BULELENG, Balipolitika.com– Berdiri sejak akhir November 2013, Kem Bengkala di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng menjadi wadah inklusif bagi pemberdayaan masyarakat difabel, khususnya warga tuli-bisu yang akrab disapa warga kolok.
Program ini awalnya diinisiasi oleh lembaga Plitmas Indonesia yang salah satu anggotanya merupakan dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Profesor Ide Bagus Mardana.
KEM ini dibentuk dengan misi kemanusiaan yang kuat, yaitu memberdayakan masyarakat difabel agar mampu mandiri.
Pengelola KEM Bengkala sekaligus Ketua Paguyuban, Ketut Kanta menuturkan bahwa sistem yang diterapkan di KEM Bengkala adalah sistem inklusif.
`Artinya, tempat ini terbuka bagi siapa saja, baik warga normal maupun warga kolok.
Namun, karena keunikan dan potensi warga kolok yang dinilai menarik, fokus pemberdayaan lebih banyak diarahkan kepada mereka.
Sejak awal berdiri, berbagai proyek mulai dari pertanian, peternakan sapi, ayam, babi, hingga kerajinan tenun telah dijalankan.
“Kalau yang orang kolok, kemampuan yang bisa dikerjakan kan banyak, baik itu laki-laki maupun perempuan. Proyeknya dulu sudah jalan seperti proyek sapi, proyek ayam, proyek babi. Kemudian pertanian, sedangkan beberapa pilihan lain salah satunya menenun. Dan sampai saat ini, astungkara tenun itu berjalan dengan baik,” ujar Ketut Kanta ditemui langsung di lokasi.
Saat ini, proyek tenun menjadi salah satu program yang paling konsisten berkembang.
Kegiatan menenun ini digerakkan oleh empat orang wanita tangguh warga kolok, di antaranya Kolok Budewati, Kolok Sukerti, Kolok Astari, dan Kolok Pindu.
Berdasarkan data catatan kantor desa terbaru, jumlah warga Kolok di Desa Bengkala kini tercatat sebanyak 38 orang, menyusut dari yang mulanya 44 orang pada tahun 2013 lalu karena faktor usia dan meninggal dunia.
Dalam perjalanannya, tentu bukan hal mudah untuk mendampingi warga difabel.
Ketut Kanta menjelaskan kunci utama dari keberhasilan pendampingan ini adalah penguasaan bahasa isyarat lokal yang dikenal dengan nama “Kata Kolok”.
Sebagai ketua paguyuban yang memahami penuh bahasa isyarat tersebut, ia menjembatani komunikasi program pemerintah atau yayasan agar bisa ditangkap dengan baik oleh warga kolok.
Menghadapi tantangan di lapangan, terutama ketika mood atau suasana hati warga kolok sedang tidak menentu, Ketut Kanta memiliki trik tersendiri.
Ia menekankan pentingnya menjaga ekspresi wajah agar tetap positif dan menyenangkan.
“Trik untuk menjinakkan atau menghibur istilahnya orang tuli-bisu, ya, kita jangan sampai memunculkan ekspresi wajah yang jelek. Artinya agak nyureng (cemberut) dan sebagainya. Kita berusaha bagaimana agar kita itu tetap gembira, sehingga otomatis mereka akan lebih mau menuruti,” ungkapnya sembari tersenyum.
Manfaat program ini pun dirasakan sangat luar biasa di mana warga kolok perempuan yang dulunya tidak bisa menenun, kini mahir menciptakan kain tenun bahkan membuat motif sendiri.
Minat dari para pemerhati sosial hingga wisatawan mancanegara (bule) yang berkunjung pun turut membantu mempromosikan produk lokal ini.
Ketut Kanta berharap, ke depan, kontinuitas produksi kain tenun ini dapat terus terjaga dan sistem penjualannya semakin berjalan dengan lancar demi masa depan warga kolok Desa Bengkala. (bp/Ni Made Widian Dipia/4B/Basindo/Undiksha)










