BULELENG, Balipolitika.com– Aktivitas perkualihan di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (FBS Undiksha) tak hanya menghidupi lingkungan kampus, melainkan juga para pedagang di sekitar Jalan Tasbih, Kelurahan Kaliuntu, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali.
Meskipun sama-sama mengandalkan mahasiswa sebagai pelanggan utama, tidak semua pedagang memperoleh pendapatan yang sama.
Salah satunya adalah Bu Kadek, pedagang jajanan tradisional Bali yang telah berjualan selama satu tahun di kawasan tersebut.
Berbagai menu seperti tipat cantok, tipat kuah, tipat plecing, rujak, gorengan, es cendol, dan es daluman menjadi andalan untuk menarik pembeli.
Bu Kadek mengaku memperoleh omzet rata-rata sekitar Rp400 ribu per hari.
Menurutnya, waktu penjualan paling ramai terjadi pada pukul 09.00 hingga 14.00 Wita, saat mahasiswa beristirahat dan mencari makan siang.
’’Kalau mereka pada libur panjang, pendapatan juga ikut berkurang. Jadi berpengaruh banget karena sehari-hari pembeli ibu kebanyakan mahasiswa,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis, 4 Juni 2026.
Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di Warung Bunli yang baru beroperasi selama delapan hari.
Meskipun tergolong usaha baru, warung yang menjual risol, nasi tempong, dimsum, dan nasi betutu tersebut mampu memperoleh omzet rata-rata sekitar Rp700 ribu per hari.
Pemilik Warung Bunli mengatakan bahwa waktu paling ramai terjadi pada pukul 11.00 hingga 14.00 Wita, bertepatan dengan jam istirahat dan makan siang mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa menjadi pelanggan utama yang berkontribusi terhadap pendapatan harian warung.
”Mayoritas pembelinya mahasiswa sekitar jam makan siang, kalau sore ke malam bapak-bapak yang pulang kerja,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas mahasiswa memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan usaha para pedagang di sekitar kampus.
Selain mahasiswa, pekerja yang melintas di kawasan Jalan Tasbih juga turut menjadi pelanggan, terutama pada sore hingga malam hari.
Perbedaan omzet antara kedua pedagang menunjukkan bahwa jenis dagangan dan minat konsumen serta durasi berjualan turut memengaruhi tingkat penjualan.
Warung Bunli yang menawarkan variasi makanan siap santap memperoleh omzet lebih tinggi dibandingkan Bu Kadek yang menjual jajanan tradisional Bali yang hanya berjualan dari pagi hingga sore hari.
Meskipun demikian, kedua pedagang tersebut sepakat bahwa mahasiswa sangat berpengaruh terhadap usaha mereka.
Saat perkuliahan berlansung omzet yang diperoleh stabil, sebaliknya jika mahasiswa sedang memasuki masa libur omzet mereka cenderung merosot karena berkurangnya pelanggan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kawasan Jalan Tasbih tidak hanya menjadi jalur aktivitas mahasiswa, tetapi juga ruang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Kehadiran mahasiswa setiap hari memberikan peluang bagi para pedagang untuk memperoleh penghasilan dan mempertahankan usaha mereka di tengah persaingan usaha yang terus berkembang. (bp/Ketut Rismayasih/4B/Basindo/Undiksha)













