagai bentuk komitmen terhadap tradisi.
Keberlangsungan Tari Ngider Gita ini menjadi wujud nyata rasa terima kasih dan penghormatan masyarakat Desa Kedis kepada jro mangku setempat serta menjadi bukti bahwa nilai spiritual dan kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. (bp/Putu Ayu Cantika Dewi/4A/Basindo/Undiksha)













